“Dengan dibangunnya kembali Irigasi Lawe Harum, kami berharap pasokan air untuk persawahan dan kolam ikan masyarakat dapat terpenuhi.”
[Nurlela (48), Petani Desa Tading Niulihi].
- Irigasi Lawe Harum Jadi Tumpuan Ribuan Petani dan Pembudidaya Ikan di Aceh Tenggara
DI TENGAH hamparan sawah yang membentang di Kecamatan Deleng Pokhkisen dan Kecamatan Lawe Bulan, Kabupaten Aceh Tenggara, air menjadi penentu hidup dan mati sektor pertanian.
Ketika musim kemarau datang, saluran irigasi yang rusak membuat ribuan petani menghadapi ancaman gagal panen.
Bahkan, sebagian pembudidaya ikan air tawar terpaksa mengubah kolam mereka menjadi lahan persawahan akibat minimnya pasokan air.
Kini, harapan itu perlahan kembali tumbuh. Pembangunan dan rehabilitasi Irigasi Lawe Harum yang sedang berlangsung diharapkan mampu mengakhiri persoalan kekurangan air yang selama bertahun-tahun membayangi masyarakat di dua kecamatan tersebut.
Urat Nadi Pertanian Dua Kecamatan
SALURAN Irigasi Lawe Harum di Desa Lawe Harum, Kecamatan Deleng Pokhkisen, selama ini menjadi urat nadi pertanian masyarakat.
Saluran tersebut mengairi areal persawahan dan kolam ikan air tawar di Kecamatan Deleng Pokhkisen dan Kecamatan Lawe Bulan.
Total luas lahan sawah yang bergantung pada irigasi tersebut mencapai sekitar 1.050 hektare.
Selain mendukung produksi padi, keberadaan saluran air ini juga sangat penting bagi sektor perikanan air tawar yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat setempat.
Kabupaten Aceh Tenggara selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan air tawar di Aceh.
Namun, keterbatasan pasokan air dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan banyak kolam ikan tidak lagi produktif. Sebagian petani bahkan terpaksa mengalihfungsikan kolam menjadi sawah.
Akibatnya, produksi ikan air tawar di daerah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Harapan Petani
NURLELA (48), warga Desa Tading Niulihi, mengatakan kondisi irigasi yang rusak selama ini membuat petani hanya mampu menanam padi sekali dalam setahun.
Menurutnya, ketika musim kemarau tiba, sawah sering kali mengering sehingga meningkatkan risiko gagal panen.
“Dengan dibangunnya kembali Irigasi Lawe Harum, kami berharap pasokan air untuk persawahan dan kolam ikan masyarakat dapat terpenuhi,” kata Nurlela, akhir pekan lalu.
Ia menilai keberadaan irigasi yang berfungsi optimal akan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membantu pemulihan ekonomi masyarakat.
Tumpuan Ekonomi Masyarakat
BAGI warga, Irigasi Lawe Harum bukan sekadar saluran air. Infrastruktur tersebut menjadi penggerak roda ekonomi desa.
Ketika air tersedia secara cukup, hasil panen meningkat, aktivitas pertanian berjalan lancar, dan perputaran ekonomi masyarakat ikut tumbuh.
“Kalau air lancar, perputaran uang di desa juga meningkat. Gabah melimpah, buruh tani mendapat pekerjaan, kios pupuk ramai, dan usaha pakan ikan juga berjalan baik. Karena itu, irigasi ini sangat vital bagi masyarakat,” ujar salah seorang petani.
Harapan serupa disampaikan Samin, petani asal Desa Penampaan. Selama ini, kata dia, masyarakat harus bergotong royong memperbaiki saluran air secara swadaya menggunakan karung pasir dan batu setiap musim tanam.
“Kami sangat berharap pembangunan Irigasi Lawe Harum segera selesai sehingga air bisa mengalir sampai ke desa kami dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Proyek Strategis untuk Ketahanan Pangan
PEMBANGUNAN Irigasi Lawe Harum merupakan bagian dari proyek Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Utama Irigasi Kewenangan Daerah Provinsi Aceh Tahap II (Paket I).
Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan tersebut memiliki Nomor Kontrak PB.0201-BWS1.61/1704 dengan nilai kontrak sekitar Rp26,27 miliar yang mencakup pekerjaan pada tiga kabupaten di Provinsi Aceh.
Proyek tersebut didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.
Pelaksana pekerjaan adalah PT Hutama Karya (Persero), sementara pengawasan dilakukan oleh Agrinas Jaladri. Hingga kini, pekerjaan masih berlangsung.
Meski sempat menjadi perbincangan di kalangan aktivis dan masyarakat, keberadaan proyek tersebut pada dasarnya mendapat dukungan luas dari para petani dan pembudidaya ikan yang selama ini mengalami kesulitan memperoleh air.
Banyak warga mengaku bersyukur karena pembangunan irigasi tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang atas persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Dua Kecamatan Menunggu Air Mengalir
SIREGAR (50), warga Desa Lawe Harum, mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah atas pembangunan saluran irigasi tersebut.
“Terima kasih kepada Pemerintah Aceh yang telah membangun irigasi ini. Kami para petani sangat membutuhkan air untuk mengairi sawah,” ujar Siregar saat ditemui di areal persawahannya, Senin pekan lalu.
Menurutnya, manfaat pembangunan irigasi tidak hanya dirasakan masyarakat Desa Lawe Harum, tetapi juga petani di Kecamatan Deleng Pokhkisen dan Kecamatan Lawe Bulan.
Selama ini, kata dia, ratusan hektare sawah di kawasan tersebut kerap mengalami kekeringan akibat kerusakan saluran irigasi dan rendahnya debit air.
Kondisi itu membuat sebagian petani terpaksa membiarkan lahannya tidak ditanami atau mengalami gagal panen.
Sementara itu, sektor budidaya ikan air tawar juga terdampak karena banyak kolam kehilangan pasokan air yang memadai.
“Kalau irigasi lancar, petani bisa panen dua sampai tiga kali setahun. Hasil produksi meningkat dan ekonomi masyarakat pasti ikut terbantu,” kata Siregar.
Ia berharap pembangunan irigasi dapat segera dituntaskan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh petani sawah maupun pembudidaya ikan.
Selama ini, warga bahkan harus bergotong royong setiap bulan membangun bendungan darurat dari tumpukan batu di Sungai Lawe Harum agar air dapat dialirkan ke sawah dan kolam ikan.
“Kami rutin bergotong royong membuat bendungan secara manual menggunakan batu-batu sungai agar air bisa masuk ke sawah dan kolam. Mudah-mudahan setelah proyek ini selesai, kami tidak perlu lagi melakukan cara-cara darurat seperti itu,” harapnya.
Bagi masyarakat Deleng Pokhkisen dan Lawe Bulan, pembangunan Irigasi Lawe Harum bukan sekadar proyek infrastruktur.
Di balik beton dan saluran air yang dibangun, tersimpan harapan ribuan petani dan pembudidaya ikan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Ketika air kembali mengalir hingga ke petak-petak sawah dan kolam ikan, bukan hanya produksi pangan yang meningkat, tetapi juga denyut ekonomi desa yang selama ini bergantung pada sektor pertanian dan perikanan.
Karena itu, penyelesaian proyek ini menjadi harapan bersama agar ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Aceh Tenggara dapat terus terjaga. [].






