Meulaboh, FR – Kisruh maraknya kasus anak di Aceh Barat baru-baru ini cukup memprihatinkan. Dari anak yang dilumuri cabai, anak yang diduga dianiaya oleh oknum anggota dewan, perkosaan anak, sampai anak balita yang dibunuh keji.
Serentetan kasus tersebut tidak dapat ditoleran lagi, kondisi anak di Aceh Barat kian kecil mendapatkan perhatian serius dari kita masyarakat. Seakan-akan kondisi tersebut menjadi hal yang lumrah saja terjadi, demikian dikatakan Ahhada Ketua Yayasan Bantuan Hukum Anak (YBHA) Aceh Barat.
Menurutnya mata rantai kejadian diatas mesti diakhiri. Stakeholder segenap masyarakat mesti lebih peduli dengan kondisi anak di sekeliling kita., harapnya.
Masyarakat harus ambil peran dalam memantau, menegur, melaporkan bahkan mengedukasi setiap pelanggaran terhadap anak jangan dibiarkan berlarut-larut., ujar Ahhada.
Ahhada juga nenambahkan YBHA Peutuah Mandiri Aceh Barat, atas keadaan tersebutlah merasa perlu melakukan upaya rekayasa keadaan terkait perbaikan perlindungan anak di Aceh Barat itu.
Tepatnya tanggal 13 hingga 14 Desember 2024 bertempat di Mesjid Jamik Kuta Padang telah dilaksanakan Training Paralegal bagi segenap masyarakat dan aktivis yang peduli perlindungan anak di Aceh Barat.
Acara ini dikuti sejumlah aktivis sosial dari berbagai elemen masyarakat di Aceh Barat. Menghadirkan trainer Rudy Bastian yang saat ini menjabat Direktur YBHA Peutuah Mandiri Aceh.
Sudah barang tentu banyak ilmu yang dibagikan dalam acara tersebut. Antusiasme peserta juga berjalan beriringan dengan keadaan perlindungan anak mesti segera diperbaiki di Aceh Barat.
Aceh Barat harus menjadi Kabupaten percontohan kedepannya dalam melindungi hak-hak anak.
Terselenggarakannya acara ini tentu dengan harapan, agar peserta yang ikut dapat memperluas pemahaman terkait perlindungan anak di Aceh Barat dan dapat terlibat aktif mendorong perbaikan sistem nantinya, tutup Ahhada. (Pa’DJ)






