Langsa – Hampir dua dekade telah berlalu sejak perjanjian damai bersejarah antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Kesepakatan yang menghentikan konflik berkepanjangan ini tidak hanya menandai berakhirnya pertumpahan darah, tetapi juga membuka jalan baru menuju harapan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Aceh.
Dalam momen memperingati 19 tahun MoU Helsinki, Ketua DPRK Langsa, Maimul Mahdi, S.Sos, M.AP, menyuarakan visi yang mendalam tentang pentingnya menjadikan Aceh sebagai wilayah yang gembira dan sejahtera.
“Mengapa Aceh harus gembira dan Aceh harus sejahtera?” tanyanya retoris, sebelum menguraikan pandangannya. Kamis (15/08).
Perdamaian yang terwujud melalui perjanjian Helsinki bukan hanya sebuah akhir dari konflik, tetapi juga awal dari perjuangan baru—perjuangan untuk memastikan bahwa setiap warga Aceh dapat menikmati hasil perdamaian ini dengan penuh kegembiraan.
“Konflik yang berkepanjangan selama puluhan tahun seharusnya tidak lagi menyisakan luka, tetapi memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati buah dari perjuangan ini dengan hati yang gembira,” ujar Maimul Mahdi.
Ia menekankan bahwa kegembiraan ini tidak bisa muncul begitu saja, melainkan harus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini, menurutnya, hanya akan terwujud jika kebijakan yang diambil oleh para pemimpin—baik di eksekutif maupun legislatif—berfokus sepenuhnya pada kepentingan rakyat.
“Kita harus mampu menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat secara bersama tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau golongan. Kepentingan rakyat Aceh harus di atas segalanya demi melahirkan kegembiraan yang hakiki,” tegasnya.
Maimul Mahdi juga menekankan bahwa ketika masyarakat sudah bisa menikmati kegembiraan dalam hidup mereka, kesejahteraan pun akan menyusul.
Ini bukan hanya mimpi, tetapi sebuah visi nyata untuk Aceh yang damai sepanjang masa, sesuai harapan generasi mendatang. “Saat masyarakat sudah bisa menikmati kegembiraannya, maka kesejahteraan akan terwujud dan berjalan hingga Aceh damai sepanjang masa,” katanya.
Mengingat sejarah panjang perjuangan GAM yang dimulai pada tahun 1976 di bawah kepemimpinan Muhammad Hasan di Tiro, yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan bagi Aceh, MoU Helsinki merupakan pencapaian monumental yang telah mengubah nasib Aceh dari daerah konflik menjadi daerah yang sedang berproses menuju kesejahteraan.
Menutup ulasannya, Maimul Mahdi mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh untuk bersama-sama membangun dan merawat perdamaian yang telah susah payah diraih.
“Kita bangkit bersama untuk Aceh mulia,” serunya, menekankan bahwa hanya dengan saling bahu-membahu, Aceh yang gembira dan sejahtera dapat benar-benar terwujud.
Di tengah segala dinamika dan tantangan yang masih dihadapi, harapan akan Aceh yang gembira dan sejahtera tetap menjadi impian yang layak diperjuangkan.
Perjalanan ini mungkin masih panjang, namun dengan komitmen dan kerja sama, impian itu bukanlah hal yang mustahil.
Mari kita terus jaga perdamaian ini, demi Aceh yang lebih baik bagi generasi kita dan anak cucu kita nanti.








