Abu Salam: Ambisi Bustami dan Fadhil Rahmi Mengancam Perdamaian Aceh

oleh
oleh
Ketua KPA Luwa Nanggroe, Abu Salam. Foto: IST

Banda Aceh|ForumRakyat.co.id — Ketua KPA Luwa Nanggroe, Teuku Emi Syamsumi, yang dikenal sebagai Abu Salam, melancarkan kritik keras terhadap Bustami Hamzah dan Fadhil Rahmi.

Ia menuding keduanya menciptakan narasi adu domba yang mengancam persatuan dan mengkhianati nilai-nilai perdamaian Aceh demi ambisi kekuasaan.

Dengan nada tegas, Abu Salam menyebut mereka sebagai “para pemecah belah yang haus kekuasaan”.

 

“Demi menang, mereka rela menghancurkan apa yang telah kita bangun dengan darah dan air mata. Nilai perdamaian yang kita jaga justru mereka sikat habis demi kursi gubernur. Bustami dan Fadhil Rahmi tidak hanya bermain sebagai korban, tapi juga provokator yang licik,” ujar Abu Salam pada Sabtu (21/11/2024).

Luka Pengkhianatan Bustami

Abu Salam membeberkan kisah kelam bagaimana Bustami, yang dulu dipercaya oleh H. Muzakir Manaf (Mualem), malah menusuknya dari belakang.

Saat menjabat sebagai Sekda Aceh, Bustami disebut sengaja mengadu domba Pj Gubernur dengan DPRA untuk mencapai ambisi pribadi.

Setelah tipu muslihatnya berhasil, ia membuang semua pihak yang telah mendukungnya, termasuk Mualem.

“Mualem, yang mengorbankan hidupnya demi perdamaian Aceh, dikhianati begitu saja oleh orang yang ia percayai. Bustami memanfaatkan kedekatannya dengan Mualem untuk meraup kekuasaan, tapi ketika posisinya aman, ia berubah. Ia menusuk Mualem, memanfaatkan rakyat Aceh, dan kini mencoba merebut Aceh demi kepentingan pribadinya,” kata Abu Salam, menahan amarah.

Abu Salam juga menyinggung keserakahan Bustami yang disebutnya menjadikan tambang, lahan, dan kekayaan Aceh sebagai target berikutnya.

“Apa salah Mualem? Apakah perjuangannya untuk rakyat Aceh layak dibalas dengan pengkhianatan? Apa yang dilakukan Bustami adalah penghinaan terhadap pengorbanan Mualem dan semua syuhada yang berjuang demi perdamaian,” ujar Abu Salam, suaranya bergetar penuh emosi.

Narasi Busuk dan Politik Culas

Abu Salam mengutuk cara Bustami dan Fadhil Rahmi yang disebutnya menggunakan narasi provokatif dan fitnah murahan untuk merusak reputasi lawan.

Setelah debat ketiga calon gubernur Aceh dihentikan oleh KIP Aceh, tim sukses mereka gencar menyebarkan fitnah terhadap Muzakir Manaf dan Fadhlullah Dek Fadh.

“Mereka bilang Mualem itu ‘awak toet rumoh sikula’, ‘awak bangai’, bahkan ‘bodoh’. Ini bukan sekadar penghinaan pribadi, tapi penghinaan terhadap martabat Aceh. Bustami dan Fadhil Rahmi, dengan buzzer-buzzer bayaran mereka, telah membawa politik Aceh ke titik nadir,” tegas Abu Salam.

Abu Salam menilai bahwa strategi culas semacam ini adalah bentuk kemunduran demokrasi dan ancaman nyata terhadap perdamaian.

“Jangan pikir rakyat Aceh bodoh. Kami tahu siapa dalang di balik narasi ini. Jangan gaslighting kami, dan berhenti bermain sebagai korban. Jika terus seperti ini, mereka hanya akan membangunkan singa yang sedang tidur.”

Peringatan untuk Bustami dan Fadhil Rahmi

Abu Salam mengingatkan bahwa perdamaian di Aceh tidak terjadi begitu saja. Perdamaian adalah hasil perjuangan panjang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia, yang akhirnya membawa rakyat Aceh keluar dari kegelapan perang saudara.

“Bustami, ingatlah. Perdamaian ini bukan untuk dirusak oleh ambisi pribadimu. Jangan bermain-main dengan bara yang masih menyala. Rakyat Aceh telah lelah dengan perang, tapi bukan berarti kami tidak bisa melawan ketika nilai-nilai damai diinjak-injak,” tegas Abu Salam.

Masa Depan di Tangan Rakyat

Menutup pernyataannya, Abu Salam menyerukan rakyat Aceh untuk bersatu menjaga perdamaian. Ia meminta agar rakyat tidak terjebak dalam narasi pecah belah dan tipu daya yang dirancang oleh Bustami dan Fadhil Rahmi.

“Perjuangan ini terlalu mahal untuk digadaikan demi ambisi segelintir orang. Jika Bustami dan Fadhil Rahmi terus bermain api, rakyat Aceh sendiri yang akan memadamkannya,” tutup Abu Salam, dengan nada penuh keyakinan.

Dengan Pilkada yang semakin dekat, Abu Salam berharap rakyat Aceh dapat melihat siapa yang benar-benar memperjuangkan kepentingan mereka, dan siapa yang hanya peduli pada ambisi pribadi.

No More Posts Available.

No more pages to load.