Maulid Aceh Timur: Tradisi Penuh Berkah yang Menyatukan Warga dalam Kebersamaan

oleh
oleh

 

Aceh Timur, FR – Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, suasana gampong di Aceh Timur berubah menjadi lebih hidup. Tradisi Maulid Nabi tidak hanya menjadi peringatan kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga ritual budaya yang memperkuat silaturahmi, gotong royong, dan rasa kebersamaan masyarakat.

Maulid di Aceh Timur biasanya digelar secara meriah di meunasah atau masjid desa. Hidangan khas seperti kuah beulangong, kari ayam, sie reuboh, serta puluhan dulang makanan dihidangkan untuk seluruh tamu dan warga. Setiap keluarga turut membawa makanan terbaik sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur.

Menurut Samsul Bahri, warga Desa Alue Lhok, Maulid bukan sekadar acara seremonial.
“Maulid bagi kami adalah momen terbesar setiap tahun. Semua warga terlibat, mulai dari persiapan memasak hingga menjamu tamu. Suasananya hangat, penuh persaudaraan,” ujarnya.

Samsul menambahkan bahwa tradisi ini juga menjadi media pendidikan untuk anak muda agar mencintai nilai keislaman dan budaya Aceh.
“Anak-anak kami kami libatkan agar mereka tahu cara memuliakan tamu dan memahami sejarah Rasulullah. Ini warisan yang tidak boleh putus,” katanya.

Selain tausiah dan zikir maulid, sebagian gampong juga mengadakan peusijuek, pembacaan Dalael Khairat, dan pengajian khusus yang dipimpin para teungku. Tidak sedikit pula desa yang menjadikan Maulid sebagai ajang memperbaiki fasilitas masjid melalui sumbangan sukarela warga.

Tradisi Maulid yang berlangsung hingga beberapa minggu—karena gampong melaksanakan secara bergiliran—menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar daerah yang ingin merasakan hangatnya budaya Aceh Timur.

Dengan kekuatan nilai agama dan adat, perayaan Maulid di Aceh Timur tidak hanya menjadi peringatan spiritual, tetapi juga identitas budaya yang terus dijaga lintas generasi. (Adv)

No More Posts Available.

No more pages to load.