Destinasi Pidie Jaya: Kilas Perantau Madinah Sang Pendiri Masjid Teuku Di Pucok Krueng

oleh
oleh
Pendiri Masjid Teuku Di Pucok Krueng di Pidie Jaya

Forumrakyat.co.id –  Unik, menarik dan asyik. Mungkin itulah yang tergambar saat menyambangi  masjid kuno berusia ratusan tahun ini. Ya, masjid ini berdiri tegak di Gampong Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Terbuat dari kayu dengan sejumlah tangga, toh nyatanya masjid yang diberi nama Teuku Di Pucok Krueng tersebut tak goyah dihempas gempa yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada tahun 2016 lalu. 

Siapakah pendiri masjid tersebut? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul saat Musrizal menyambanginya di Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, Sabtu 12 Oktober 2024. Dari literasi sejarah menyebutkan, bahwa masjid berdiri di atas prakarsa Teuku Abdussalim. Kenal Teuku Abdussalim merupakan ulama yang lebih dikenal dengan sebutan Teuku Di Pucok Krueng. 

Tekuk Abdussalim adalah perantau dari negara Arab yang berasal dari Madinah dan merupakan seorang ulama yang menyebarkan agama Islam. Masjid Beuracan, biasa warga sana menyebutnya, saat itu pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dan langsung dipimpin oleh Teungku Abdussalim atau yang lebih terkenal pada waktu itu dengan sebutan Teuku Di Pucok Krueng. 

Hal itu mungkin terjadi karena ada sebuah sungai yang berdekatan dengan masjid tersebut yang mulut sungai itu berasal dari gunung yang ada di pedalaman desa Beuracan dan ekor sungainya berakhir di muara desa Meureudu.

“Begitu khidmat saat kami melaksanakan ibadah di masjid ini. Kita merasakan jejak sejarah Islam di tanah Rencong, khususnya di Kabupaten Pidie ini,” ucap Musrizal. 

Menariknya lagi, di masjid tersebut ada sebuah guci untuk mengambil air wudhu. Hanya saja, lokasi tersebut khusus kaum pria. Guci kuno tersebut dijaga oleh seorang Marbot yang ditunjuk oleh pimpinan masjid. Pasalnya, udara yang berada di dalam guci tersebut tidak boleh diambil oleh orang sembarangan. 

Apalagi kalau perempuan yang lagi datang bulan (haid) lagi pula hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian guci kuno tersebut tetap berlanjut. Setiap pengambilan air dalam guci kuno penjaga tersebut tidak memungut biaya sepeserpun. Tetapi banyak diantara mereka yang memberi atau memasukkan uangnya ke dalam wadah berbentuk celengan di dekat guci sebagai sedekah.

Guci kuno di Masjid Teuku Di Pucok Krueng.

“Air yang ada di dalam guci ini begitu sejuk, bang. Dingin sekali airnya, dan bikin segar tatkala kita akan melaksanakan ibadah shalat,” tambah Ranto yang kebetulan juga singgah di Masjid Teuku Di Pucok Krueng. 

Keunikan benda bersejarah yang berada di dalam masjid tersebut sekarang sudah mengundang banyak wisatawan religi yang berkunjung ke mesjid Beuracan, bahkan ada wisatawan dari mancanegara yang berkunjung untuk mengetahui sejarah berdirinya masjid tersebut.

Disebutkan, pada awalnya penduduk desa Beuracan sangat senang dengan kedatangan Teuku Abdussalim beserta rombongannya. Apalagi warga mengetahui bahwa Teuku Abdussalin adalah salah seorang ulama yang membawa ajaran Islam.  Penduduk desa Beuracan menyiapkan semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh Teungku Abdussalim, mulai dari tempat penginapan sampai pada kebutuhan makanan.

Bahkan Teuku Abdussalim mengadakan pengajian di pondok tempatnya tinggal, dan melaksanakan shalat berjamaah di sebuah pondok yang sempit bersama pengikutnya dan masyarakat desa. Akan tetapi lama-kelamaan pengikutnya semakin bertambah dan gubuk tempatnya tinggal sudah tidak muat lagi untuk menampung orang-orang yang semakin hari semakin bertambah.

Pada tahun 1626 M, Teuku Abdussalim mulai berpikir untuk mendirikan sebuah masjid di desa Beuracan, beliau mengutarakan keinginan tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat yang ada di desa Beuracan. 

Mendengar hal tersebut dari ulamanya seluruh masyarakat menyetujui dan mewakafkan tanahnya untuk berdirinya masjid. Mereka saling bahu membahu menyiapkan semua keperluan yang diperlukan untuk pembangunan masjid tersebut. 

Ada yang naik ke gunung untuk mencari kayu sebagai tiang, ada yang pergi ke sungai untuk mengumpulkan batu dan pasir dan ada yang mencari daun rumbia di rawa-rawa untuk dijadikan atap masjid. (***) 

No More Posts Available.

No more pages to load.