Forumrakyat.co.id – Masjid Po Teumeureuhom atau yang kini dikenal dengan nama Masjid Raya Labui. Dibangun pada tahun 1612 Masehi yang mulanya diawali kedatangan Sultan Iskandar Muda. Kala itu Sultan Iskandar Muda memang sering berkeliling dan singgah di berbagai daerah untuk mempersatukan umat Islam.
Dengan niat tulus pula, Sultan Iskandar Muda memprakarsai pembangunan masjid ini serta dibantu dengan masyarakat sekitar. Pembangunan dilakukan secara gotong royong. Info berkembang bahwa para warga mengangkut batu secara estafet berjarak 30 kilometer dari Kecamatan Muara Tiga hingga ke Labui.
Dan dalam proses pembangunan, masjid ini didatangkan arsitek dari Cina untuk mendesain tempat ibadah tersebut. Untuk berkomunikasi dengan arsitek dari Cina tersebut tentu perlu les mandarin agar lebih mudah untuk berkomunikasi.
Masjid Po Teumeureuhom yang memiliki luas sekitar 922 meter persegi dan berdiri di lahan seluas 10.800 meter persegi, merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Pidie.
Umumnya masyarakat setempat selain menjadikan masjid ini sebagai tempat ibadah umat islam dan kegiatan keagamaan, masjid ini juga sudah dilestarikan menjadi cagar budaya di Kabupaten Pidie dan menjadi tempat yang wajib untuk dikunjungi.
“Saya sudah beberapa kali mendatangi dan melaksanakan sholat di masjid ini. Sungguh, suasananya sangat beda. Apalagi masjid ini boleh bilang jejak sejarah dan cagar budaya yang sudah dilestarikan. Makanya, tiap saya lewat ke sini tetap singgah untuk beribadah,” urai Ahmad, Rabu 18 September 2024.
Kedatangan Ahmad tak sendiri. Dia bersama rekan kerjanya yang semuanya warga Lhokseumawe. Apa yang dirasakan Ahmad juga tertuang dari temannya, Ridho. Bahkan, kata Ridho, Masjid Po Teumeureuhom wajib dikunjungi dan layak dijadikan pusat budaya Islam.
“Setiap kami melintasi di beberapa daerah, kami tetap ‘bersujud’ sejenak sembari melepas lelah. Dan tak cuma di Masjid Po Teumeureuhom ini saja kami singgah, tapi juga di tempat lainnya. Ini salah satu pengingat bagaimana Sultan Iskandar Muda bersemangat membangun masjid ini,” tukasnya.

Masjid Po Teumeureuhom atau yang kini dikenal dengan nama Masjid Raya Labui. | (Foto Net).
Untuk fasilitas, masjid ini tergolong sangat lengkap, mulai dari AC dan pengeras suara, toilet umum, tempat parkir yang cukup luas, tempat penitipan sepatu dan sandal, perpustakaan, aula serba guna, gudang, bale-bale dan taman, serta ruang belajar bagi para santri dan murid madrasah.
Adapun keindahan arsitektur yang cukup menawan bisa dilihat dari kubah besar yang berwarna biru muda diatas masjid hingga pilar-pilar penyangga bangunan masjid yang sangat indah.
Kisah pendirian Masjid Po Teumeureuhom tak cuma sekadar itu saja. Di masjid ini juga terdapat Tongkat Po Teumeureuhom ditinggalkan Sultan Iskandar Muda saat singgah di daerah Pidie. Tongkat ini memiliki panjang sekitar 1,2 meter memiliki berat 5 kilogram, serta beruas-ruas seperti layaknya tebu.
Tongkat berwarna keemasan ini sesungguhnya berfungsi sebagai penyangga untuk khatib ketika khotbah di mimbar. Namun, konon tongkat ini kini sudah menjadi sebuah replika. Kabarnya, tongkat ini memiliki 2 replika, yang satunya dimasukkan ke dalam sumur yang bisa dijumpai wisatawan di halaman Masjid Raya Labui, dan satu lagi digunakan khatib.
Sementara itu, tongkat yang asli kini hanya dipajang di lemari kaca dekat mimbar masjid. Selain Tongkat Po Teumeureuhom, di Masjid Raya Labui juga masih menyimpan satu peninggalan bersejarah yang tak kalah menariknya. Peninggalan tersebut adalah sebuah mimbar yang dulunya merupakan hasil karya dari seorang pengrajin Cina. Mimbar ini tak kalah tuanya dengan masjid, dan diperkirakan berusia ratusan tahun.
Mimbar itu pun selalu nampak baru bagi siapa yang melihatnya. Usia mimbar di masjid ini telah mencapai ratusan tahun. (***)








