Sejak kebun riset kaliandra diresmikan pada 15 Juli 2022 lalu oleh Vice Presiden lingkungan PT. PLN Ajrun Karim M.MT, General Manager PLN Unit Induk Sumatra Bagian Utara (UIK SBU) Purnomo, dan manajer PT. PLN Nusantara Power Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Nagan Raya, Zulfan Idris Kaban di lahan Kampus Universitas Teuku Umar dan Rektor senior yang juga Ketua pengarah tim riset kaliandra UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA, banyak harapan tumbuh di sana.
Di lahan kebun riset di tanam pohon kaliandra dari awal pembibitan di lakukan sampai saat ini kondisi pohon yang sudah sangat bagus dan tumbuh hampir siap untuk di panen kan batangnya yang dibuat menjadi wood pellet yang kemudian dipakai sebagai bahan bakar untuk Co-firing pada PLTU sebagai energy baru terbarukan yang ramah lingkungan.
Pohon kaliandra merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat selain sebagai bahan bakar co-firing pada PLTU kaliandra juga mempunyai fungsi lain seperti daunnya sangat bagus untuk pakan ternak serta pohon Kaliandra dengan bunganya sangat bagus sebagai makanan bagi madu linot peliharaan.

Untuk meningkatkan efisiensi dan nilai ekonomis dari kebun kaliandra tim riset turut membudidayakan madu linot selama 2 bulan terakhir.
Dari budidaya madu linot ini sekarang sudah mulai mendapatkan hasil yaitu sudah mulai panen madu linot di beberapa rumah linot yang ada di kebun riset UTU dan kebun masyarakat.
Madu linot yang dikenal dengan manfaatnya sangat banyak untuk kesehatan sekarang sudah di kemas dengan kemasan yang steril dan bagus serta sudah siap di pasarkan ke masyarakat.
Herri Darsan, ST., MT selaku ketua tim Riset Kaliandra kepada media UTU News mengabarkan ke depan produk madu linot ini akan didaftarkan PIRT dan BPOM agar produk ini bisa dijual ke masyarakat luas di Indonesia.
“Dengan adanya madu linot di kebun kaliandra petani ke depan bisa mendapatkan nilai tambah penghasilan dari madu linot,” jelasnya
Harapan yang sama juga disampaikan Rektor UTU Dr. Drs. Ishak Hasan, M.Si ke depan para petani Kaliandra bisa meningkatkan penghasilan dari kebun kaliandra tersebut selain batangnya bisa di jual ke PLTU sebagai Bahan Baku Co-Firing daun Kaliandra juga sangat bagus untuk Pakan ternak.
“Harapan kita, semoga kerja sama yang baik selama ini bisa berlanjut dan terlaksana dengan baik,” kata Rektor
Dalam kesempatan yang sama Wakil Rektor 1 UTU Dr. Ir. M. Aman Yaman, M.Agric.Sc yang turut melihat langsung proses panen madu linot di kebun Riset Kaliandra menyebutkan manfaat yang sangat bagus untuk kesehatan rasanya juga enak dan segar karena baru di ambil dari sarangnya.
“semoga ke depan kebun riset ini bisa menjadi sumber inspirasi dan referensi bagi peneliti yang lain dan masyarakat dalam menanam kaliandra,” kata M. Aman Yaman.
Tanaman kaliandra ternyata tidak hanya digunakan sebagai bahan co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) energi baru terbarukan. Akan tetapi juga bisa digunakan sebagai pohon yang bisa menghasilkan nilai tambah, yaitu bunga dari pohon kaliandra dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan madu kelulut.
Bunga pohon kaliandra sangat bagus untuk makanan kelulut yang seterusnya dapat menghasilkan madu dengan kualitas tinggi. Selain bunga, daun dari pohon kaliandra juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Kebun kaliandra ini merupakan kebun riset Dosen Universitas Teuku Umar yang bekerjasama dengan PT PLN Nusantara Power Unit Pelaksana Pembangkit Nagan raya. Herri Darsan, ST., MT selaku ketua tim Riset mengatakan bahwa Kebun Kaliandra juga akan dikembangkan kepada masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah pada masyarakat di sekitar kampus Universitas Teuku Umar (UTU). Pengembangan ini merupakan salah satu dalam rangka meningkatkan dan menjadikan kampus UTU sebagai kampus yang berkelanjutan.
Sumatera Barat Turut Kembangkan
Di area sekitar Kampus I Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) di Tanjung Pati, Kabupaten Limapukuh Kota, Provinsi Sumbar, ada demonstrasi plot (demplot) penelitian yang ditumbuhi ribuan bibit kaliandra merah dengan umur sekitar 12-14 minggu.
Tampak subur dan enak dipandang mata, seyogianya kaliandra merah dengan nama latin Calliandra calothyrsus, adalah semak berbunga (shrub) dan termasuk ke dalam keluarga Fabaceae (suku kacang-kacangan) yang dapat ditemukan dengan mudah di Indonesia.
Kaliandra merah yang berasal dari Meksiko ini dapat tumbuh hingga 12 meter jika lingkungan memungkinkan. Daun kaliandra berwarna hijau gelap, kanopi melebar ke samping, dan sangat padat. Tipe daun kaliandra merupakan daun majemuk yang berpasangan.
Saat ini, PPNP atau Politani Payakumbuh, sedang bekerjasama dengan PT Semen Padang dalam pengembangan tumbuhan kaliandra merah dalam jumlah yang sangat besar untuk dijadikan sebagai bahan bakar alternatif yang dapat mensubstitusi bahan bakar batubara.
“Pengembangan kaliandra merah ini kami mulai dengan membuat demplot penelitian. Dibangun sekitar 4 bulan lalu, demplot penelitian ini telah menghasilkan sekitar 6000 bibit kaliandra merah,” kata Kepala UPT Perbaikan dan Pemeliharaan PPNP, Auzia Asman, S.P., M.P., Rabu (10/5/2023).
Pembangunan demplot penelitian ini, kata Auzia melanjutkan, akan terus dikembangkan oleh PPNP guna memperoleh metoda standar dalam memproduksi bibit kaliandra merah dengan jumlah besar (massive), yaitu sekitar 500 ribu bibit, dari jumlah kebutuhan PT Semen Padang sebanyak 100 juta bibit.
Metoda yang diperoleh, nantinya akan didiseminasikan kepada masyarakat diberbagai daerah di Sumbar sebagai afiliasi produksi bibit, sehingga diharapkan pengembangan dari tanaman kaliandra merah ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.
Kemudian, terkait demplot penelitian yang telah menghasilkan 6000 bibit kaliandra merah, Auzia menyampaikan bahwa ke depannya, PPNP akan melakukan penanaman kalianda sebagai kebun induk untuk sumber benih dan sekaligus kebun produksi bibit untuk pengembangan kaliandra sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT).
Produksi bibit kaliandra merah di kebun induk atau kebun produksi tersebut, dimulai dari seleksi benih, kemudian penyemaian, penanaman, hingga ke seleksi bibit tahap awal, sampai kepada bibit kaliandra telah berusia 2,5 bulan, dan siap untuk ditanam, atau diambil oleh PT Semen Padang.
“Kebun induk itu akan dibangun di Kampus II PPNP yang berada di Kenagarian Sitanang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Limapuluh Kota. Selain sebagai tempat penelitian, kebun induk itu juga menjadi kebun produksi bibit kaliandra untuk mendukung program pengembangan kaliandra bersama Semen Padang,” ujarnya.
Bagi PPNP, kerjasama dengan PT Semen Padang ini juga memberikan manfaat dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Apalagi, kerjasama ini juga didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (DIKSI) Kemendikbud Ristek melalui program Matching Fund Vokasi (MFV) Tahun 2023.
“Ada tiga pihak yang berkolaborasi dalam pengembangan kaliandra merah ini. PPNP, DIKSI dan Semen Padang. Nah, ke depannya PPNP melalui kerjasama ini akan lebih fokus dan menjadikan kaliandra sebagai salah satu ikon baru bagi PPNP dalam mendukung pengembangan sumber energi EBT. Apalagi, kaliandra merah merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi, baik bagi masyarakat dan industri, serta sangat baik untuk konservasi lingkungan (tanah dan air),” katanya.
Auzia pun juga menjelaskan bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam pengembangan kaliandra merah yang bekerjasama dengan PT Semen Padang dan DIKSI. Pada dharma pendidikan dan pengajaran, pengembangan kaliandra dengan membuat demplot maupun kebun produksi, bisa dijadikan sebagai tempat praktek program magang mahasiswa.
Pada dharma penelitian, manfaat kayu kaliandra bagi PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif, juga menjadi peluang bagi dosen PPNP untuk melakukan penelitian tentang kayu kaliandra. “Sedangkan untuk dharma pengabdian kepada masyarakat, PPNP tentunya bisa melibatkan masyarakat sebagai mitra atau afiliasi dalam mengembangkan bibit kaliandra,” bebernya.
Pada kesempatan itu, Auzia juga memaparkan manfaat kaliandra merah. Pertama, berkaitan dengan isu energi terbarukan dan cadangan karbon. Karena, kayu kaliandra merupakan bahan biofuel yang bisa dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara. Sebab, kaliandra merupakan sumber energi bisa diperbaharui, sedangkan batubara adalah energi fosil yang semakin hari jumlahnya semakin menipis.
Bagi industri seperti PT Semen Padang yang memproduksi semen, kebutuhan kayu kaliandra sebagai energi baru terbarukan tentunya sangat besar jumlahnya. Apalagi, pemanfaatan kaliandra ini juga berkaitan dengan carbon trading. Karena, dengan memanfaatkan kaliandra, PT Semen Padang bisa menyimpan, mengatur dan mengelola pelepasan karbon ke udara.
“Artinya, pemanfaatan kaliandra untuk mensubstitusi bahan bakar batubara dalam proses produksi semen oleh PT Semen Padang, dapat memperlambat pemanasan global. Karena, dengan memanfaatkan kayu kaliandra sebagai bahan bakar alternatif, akan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah,” katanya.
Di samping sebagai energi terbarukan dan cadangan karbon, menanam kaliandra juga bisa memproduktifkan lahan-lahan marginal (lahan yang tidak produktif). Sebab, kaliandra merah merupakan tanaman remidiasi atau tanaman yang mampu meningkatkan mutu dari kondisi tanah, sehingga lahan-lahan yang ditanami kaliandra secara bertahap dapat meningkat kesuburan tanahnya.
Kemudian, bunga kaliandra juga bermanfaat untuk beternak madu galo-galo. Karena, bunganya bisa dijadikan sebagai konsumsi lebah madu. Sedangkan daunnya, juga bisa dijadikan pakan ternak dan bahan baku membuat kompos. Bahkan di Payakumbuh, ada pengusaha ternak ayam yang tertarik untuk menjadikan daun kaliandra sebagai bahan baku membuat pakan alternatif untuk ayam.
“Jadi, kalau kita memanfaatkan kaliandra untuk kebun galo-galo dan kita juga punya ternak sapi maupun kambing, maka potensi pemanfaatan kaliandra secara finansial akan semakin besar. Apalagi, kalau nantinya daun kaliandra ternyata juga memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat pakan alternatif untuk ayam, tentu akan semakin besar lagi potensinya,” kata Auzia.
Potensi lainnya, sebut Auzia, adalah ranting kaliandra merah yang bisa dijadikan sebagai wood pellet yang merupakan komoditas ekspor ke negara empat musim. Karena, wood pellet ini merupakan kebutuhan rumah tangga yang kegunaannya sebagai sumber energi penghangat tubuh bagi masyarakat yang berada di negara empat musim tersebut.
“Kalau pemanfaatannya sampai ke ranting, bunga dan daun, maka tidak akan ada lagi bagian dari kaliandra yang tidak bisa dimanfaatkan. Untuk kayunya, bisa dijual ke Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif yang dapat mensubstitusi bahan bakar batubara, bunganya untuk konsumsi madu, daunnya sebagai pakan ternak, dan rantingnya untuk dijadikan wood pellet,” ujarnya.
Selain bermanfaat bagi industri, Auzia pun juga mengatakan bahwa kayu kaliandra juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, kalau nantinya sudah ada kompor modern yang bisa memanfaatkan kayu kaliandra untuk memasak. Tentunya, masyarakat tidak perlu lagi menggunakan gas.
“Dari testimoni masyarakat di Sungaipua dan Matur, mereka menyebut bahwa mereka telah memanfaatkan kayu kaliandra untuk memproduksi gula tebu. Kata mereka, kalau pakai kayu kaliandra, apinya kuat dan asapnya minim. Apalagi, kalau kadar air kayunya kering, tentu pembakarannya semakin sempurna, dan asapnya juga semakin minim,” ungkapnya.(Adv)

