Seuneujoh: Tradisi Aceh yang Menjaga Martabat dan Keikhlasan dalam Takziah

oleh
oleh

Forumrakyat.co.id — Aceh memiliki banyak tradisi yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia, salah satunya adalah Khanduri Seuneujoh—sebuah kenduri adat yang digelar keluarga untuk menyambut tamu takziah serta menghantarkan doa bagi orang yang telah meninggal. Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk penghormatan terakhir dan pengikat solidaritas antarwarga.

Dalam tradisi Aceh, Khanduri Seuneujoh bukan sekadar jamuan makanan, melainkan simbol seumangat (keikhlasan), silaturrahmi, dan tanggung jawab adat keluarga kepada masyarakat sekitar. Kenduri ini biasanya digelar pada hari pertama hingga beberapa hari setelah jenazah dikebumikan, tergantung adat gampong.

Tokoh masyarakat Peureulak, Teungku Umar Daud (55), menjelaskan bahwa Khanduri Seuneujoh menjadi wujud penghormatan sekaligus doa bersama.

“Khanduri Seuneujoh itu tanda ikhlas keluarga. Kita menyambut orang yang datang memberi takziah, sambil sama-sama mendoakan almarhum. Ini sudah adat dari dulu,” ujarnya.

Dalam tradisi ini, masyarakat yang datang biasanya disambut dengan hidangan sederhana seperti kuah beulangong, bu kulah, atau masakan tradisional lainnya yang disiapkan secara gotong royong. Jamaah kemudian membaca doa dan tahlil bersama, memohonkan ampunan serta ketenangan bagi almarhum.

Bagi warga, Khanduri Seuneujoh memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Cut Mawar (34), warga Aceh Utara, menilai tradisi ini membuat keluarga yang ditinggalkan tidak merasa sendiri.

“Ketika ada Khanduri Seuneujoh, semua tetangga datang membantu. Ada yang masak, ada yang membaca doa. Suasananya terasa hangat meski sedang berduka,” katanya.

Kini, meski zaman berubah, Khanduri Seuneujoh tetap bertahan di banyak gampong sebagai simbol kepedulian dan persatuan. Tradisi ini bukan hanya ritual budaya, tetapi juga bentuk pelestarian nilai gotong royong dan kasih sayang dalam masyarakat Aceh. [Adv]

No More Posts Available.

No more pages to load.