Banda Aceh, Forumrakyat.co.id – Suara keprihatinan terhadap kondisi Aceh yang masih bergulat dengan kemiskinan dan pengangguran kembali disuarakan, kali ini oleh Suadi Sulaiman atau yang lebih dikenal sebagai Adi Laweung, salah satu kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Melalui pernyataannya, Adi menekankan bahwa masalah kemiskinan yang menghantui Aceh selama ini bukan sekadar isu lokal, melainkan sudah menjadi aib nasional. Jumat 30 Agustus 2024.
“Aceh terus saja masuk kategori ‘juara’ termiskin di Sumatera. Ini bukan prestasi yang membanggakan, tetapi tamparan keras bagi kita semua,” ujar Adi Laweung dalam pernyataan tegasnya.
Dia menyoroti bahwa salah satu tujuan perdamaian Aceh yang ditandatangani di Helsinki pada 2005 adalah untuk menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat Aceh, namun realitas saat ini menunjukkan sebaliknya.
Menurut Adi, pasangan calon Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf (Mualem) dan H. Fadhlullah (Dek Fadh), diharapkan mampu menjawab tantangan ini.
Ia mengingatkan bahwa Mualem-Dek Fadh, dengan rekam jejak mereka, harus memprioritaskan pengurangan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan.
“Bek ulok-ulok ke Mualem, ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya, menggunakan idiom lokal yang bermakna jangan bermain-main dengan janji.
Adi juga menyoroti realitas yang dihadapi oleh ribuan sarjana yang dihasilkan oleh lebih dari seratus perguruan tinggi di Aceh setiap tahunnya.
“Generasi muda kita penuh semangat dan potensi, tetapi mereka terjebak dalam lingkaran pengangguran karena kurangnya peluang kerja. APBA yang mengalir ke luar daerah juga mematikan kreativitas dan daya beli lokal,” kata Adi, menekankan perlunya mengubah kebijakan ekonomi.
Solusi yang diusulkan Adi adalah mendatangkan investor untuk membangun industri pengolahan yang bisa menyerap tenaga kerja lokal.
“Aceh kaya dengan sumber daya perkebunan, pertanian, dan kelautan. Mengapa kita tidak fokus pada pembangunan pabrik yang bisa mengolah hasil bumi kita sendiri?” ujarnya.
Adi juga berharap Mualem-Dek Fadh mampu mempermudah aktivitas ekspor impor langsung dari Aceh agar harga komoditas bisa lebih menguntungkan bagi petani, pekebun, dan nelayan.
Dengan dukungan langsung dari Presiden terpilih Prabowo Subianto, Adi optimis bahwa hubungan baik antara Mualem dan Prabowo bisa membawa perubahan nyata bagi Aceh.
“Prabowo adalah sahabat Mualem. Dukungan ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” ungkapnya.
Sebagai Ketua Umum DPP Partai Aceh dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA), Mualem memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di Aceh.
Begitu pula dengan Dek Fadh, yang memiliki latar belakang sebagai mantan Komandan Operasi GAM Wilayah Pidie.
“Ini bukan hanya soal kemenangan politik, tapi soal masa depan Aceh,” kata Adi.
Di akhir pernyataannya, Adi Laweung menegaskan bahwa apa yang diharapkan dari Mualem-Dek Fadh bukanlah hal yang mustahil jika mereka berkomitmen kuat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh.
“Kita semua punya tanggung jawab. Aceh tidak boleh lagi menjadi penonton di negeri sendiri. Sudah saatnya kita bangkit dan mandiri,” pungkasnya.






