Forumrakyat.co.id – Siang itu, dari sebuah rumah kayu di Desa Paya Teungoh, Kecamatan Simpang Keramat, Aceh Utara, terdengar alunan lembut instrumen tradisional yang seakan menyatu dengan hembusan angin.
Bunyi merdu itu berasal dari Canang Ceureukeh, alat musik pukul khas Aceh yang kini semakin jarang ditemukan. Suaranya yang sayup namun berkarakter membuat siapa pun merasa seolah ditarik kembali ke masa lalu, pada kehidupan desa yang damai dan penuh kearifan lokal.
Bagi masyarakat setempat, Canang Ceureukeh bukan sekadar penghibur telinga. Instrumen sederhana dari kayu ini dahulu menjadi bagian penting dari tradisi bertani.
Ia mengiringi petani selepas panen, menjadi teman pembuka hari yang sunyi di tengah kebun atau hutan, serta menjadi penanda bahwa alam dan manusia pernah menjalin hubungan yang begitu akrab. Di era modern ini, makna itu tetap hidup dalam ingatan para tetua.
Sosok yang paling tekun menjaga warisan tersebut adalah Muhammad Isa Daud, atau akrab disapa Utoh Amad. Di rumahnya, ia merawat dan membuat Canang Ceureukeh seperti merawat bagian dari jati dirinya.
Sejak kecil ia sudah mengenal bunyi alat musik itu dari ayah dan kakeknya, namun tak pernah tahu secara pasti kapan instrumen tersebut muncul dalam sejarah. Ia hanya yakin, jejaknya sudah ada sejak beberapa dekade lalu, mengiringi denyut kehidupan pedesaan Aceh.
Di samping rumah, Utoh Amad membangun sebuah ruang kerja kecil. Di sanalah ia menekuni proses pembuatan Canang Ceureukeh dan Alee Tunjang alat musik tradisional Aceh lain yang kini hampir punah. Dengan tangan yang terampil serta kesabaran yang tak pernah lekang, ia berharap kedua instrumen itu bisa bertahan lebih lama dari dirinya, menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Menurut Muzayin Nazaruddin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia yang meneliti alat musik ini, Canang Ceureukeh memiliki peran sosial yang kuat. Dahulu, alat ini dimainkan di waktu senggang setelah masa panen, ketika warga berkumpul untuk melepas lelah. Di hutan atau kebun, suaranya juga dipercaya mampu mengusir rasa sepi, menjadi teman setia para petani yang bekerja sendirian di tengah alam.
“Canang Ceureukeh dimainkan ketika warga berada di kebun atau hutan, untuk mengusir suasana sepi,” kata Muzayin. “Alat musik ini dan Alee Tunjang juga dimainkan selepas panen padi, sebagai hiburan pengisi waktu luang.” Meski sederhana, bunyinya mampu menciptakan suasana hangat yang mempererat hubungan antarsesama dan dengan lingkungan sekitar.

Yang membuat Canang Ceureukeh kian istimewa adalah ritual yang mengiringi proses pembuatannya. Utoh Amad tidak pernah sembarangan mengambil kayu. Ia percaya setiap pohon memiliki ruh dan peran dalam kehidupan, sehingga harus diperlakukan dengan hormat. Sebelum memotongnya, ia selalu memanjatkan doa, memohon izin kepada alam dan Sang Pencipta atas pemanfaatan sebagian kecil dari kekayaan Nya.
Setelah menemukan kayu yang tepat, proses kreatif dimulai. Kayu dipotong, dibelah, lalu dihaluskan hingga berbentuk persegi kecil menyerupai biji canang. Dari potongan sederhana itulah lahir alat musik yang menyimpan cerita panjang tentang hubungan manusia, alam, dan tradisi. Di tangan Utoh Amad, setiap bunyinya menjadi pengingat bahwa warisan budaya tak seharusnya hilang begitu saja ia perlu dirawat, dimainkan, dan diceritakan kembali. [Adv]







