SABANG, FR – Bunda PAUD Kota Sabang, Nuri Farisal, bersama Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, mengunjungi Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Sabang untuk melihat langsung aktivitas pembelajaran sekaligus menyerap aspirasi tenaga pendidik terkait kebutuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Kunjungan yang berlangsung pada Jumat (30/10) tersebut menjadi bentuk perhatian Pemerintah Kota Sabang terhadap pemenuhan hak pendidikan yang layak, aman, dan inklusif bagi seluruh anak.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh kepala sekolah, para guru, serta siswa. Dalam kesempatan itu, para siswa menunjukkan berbagai kemampuan mereka, mulai dari hafalan ayat-ayat pendek, karya seni, hingga hasil pembelajaran di sekolah.
Turut mendampingi kunjungan tersebut Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sabang serta pengurus Kelompok Kerja (Pokja) PAUD.
Nuri Farisal menyampaikan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas, termasuk anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perhatian dan pendampingan sesuai dengan kondisi masing-masing.
“Pendidikan inklusif bukan hanya tentang menyediakan tempat belajar, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang ramah dan mampu mendukung setiap anak untuk berkembang. Anak-anak di SLB ini memiliki bakat dan keunikan masing-masing. Karena itu, kita perlu memberikan pendampingan serta kesempatan yang sama agar potensi mereka dapat terus tumbuh,” ujar Nuri.
Selain berinteraksi dan membagikan bingkisan kepada para siswa, Bunda PAUD juga berdialog dengan jajaran guru untuk mengetahui berbagai kebutuhan, terutama terkait sarana dan prasarana serta tenaga pendamping dalam proses pembelajaran.
Dalam dialog tersebut, Nuri turut memberikan apresiasi kepada para tenaga pendidik yang selama ini telah menunjukkan dedikasi dan kesabaran dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Menurutnya, mendidik anak berkebutuhan khusus membutuhkan keahlian, perhatian, dan kesabaran ekstra agar setiap siswa dapat berkembang sesuai potensi dan kemampuannya.
“Saya sangat mengapresiasi dedikasi dan kesabaran para guru dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Tentu, tugas ini membutuhkan keahlian, perhatian, dan kesabaran ekstra agar setiap anak dapat belajar dan berkembang sesuai kemampuannya,” ungkapnya.
Nuri juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan guru pendamping. Ia menyebutkan, idealnya dalam kurikulum SLB, lima siswa didampingi satu orang guru. Sementara bagi siswa dengan kategori autisme, diperlukan pendampingan satu guru untuk satu siswa.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, SLB jenjang sekolah dasar di Kota Sabang saat ini memiliki 30 siswa yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI. Dari jumlah tersebut, tujuh siswa merupakan anak dengan kategori autisme.
Sementara itu, jumlah tenaga pendidik yang bertugas di sekolah tersebut sebanyak 13 guru dan didukung dua tenaga pendidik lainnya.
Melalui kunjungan ini, Pemerintah Kota Sabang bersama Pokja PAUD berupaya memperkuat sinergi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Diharapkan, perhatian terhadap kebutuhan tenaga pendidik, sarana dan prasarana, serta sistem pendampingan dapat terus ditingkatkan guna mewujudkan layanan pendidikan yang setara, ramah anak, dan inklusif di Kota Sabang. []







