BANDA ACEH, FR – Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 di Banda Aceh berlangsung aman, lancar, dan kondusif. Kegiatan yang dihadiri ulama dari 13 negara tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan umat Islam serta menjaga perdamaian di Aceh, Indonesia, dan dunia internasional.
Staf Khusus Gubernur Aceh, Faisal Rizal Hasan, yang juga bertindak sebagai koordinator kegiatan, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan muzakarah yang berlangsung selama dua hari dua malam tersebut.
“Alhamdulillah, Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II berjalan lancar, aman, damai, dan sangat kondusif. Kami bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik,” kata Faisal, Minggu (11/10/2026).
Muzakarah tahun ini mengusung tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat.” Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi dan pertemuan para ulama dari berbagai negara untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membangun kehidupan umat yang harmonis.
Faisal menyampaikan terima kasih kepada para ulama mancanegara dan seluruh peserta dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, serta negara-negara lainnya yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran acara, terutama unsur pengamanan dari Polda Aceh, Kodam Iskandar Muda, BIN, Bais, Satpol PP, panitia pelaksana, serta seluruh jajaran terkait.
Menurut Faisal, keberhasilan penyelenggaraan muzakarah tersebut merupakan hasil kerja sama dan dukungan berbagai pihak yang berkomitmen menjaga keamanan, ketertiban, serta suasana damai selama kegiatan berlangsung.
Faisal Ajak Ulama Jadi Perekat Umat
Lebih lanjut, Faisal berharap muzakarah internasional ini tidak hanya menjadi pertemuan keulamaan, tetapi juga menghasilkan semangat baru untuk merawat persatuan dan mencegah perpecahan di tengah umat Islam.
Ia mengingatkan bahwa perbedaan pandangan, baik di kalangan ulama maupun masyarakat, hendaknya disikapi dengan bijaksana melalui dialog, musyawarah, dan sikap saling menghormati.
Faisal juga berharap Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dapat terus menjalankan peran strategis sebagai penengah dan perekat umat sehingga perbedaan tidak berkembang menjadi perselisihan berkepanjangan.
“Kita berharap tidak ada lagi perselisihan di antara sesama, baik di kalangan ulama maupun di tengah masyarakat. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan umat Islam demi keutuhan umat, baik di Aceh, tingkat nasional, maupun internasional,” ujarnya.
Menurut Faisal, persatuan umat merupakan modal penting dalam menjaga kehidupan beragama yang damai. Karena itu, para ulama diharapkan terus memberikan teladan, membangun kesejukan, dan mengedepankan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Aceh Punya Sejarah Besar dalam Peradaban Islam
Faisal menegaskan, Aceh memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara. Tradisi keilmuan Islam yang tumbuh di Aceh telah melahirkan banyak ulama yang menjadi rujukan dan panutan masyarakat.
Ia menyebut sejumlah ulama yang memiliki tempat penting dalam sejarah keislaman Aceh, di antaranya Syekh Abdurrauf As-Singkili, Tgk Syik Tanoh Abee, Tgk Syik di Tiro, dan Abuya Muda Waly Al-Khalidy, serta para ulama yang masih aktif membimbing umat hingga saat ini.
Warisan keilmuan dan keteladanan para ulama tersebut, kata Faisal, harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Nilai-nilai itu juga perlu menjadi landasan untuk memperkuat persaudaraan, menjaga kerukunan, serta membangun kehidupan masyarakat yang damai.
Ia menilai, penyelenggaraan muzakarah internasional di Aceh menjadi kebanggaan tersendiri karena mempertemukan para ulama dari berbagai negara dalam suasana penuh kekhidmatan.
Apresiasi Penyelenggaraan Muzakarah di Aceh
Faisal turut mengapresiasi MPTTI sebagai penyelenggara kegiatan yang telah bekerja sama dengan berbagai pihak sehingga Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 dapat terlaksana dengan baik.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat berkelanjutan, bukan hanya bagi Aceh, tetapi juga bagi umat Islam secara lebih luas, terutama dalam membangun komunikasi ant ulama dan memperkuat komitmen terhadap perdamaian.
“Alhamdulillah, kita sangat bersyukur dan bangga karena muzakarah internasional ini dapat terlaksana di Aceh dengan aman, damai, dan khidmat. Semoga semangat persatuan yang terbangun melalui kegiatan ini terus terjaga dan membawa manfaat bagi umat Islam di seluruh dunia,” tutup Faisal. (FDTU)







