“Manfaatnya sangat dirasakan masyarakat, terutama petani. Air lebih mudah mengalir ke persawahan dan hasil pertanian padi juga meningkat.”
[Saipudin. Kepala Dusun Gampong Julok Cut, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur)
- Rehabilitasi jaringan irigasi D.I. Julok Cut seluas 451 hektare menjadi penopang penting pertanian masyarakat Kecamatan Julok. Di balik aliran air yang menghidupi persawahan, terdapat proyek bernilai Rp80,56 miliar yang dikerjakan PT Hutama Karya (Persero), dengan pekerjaan di Gampong Ujong Tunong dilaksanakan PT Sejahtera Durung Mandiri sebagai subkontraktor.
BAGI petani di Julok Cut, air bukan sekadar aliran yang melewati saluran irigasi. Air adalah penentu kehidupan sawah.
Ketika air tersedia, tanah dapat diolah. Benih dapat ditanam. Tanaman padi tumbuh. Dan ketika musim panen tiba, hasilnya menjadi sumber penghidupan keluarga.
Karena itu, rehabilitasi jaringan irigasi Daerah Irigasi (D.I.) Julok Cut, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, memiliki arti penting bagi masyarakat.
Infrastruktur tersebut bukan hanya menyangkut pekerjaan konstruksi, tetapi juga berkaitan dengan produktivitas pertanian dan ekonomi masyarakat.
Saipudin, Kepala Dusun Gampong Julok Cut, mengatakan manfaat perbaikan jaringan irigasi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama para petani.
“Manfaatnya sangat dirasakan masyarakat, terutama petani. Air lebih mudah mengalir ke persawahan dan hasil pertanian padi juga meningkat,” kata Saipudin.
Menurut dia, membaiknya aliran air memberikan kemudahan bagi petani dalam mengatur masa tanam. Petani tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan sehingga pengelolaan sawah menjadi lebih terencana.
“Kalau air tersedia, petani lebih mudah mengatur masa tanam. Hasil pertanian juga menjadi lebih baik,” ujarnya.
451 Hektare yang Membutuhkan Air
BERDASARKAN data inventarisasi yang menjadi rujukan laporan ini, D.I. Julok Cut memiliki luas sekitar 451 hektare.
Areal tersebut menjadi bagian penting dari kawasan pertanian masyarakat Kecamatan Julok. Di atas lahan itu, ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya padi.
Manfaat irigasi kemudian bergerak dalam rantai yang lebih panjang. Ketika petani dapat menanam secara lebih teratur, kebutuhan tenaga kerja pertanian tetap tersedia. Saat panen berlangsung, gabah harus diangkut, dijual dan diolah.
Penggilingan memperoleh bahan baku, pedagang menjalankan aktivitas usaha, sementara pendapatan petani kembali berputar di tengah masyarakat.
Dengan demikian, saluran irigasi tidak hanya mengalirkan air ke sawah.
Ia ikut mengalirkan aktivitas ekonomi ke desa.
Di sinilah manfaat utama pembangunan tersebut terlihat: memperbaiki keandalan pengairan, mendukung produktivitas persawahan, serta membantu meningkatkan hasil pertanian masyarakat.
Rp80,56 Miliar di Balik Saluran
DI BALIK manfaat yang dirasakan petani terdapat proyek yang menggunakan anggaran negara.
Pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi tersebut dilaksanakan berdasarkan Kontrak Nomor PB 0201-Bws1.6.1/1064, dengan nilai kontrak sekitar Rp80,56 miliar.
Kontraktor utamanya adalah PT Hutama Karya (Persero). Sumber pendanaan berasal dari APBN Tahun Anggaran 2025, dengan masa pelaksanaan selama 110 hari kalender, terhitung sejak 25 Juni hingga 12 Oktober 2025.
Paket pekerjaan tersebut mencakup rehabilitasi jaringan irigasi di 11 kabupaten/kota di Aceh.
Dalam keterangan resminya, Hutama Karya menyebut pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi di Aceh merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian.
Lingkup pekerjaan antara lain mencakup normalisasi saluran, rehabilitasi bangunan struktur, dan penggantian pintu air yang rusak. Keterangan resmi PT Hutama Karya tentang rehabilitasi jaringan irigasi Aceh
Namun, nilai Rp80,56 miliar tersebut merupakan nilai kontrak paket secara keseluruhan, bukan nilai khusus pekerjaan di Julok Cut.
Pembedaan ini penting karena paket tersebut mencakup 11 kabupaten/kota. Nilai pekerjaan untuk satu lokasi harus dilihat berdasarkan rincian kontrak, daftar kuantitas dan harga, serta dokumen teknis proyek.
Ujong Tunong dan Subkontraktor
DI Kecamatan Julok, salah satu lokasi yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut berada di Gampong Ujong Tunong.
Berdasarkan data yang diperoleh, pekerjaan di lokasi tersebut dilaksanakan oleh PT Sejahtera Durung Mandiri sebagai subkontraktor dari PT Hutama Karya.
Kedua perusahaan memiliki posisi berbeda dalam struktur pekerjaan. PT Hutama Karya merupakan kontraktor utama berdasarkan kontrak dengan pemberi pekerjaan.
Sementara PT Sejahtera Durung Mandiri melaksanakan pekerjaan di lokasi Ujong Tunong sebagai subkontraktor berdasarkan hubungan kerja dengan kontraktor utama.
Pembedaan tersebut penting dalam pemberitaan agar publik mengetahui siapa pemegang kontrak utama dan siapa yang melaksanakan pekerjaan secara langsung di lapangan.
Petani Mengukur Pembangunan dari Air
BAGI Saipudin, berbagai angka dalam proyek tersebut pada akhirnya kembali kepada manfaat yang dirasakan masyarakat.
Petani tidak mengukur keberhasilan pembangunan dari nilai kontrak atau panjang dokumen pekerjaan.
Mereka mengukurnya dari air.
Apakah air sampai ke sawah?
Apakah tanaman tumbuh?
Apakah masa tanam lebih teratur?
Dan apakah hasil panen meningkat?
“Kami berterima kasih karena adanya perbaikan jaringan irigasi ini sangat membantu masyarakat, khususnya para petani. Air untuk persawahan menjadi lebih terbantu,” kata Saipudin.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur akan memiliki arti apabila hasilnya benar-benar sampai kepada penerima manfaat.
Bagi masyarakat Julok Cut, saluran yang berfungsi berarti sawah dapat dikelola. Sawah yang produktif berarti petani memiliki peluang memperoleh hasil yang lebih baik.
Anggaran dan Akuntabilitas
NILAI kontrak Rp80,56 miliar membuat proyek tersebut penting untuk dilihat bukan hanya dari sisi manfaat, tetapi juga dari sisi akuntabilitas.
Masyarakat berhak mengetahui apa yang dibangun menggunakan anggaran negara.
Berapa panjang saluran yang direhabilitasi? Berapa volume pekerjaan? Bagian jaringan mana yang diperbaiki? Apakah material dan dimensinya sesuai spesifikasi? Apakah pekerjaan selesai sesuai masa kontrak?
Pertanyaan tersebut bukan tuduhan.
Justru merupakan bagian dari pengawasan publik terhadap proyek yang dibiayai APBN.
Untuk pekerjaan khusus di Julok Cut dan Ujong Tunong, sejumlah data teknis masih perlu ditelusuri melalui dokumen kontrak dan dokumen pelaksanaan.
Di antaranya panjang saluran, nama PPK, konsultan pengawas, serta nilai pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT Sejahtera Durung Mandiri sebagai subkontraktor.
Data tersebut penting agar nilai kontrak dan keluaran fisik proyek dapat dibaca secara utuh.
Jangan Berhenti pada Pekerjaan
SAIPUDIN berharap manfaat jaringan irigasi tidak berhenti setelah pekerjaan konstruksi selesai.
“Harapan kami, saluran ini terus dijaga dan dirawat. Jangan sampai setelah diperbaiki kemudian rusak lagi. Manfaatnya sangat besar bagi petani,” ujarnya.
Harapan itu menjadi penting karena rehabilitasi bukan akhir dari pengelolaan jaringan irigasi.
Saluran tetap membutuhkan pemeliharaan. Bangunan air harus dijaga. Sedimentasi perlu dikendalikan. Pintu air harus berfungsi dan distribusi air harus dikelola.
Tanpa pemeliharaan, jaringan yang telah diperbaiki dapat kembali mengalami kerusakan.
Karena itu, keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari selesainya pekerjaan secara administratif. Ukuran yang lebih penting adalah apakah jaringan tetap berfungsi dan memberikan manfaat pada musim tanam berikutnya.
Air yang Mengalir, Harapan yang Tumbuh
DI JULOK Cut, pembangunan memiliki ukuran yang sederhana.
Air.
Ketika air mengalir, petani dapat bekerja. Ketika sawah mendapatkan pasokan, padi dapat tumbuh. Ketika padi dipanen, keluarga memperoleh penghasilan.
Di balik aliran itu terdapat kontrak Rp80,56 miliar, Nomor PB 0201-Bws1.6.1/1064, yang dikerjakan PT Hutama Karya (Persero) dengan sumber dana APBN Tahun Anggaran 2025. Pekerjaan berlangsung selama 110 hari kalender, dari 25 Juni hingga 12 Oktober 2025, dengan cakupan 11 kabupaten/kota di Aceh.
Di Gampong Ujong Tunong, pekerjaan dilaksanakan oleh PT Sejahtera Durung Mandiri sebagai subkontraktor.
Namun bagi masyarakat, semua angka itu pada akhirnya kembali kepada satu kebutuhan [air yang sampai ke sawah].
D.I. Julok Cut dengan luas sekitar 451 hektare bukan hanya angka dalam data.
Di dalamnya terdapat lahan pertanian, tanaman padi, tenaga petani, musim tanam, musim panen, serta kehidupan keluarga yang bergantung pada hasil pertanian.
Saipudin melihat manfaat itu dari dekat.
Ia mengatakan aliran air menjadi lebih baik dan hasil pertanian padi meningkat.
Karena itu, pembangunan tidak berhenti pada beton yang selesai dikerjakan atau kontrak yang berakhir.
Pembangunan baru benar-benar menemukan maknanya ketika air mengalir, sawah produktif, hasil panen meningkat, dan petani merasakan manfaatnya.
Air mengalir. Padi tumbuh. Petani bekerja. Ekonomi bergerak. Di situlah pembangunan menemukan arti sebenarnya.[]






