Forumrakyat.co.id | Banda Aceh– Pelaksanaan Muzakarah Internasional Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTTI) di bawah bimbingan Abuya Amran Wali Al-Khalidi di Banda Aceh dinilai membawa dampak positif bagi masyarakat, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun ekonomi.
Kehadiran puluhan ribu jamaah yang memadati Kota Banda Aceh tidak hanya menjadi momentum untuk memperdalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memberikan berkah bagi para pedagang dan pelaku usaha kecil yang turut merasakan peningkatan aktivitas ekonomi selama kegiatan berlangsung.
Lebih dari itu, muzakarah internasional yang diikuti peserta dari 21 negara tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan Aceh kepada dunia internasional. Aceh yang selama ini kerap dipersepsikan sebagai daerah dengan berbagai persoalan masa lalu, melalui kegiatan ini memiliki peluang untuk menunjukkan wajah yang damai, religius, terbuka, serta kaya akan nilai-nilai spiritual dan budaya.
Apabila suasana damai dan kerukunan terus terpelihara, bukan tidak mungkin Aceh ke depan semakin berkembang sebagai salah satu destinasi wisata religi dan tujuan kunjungan masyarakat internasional.
Namun demikian, di tengah manfaat yang dirasakan, masih terdapat sebagian masyarakat yang menyampaikan kritik dan mempertanyakan ajaran yang disampaikan dalam kegiatan MPTTI. Bahkan, muncul tudingan bahwa ajaran tersebut sesat. Perbedaan pandangan keagamaan seperti ini tentu perlu disikapi secara bijaksana, dengan mengedepankan ilmu, tabayun, dan dialog yang terbuka.
Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kemurnian akidah sekaligus memelihara persaudaraan sesama muslim. Apabila terdapat ajaran atau ungkapan yang dianggap menimbulkan kesalahpahaman, langkah terbaik bukanlah memperbesar tuduhan, melainkan memberikan ruang untuk klarifikasi dan penjelasan secara langsung dari pihak yang bersangkutan.
Terkait tudingan bahwa Abuya Amran Wali Al-Khalidi mengajarkan bahwa Nabi Muhammad adalah Allah, perlu dilakukan klarifikasi secara terbuka berdasarkan penjelasan langsung, konteks ceramah, dan sumber ajaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai tuduhan yang belum dipahami secara utuh berkembang menjadi fitnah dan memperlebar jurang perpecahan di tengah umat Islam.
Dialog dan tabayun merupakan jalan yang lebih bijaksana daripada saling menuduh. Perbedaan pemahaman keagamaan seharusnya menjadi alasan untuk memperdalam ilmu, bukan menjadi pemicu permusuhan.
Sebagai pengurus organisasi Macan Asia Indonesia, saya berharap para pemimpin Aceh, khususnya Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sesuai kewenangannya, dapat mengambil peran aktif dalam mencari solusi atas persoalan ini.
Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan ialah mengadakan forum muzakarah atau dialog terbuka dengan menghadirkan Abuya Amran Wali Al-Khalidi bersama para ulama, MPU, MUI, serta tokoh agama yang memiliki pandangan berbeda. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mendengarkan penjelasan, mengkaji ajaran berdasarkan dalil dan kaidah keilmuan Islam, serta mencari titik temu demi menjaga ketenteraman masyarakat.
Kita tentu tidak menginginkan perbedaan pemahaman keagamaan berkembang menjadi pertikaian berkepanjangan. Sebaliknya, Aceh harus menjadi contoh daerah yang mampu menyelesaikan persoalan umat melalui musyawarah, ilmu pengetahuan, dan kebijaksanaan para ulama.
Para pemimpin dan lembaga keagamaan hendaknya hadir sebagai penyejuk, pemberi penjelasan, serta penjaga kerukunan. Setiap persoalan yang menyangkut akidah perlu ditangani secara serius dan proporsional, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip syariat maupun keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Jangan sampai kesalahpahaman yang tidak diselesaikan dengan baik dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam. Karena itu, kewaspadaan harus dibarengi dengan sikap kritis, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Aceh membutuhkan persatuan, bukan perpecahan. Aceh membutuhkan dialog, bukan saling menjatuhkan. Dan Aceh membutuhkan ulama serta pemimpin yang mampu menghadirkan kesejukan di tengah perbedaan.
Harapan kita bersama, melalui musyawarah yang jujur, terbuka, dan berlandaskan ilmu, setiap kesalahpahaman dapat diluruskan dengan baik. Dengan demikian, umat Islam di Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya dapat terus menjaga ukhuwah Islamiyah, memperkuat keimanan, serta membangun kehidupan masyarakat yang damai dan bermartabat.
Semoga muzakarah internasional ini tidak hanya membawa manfaat spiritual dan ekonomi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat citra positif Aceh, dan menjadikan Serambi Mekkah sebagai teladan dalam menyelesaikan perbedaan secara arif dan bijaksana.
Zaini Dahlan






