”Ketika bencana merobohkan bangunan, kepedulian manusia mampu membangunnya kembali menjadi lebih kuat.”
[Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H. Bupati Aceh Tamiang]
- Live Streaming 24 Jam Himpun Rp10,3 Miliar, Gotong Royong Digital Bangunkan Kembali Masa Depan Anak-Anak Aceh Tamiang
DI SUDUT Kampung Kota Lintang, Kecamatan Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang, suara tawa anak-anak kembali menggema. Beberapa bulan lalu, kawasan itu hanya menyisakan lumpur, puing bangunan, dan trauma akibat banjir bandang serta tanah longsor yang melanda akhir 2025.
Kini, di lokasi yang sama, berdiri kokoh sebuah bangunan sederhana namun sarat makna: Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Al-Ikhsan, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Sekolah Malaka.
Sekolah itu bukan sekadar gedung pendidikan. Ia menjadi simbol kemenangan solidaritas, gotong royong digital, dan harapan baru bagi generasi yang nyaris kehilangan ruang belajar akibat bencana.
RIUH TAWA anak-anak kembali memenuhi halaman Sekolah Malaka saat Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H., meresmikan penggunaan gedung MDTA Al-Ikhsan di Kampung Kota Lintang, Sabtu, 27 Juni 2026 lalu.
Peresmian berlangsung penuh kehangatan. Anak-anak mengenakan seragam baru. Ruang kelas telah dilengkapi meja, kursi, serta fasilitas belajar yang layak. Pemandangan itu menjadi kontras dengan kondisi beberapa bulan sebelumnya, ketika kawasan tersebut porak-poranda diterjang bencana hidrometeorologi.
Dalam sambutannya, Bupati Armia Pahmi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bergotong royong membangun kembali fasilitas pendidikan tersebut.
”Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang sangat mengapresiasi kepedulian luar biasa dari Yayasan Cakra Abhipraya Responsif di bawah pimpinan Saudara Putro Anugrah Lindu, serta aksi kemanusiaan yang digagas Saudara Ferry Irwandi melalui platform Kitabisa. Sinergi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi mampu mengembalikan harapan dan masa depan generasi penerus bangsa,” ujar Armia.
Menurut Bupati, pembangunan kembali fasilitas pendidikan pascabencana tidak hanya bermakna menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga memulihkan semangat belajar anak-anak yang sempat terhenti.
Ia berharap Sekolah Malaka menjadi simbol bangkitnya pendidikan keagamaan sekaligus pendidikan karakter di Aceh Tamiang.
Berawal dari Siaran Langsung 24 Jam
LAHIRNYA Sekolah Malaka merupakan kisah yang nyaris sulit dipercaya.
Bangunan itu berdiri berkat gerakan penggalangan dana digital yang diprakarsai kreator konten Ferry Irwandi melalui siaran langsung (live streaming) selama 24 jam di kanal YouTube miliknya.
Aksi tersebut mendapat respons luas dari masyarakat. Donasi berdatangan dari berbagai daerah, mulai dari nominal kecil hingga jutaan rupiah.
Dalam waktu singkat, penggalangan dana berhasil menghimpun sekitar Rp10,3 miliar.
Dana tersebut kemudian dikelola untuk membangun sejumlah fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana, termasuk MDTA Al-Ikhsan yang kini dikenal sebagai Sekolah Malaka.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 26 Januari 2026. Dengan dukungan Yayasan Cakra Abhipraya Responsif sebagai pelaksana di lapangan, pembangunan berlangsung relatif cepat hingga akhirnya dapat dimanfaatkan masyarakat.
Harapan Baru dari Ruang Kelas
BAGI anak-anak Kota Lintang, sekolah baru itu bukan hanya tempat belajar.
Gedung tersebut menjadi ruang untuk memulihkan rasa aman setelah mereka kehilangan rumah, ruang bermain, bahkan sekolah akibat banjir bandang.
Keceriaan para siswa saat memasuki ruang kelas baru menjadi pemandangan yang mengundang haru para tamu undangan.
Seragam baru, meja belajar yang rapi, serta ruang kelas yang nyaman menjadi awal baru bagi proses pendidikan mereka.
Melalui akun media sosialnya, Ferry Irwandi mengungkapkan rasa syukur atas selesainya pembangunan sekolah tersebut.
”Hari ini Sekolah Malaka di Aceh Tamiang sudah mulai beroperasi. Baju seragam sudah tersedia, begitu juga bangku dan meja. Senang sekali melihatnya. Belajar yang rajin ya, kawan-kawan muda,” tulis Ferry.
Unggahan tersebut mendapat respons positif dari warganet yang sejak awal mengikuti proses penggalangan dana hingga pembangunan sekolah.
Komitmen Sejak Masa Tanggap Darurat
KETUA Yayasan Cakra Abhipraya Responsif, Putro Anugrah Lindu, menjelaskan bahwa organisasinya telah hadir di Aceh Tamiang sejak masa tanggap darurat pascabencana.
Menurutnya, pembangunan Sekolah Malaka merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk membantu pemulihan sektor pendidikan.
Selain MDTA Al-Ikhsan, yayasan tersebut juga membangun dan merehabilitasi dua sekolah lainnya, yakni TK Islam Nashrullah dan SD Negeri Pantai Cempa.
Program tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan layanan pendidikan sekaligus mengembalikan kepercayaan diri anak-anak yang terdampak bencana.
Bagi Putro, pendidikan merupakan investasi kemanusiaan yang tidak boleh terhenti, sekalipun wilayah sedang dilanda musibah.
Kolaborasi Menjadi Kekuatan
PEMBANGUNAN Sekolah Malaka memperlihatkan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, komunitas digital, kreator konten, serta masyarakat luas mampu melahirkan solusi nyata bagi warga terdampak.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, kisah Sekolah Malaka menjadi contoh bahwa teknologi digital juga dapat menjadi jembatan solidaritas yang menghasilkan perubahan konkret.
Dari layar gawai masyarakat Indonesia, lahirlah sebuah sekolah yang kini menjadi tempat tumbuhnya harapan baru.
Sekolah Malaka Berdiri, Asa Pendidikan Masa Depan
BENCANA memang pernah merobohkan ruang belajar anak-anak Aceh Tamiang.
Namun, bencana tidak pernah mampu merobohkan kepedulian.
Sekolah Malaka kini berdiri sebagai pengingat bahwa setiap donasi, sekecil apa pun, dapat menjelma menjadi dinding sekolah, bangku belajar, dan senyum anak-anak yang kembali menatap masa depan.
Di atas tanah yang pernah dipenuhi lumpur, kini tumbuh harapan.
Dan dari sebuah siaran langsung selama 24 jam, lahirlah warisan kemanusiaan yang akan dikenang jauh lebih lama daripada bencana itu sendiri. [].






