Forumrakyat.co.id|Banda Aceh — Wacana penambahan batalyon baru TNI di Aceh menuai gelombang penolakan dari berbagai pihak.
Setelah pernyataan sikap dari Wali Nanggroe Aceh dan sejumlah anggota DPRA, kini giliran suara anak muda yang mengemuka.
Bentara Muda Mualem, organisasi kepemudaan yang dikenal vokal dalam isu-isu keacehan, menyampaikan sikap tegas terhadap rencana tersebut.
Melalui juru bicaranya, Aseng—sapaan akrab Aminul Mukminin—Bentara Muda Mualem menilai bahwa rencana pembangunan batalyon baru ini berpotensi memicu kegaduhan sosial-politik yang tak perlu di tanah yang tengah menikmati perdamaian.
“Gerakan baru TNI ini harus dikaji ulang secara lebih mendalam dan substansial. Jangan sampai menjadi percikan konflik baru yang merusak stabilitas dan psikologis kolektif masyarakat Aceh,” ujar Aseng dalam pernyataan resminya. Selasa (06/05/2025).
Ia menegaskan bahwa semangat damai yang telah diperjuangkan melalui perjanjian Helsinki semestinya dijaga bersama.
Bagi kalangan muda Aceh, penambahan batalyon militer justru dianggap mencederai semangat rekonsiliasi dan bisa memunculkan asumsi bahwa Aceh masih dalam situasi tidak aman.
“Pemerintah Pusat perlu peka dan arif membaca situasi. Penambahan batalyon ini terkesan memaksakan narasi ancaman yang tidak ada. Kami, anak-anak muda Aceh, menolak wacana ini secara tegas,” ucapnya.
Aseng juga menyebut bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah organisasi kepemudaan dan tokoh-tokoh muda lintas sektor.
Hasilnya, mayoritas menyatakan penolakan dan mendesak Presiden Prabowo Subianto agar mencabut rencana pembangunan yang kabarnya sudah mencapai 80 persen dalam tahap persiapan.
“Presiden memiliki otoritas penuh untuk membatalkan rencana ini. Jangan biarkan Aceh kembali terperangkap dalam trauma kolektif atas pendekatan militeristik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aseng menyatakan dukungan penuh terhadap sikap yang telah disampaikan Wali Nanggroe Aceh.
Menurutnya, para kaula muda siap berdiri dalam barisan untuk menjaga marwah Aceh dan mendengarkan titah Wali Nanggroe sebagai simbol pemersatu.
“Wali Nanggroe sudah menyampaikan sikapnya. Kami berdiri di belakang beliau. Ini soal harga diri dan keberlanjutan damai Aceh,” pungkasnya.






