BANDA ACEH, FR – Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh, Muktarrudin Usman, mengupas pentingnya manajemen profesional dalam pengelolaan perusahaan pers di era digital saat memberikan materi dalam pelatihan jurnalistik Pers Siber Indonesia (PSI) Aceh di Aula BPSDM Aceh, Rabu (21/10/2026).
Pelatihan bertema “Penguatan Kapasitas Jurnalistik dalam Menghadapi Tantangan Informasi Digital” tersebut berlangsung sehari penuh dan diikuti 30 peserta dari kalangan jurnalis hingga mahasiswa.
Muktarrudin menjelaskan, manajemen pers tidak hanya menyangkut produksi berita, tetapi juga perencanaan usaha, pembagian tugas, pengelolaan sumber daya manusia, pendapatan, dan pengawasan agar perusahaan dapat berjalan profesional dan berkelanjutan.
Ia memaparkan konsep POAC, yakni *Planning* (perencanaan), *Organizing* (pengorganisasian), *Actuating* (pelaksanaan), dan *Controlling* (pengawasan), sebagai dasar pengelolaan organisasi pers.
“Perusahaan pers harus dikelola dengan perencanaan yang jelas, pembagian tugas yang terukur, pelaksanaan yang disiplin, serta pengawasan berkelanjutan. Semua bagian harus bekerja sama dan saling mendukung agar perusahaan dapat berkembang,” ujarnya.
Menurut Muktarrudin, pimpinan perusahaan, redaksi, wartawan, pemasaran, administrasi, dan keuangan harus menjalankan fungsi masing-masing secara terkoordinasi. Legalitas badan hukum serta pengelolaan pendapatan yang transparan juga penting untuk menjaga keberlangsungan perusahaan dan kesejahteraan pekerja.
Namun, ia mengingatkan bahwa kepentingan bisnis tidak boleh mengintervensi independensi redaksi dan tanggung jawab wartawan dalam menghasilkan berita yang akurat serta berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik.
Pelatihan tersebut dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, T. Robby Irza, yang membacakan sambutan Gubernur Aceh. Sejumlah pemateri lainnya adalah Sekretaris PWI Aceh Muhammad Zairin, S.H., praktisi hukum Muhammad Zubir, S.H., M.H., dan Ketua Baitul Mal Aceh Tgk. M. Yunus.
Pada sesi terakhir, Muktarrudin mengajak peserta mempraktikkan penulisan berita sekaligus mengingat kembali materi yang telah diberikan para pemateri sebelumnya.
Menjelang penutupan, suasana pelatihan semakin meriah. Sejumlah kelakar dan taktik penyampaian materi Muktarrudin mengundang tawa peserta sehingga rasa lelah setelah mengikuti kegiatan seharian seolah hilang.
Ketua PSI Aceh, Tgk. Anwar Rabo, mengapresiasi metode tersebut.
“Memang harus begitu, jangan menoton,” puji Anwar, menegaskan pentingnya keterlibatan aktif peserta dalam pelatihan jurnalistik. (R/M)






