Abu Salam dan Udin Gajah Keng: BUMD Aceh Harus Jadi Perintis, Bukan Pewaris Anggaran

oleh
oleh
Abu Salam bersama Pang Udin Gajah Keng. Foto: Forumrakyat.co.id

Forumrakyat.co.id|Banda Aceh – Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Luwa Nanggroe, T Emi Syamsyumi alias Abu Salam, bersama eks Panglima GAM Wilayah Aceh Rayeuk, Dhiauddin atau yang akrab disapa Udin Gajah Keng, melontarkan seruan yang mengusik kenyamanan ruang direksi BUMD di Aceh.

Mereka tak sedang berteriak—tapi nada kalimatnya cukup untuk membuat kaca jendela ruang rapat PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan Bank Aceh Syariah bergetar pelan.

“BUMD kita ini jangan cuma jadi pewaris yang menunggu anggaran APBA turun setiap tahun, tapi harus punya etos perintis—membangun fondasi ekonomi Aceh yang mandiri dan progresif,” ujar Abu Salam dalam forum diskusi terbatas yang digelar di Banda Aceh, Selasa (06/05/2025).

Menurut Abu Salam, selama ini banyak BUMD di Aceh terlihat nyaman duduk di kursi empuk, tetapi jarang bergerak ke lapangan. Mereka lebih lihai menyusun proposal ketimbang menciptakan terobosan bisnis.

“Kalau terus mengandalkan APBA, itu namanya bukan berdagang, tapi sekadar jadi pegawai,” lanjutnya.

Senada dengan itu, Udin Gajah Keng menegaskan bahwa sudah waktunya BUMD tidak hanya menjadi nama formal di papan reklame kantor provinsi, tapi benar-benar menjadi jantung ekonomi Aceh.

“Jantung itu memompa, bukan memompa uang dari APBA, tapi memompa denyut bisnis, membuka lapangan kerja, dan memberdayakan pelaku ekonomi kecil,” kata Udin.

Mereka berdua sepakat bahwa PT PEMA dan Bank Aceh Syariah seharusnya menjadi lokomotif investasi daerah, bukan gerbong yang terus-menerus diseret oleh dana publik.

“Apalagi Aceh punya keistimewaan—baik secara politik maupun anggaran. Mestinya ini jadi peluang, bukan zona nyaman,” ujar Abu Salam sambil menambahkan bahwa keberpihakan terhadap sektor strategis seperti pertanian, perikanan, dan energi terbarukan harus menjadi prioritas BUMD, bukan sekadar jargon tahunan.

Keduanya juga mendorong lahirnya BUMD-BUMD baru berbasis daerah, yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat.

“Kalau ada BUMD di Aceh Barat Daya yang bisa ekspor hasil laut, kenapa tidak kita dorong untuk lahir dan dikawal?” ucap Udin.

“BUMD itu bukan tempat parkir politik atau pensiun dini, tapi tempat para pekerja keras yang paham pasar dan berani ambil risiko.”

Di akhir diskusi, keduanya menyampaikan pesan kepada pemerintah Aceh dan DPR Aceh agar tidak lagi memanjakan BUMD dengan gelontoran dana tanpa pertanggungjawaban yang terukur.

“Lebih baik kita cetak satu BUMD sehat dan bernyawa, daripada seratus BUMD zombie yang hidup segan, mati pun tak jelas,” tutup Abu Salam dengan senyum kecil yang menyimpan kritik besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.