Forumrakyat.co.id – Peci atau kopiah sudah merupakan identik bagi kaum muslim. Benda berbentuk bundar itu yang diletakkan kerap memperlihatkan kewibawaan seseorang. Namun dari sekian peci yang ada di nusantara, adalah Kopiah Riman yang masih melegenda.
Kopiah Riman merupakan karya seni anak negeri sarat muatan filosofi lokal genius serta membuktikan kesenian Aceh tidak stagnan dalam membentuk identitas kebudayaan.
Pertanyaan pun muncul, mengapa disebut Kopiah Riman!. Ternyata, karena sejatinya kopiah ini berasal dari serat pohon Riman yang pada masa itu tumbuh subur. Seiring perkembangan zaman, keberadaan pohon Riman mulai langka.
Kopiah Riman juga merupakan peninggalan sejak zaman Sultan Iskandar Muda sebagai bagian dari pakaian kebangsawananan masyarakat Kabupaten Pidie. Kopiah Riman sempat redup. Namun, kembali digalakkan pada tahun 1985 hingga saat ini.
Awal mula kerajinan Kopiah Riman dibuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan Kopiah Riman meningkat. Sehingga, mampu memproduksi lebih banyak kopiah dengan desain berbeda. Hingga saat ini, Kopiah Riman masih cukup terkenal di lapisan masyarakat Aceh.
“Banyak yang membeli Kopiah Riman ini untuk cenderamata, terkadang diberikan kepada pejabat yang datang ke Aceh, bang,” kata Nasrul yang memiliki beberapa jenis Kopiah Riman di rumahnya, Jumat 11 Oktober 2024.
Keunikan Kopiah Riman, menurut Nazrul, membuat kepala terasa sejuk. Hal itu bukan tanpa alasan, pasalnya kopiah itu terbuat dari serah pohon tersebut. Harga yang ditawarkan pun tak main-main. Mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Diulas dari salah satu literasi menyebutkan, keberadaan kopiah yang terbuat dari serat alami ini sempat menghilang. Pada 1985, satu keluarga di Desa Dayah Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie mulai membuat kembali kopiah riman. Awalnya pembuatan kopiah itu hanya untuk keperluan pribadi.
Seiring waktu, Kopiah Riman diminati masyarakat dan permintaannya terus meningkat. Sebab itu, kerajinan kopiah tersebut terus berkembang. Saat ini, para ibu di Desa Dayah Adan membuat kopiah sebagai usaha sampingan, selain bertani dan berdagang.
Sesuai namanya, kopiah ini dibuat dari serat pohon riman yang dulu banyak tumbuh di wilayah Aceh. Namun, saat ini pohon riman semakin langka. Sebab itu, para perajin menggantinya dengan serat dari pohon aren.
“Ya, masih ada yang membuatnya. Apalagi membuat Kopiah Riman ini boleh dikata tak semua orang bisa menganyamnya. Perlu keahlian khusus dan kebanyakan para ibu-ibu yang memang keturunan pembuat Kopiah Riman,” ujar Khaidir menimpali.
Kopiah riman dibuat secara tradisional di rumah para perajin. Proses pembuatannya bisa memakan waktu 15-30 hari. Pertama-tama, pelepah aren dipukul-pukul untuk menghilangkan ampasnya. Setelah itu, serat-serat pada pelepah aren itu diambil dengan menggunakan jarum.
Dari proses ini akan didapatkan dua jenis serat, yaitu serat halus untuk bagian luar kopiah dan serat kasar untuk bagian dalamnya. Serat-serat pohon aren lalu direbus dalam panci beralas daun keladi bersama pewarna alami yang terbuat dari beragam tumbuhan, seperti daun peono, daun bunga tanjung, dan putik kelapa. Proses perebusan berlangsung sekitar 10 jam.
Serat-serat itu kemudian direndam dalam lumpur. Serat yang telah siap kemudian dirajut menjadi sebuah kopiah. Lama pengerjaan tergantung motif dan ukuran kopiah. Beberapa motif yang biasanya digunakan, antara lain corak pintu Aceh, ucok rebung, bungong keupula (bunga kupula), bungong tron, bungong puten, rantai, pagar, kaki kepiting, dan bunga tembak. (***)








