Forumrakyat.co.id|JAKARTA –Sabtu malam, 12 April 2025, di kediaman keluarga besar mendiang Ketua Umum PPP Hasan Ismail Metareum, suasana berubah khusyuk.
Doa-doa mengalun pelan dalam Haul 40 hari kepergian Dr. Mustafa Fakhri, SH, MH, LLM—adik kandung dari Hilman Ismail Metareum (HIM). Namun malam itu, bukan hanya dzikir dan doa yang menghangatkan ruang.
Sebuah catatan personal dari Eep Saefulloh Fatah, sahabat lama almarhum sekaligus CEO PolMark Indonesia, menjadi suluh yang menyorot kenangan, karakter, dan nilai-nilai hidup Tope—sapaan akrab almarhum—dengan empati mendalam.
Dalam tulisan bertajuk Selintas Ingatan, Eep tak hanya menuliskan kenangan, tapi juga memotret Tope sebagai aktivis intelektual yang kini semakin langka.
“Sejak masih jadi aktivis, ia seorang konstitusionalis. Hingga akhir hayatnya, ia menulis identitas dirinya di WhatsApp sebagai ‘an ordinary constitutionalist’,” tulis Eep.
Kalimat itu, di tengah hiruk-pikuk politik yang sering menihilkan substansi, terdengar seperti elegi bagi mereka yang memperjuangkan hukum sebagai fondasi etika publik.
Dari Aktivisme ke Intelektualisme
Eep mengenal Tope di masa kritis 1997–1998, ketika dirinya masih menjadi pengajar muda di FISIP UI.
Kala itu, Tope bersama para aktivis mahasiswa kerap berdiskusi di rumah kontrakan Eep di Depok—bermalam hingga dini hari, menggugat tatanan, mempertanyakan negara, dan memformulasikan harapan.
Namun dari semua itu, Eep menangkap satu hal: Tope bukan sekadar aktivis. Ia adalah pemikir.
“Ia tak suka teriak tanpa isi. Aktivisme bagi Tope harus disertai kedalaman argumen. Ia bukan ‘tong kosong nyaring bunyinya’,” tegas Eep.
Sikap itu bertahan bahkan setelah euforia Reformasi berlalu. Tope memilih jalur akademik, menjadi cendekia.
Jauh dari panggung politik, tapi tidak jauh dari hal-hal yang prinsipil: konstitusi, keadilan, keilmuan.
Politik Sunyi, Tapi Penuh Substansi
Dalam konteks perpolitikan Indonesia yang kerap memuja kecepatan dibanding kedalaman, Tope—dalam ingatan Eep—adalah representasi dari arus sunyi yang mengalir tenang, tapi membawa perubahan.
“Saya pribadi lebih suka aktivis yang tenang menghanyutkan dibanding yang blingsatan dan tak sabar. Tope lebih dekat ke yang pertama,” kenangnya.
Tope bukan pemilik megafon, tapi ia menguasai ruang argumen. Ia tidak tampil ke depan, tapi ia menyalakan lampu-lampu kecil di benak mereka yang mengenalnya.
Dan bagi Eep, itu cukup menjadi bukti bahwa sahabatnya adalah manusia baik, cendekiawan yang teguh, dan aktivis dengan jiwa yang utuh.
Doa, Duka, dan Pengingat Sunyi
Catatan Eep ditutup dengan kesaksian yang tak semua orang bisa berikan: “Tope adalah manusia baik… makhluk Allah yang baik.”
Di tengah acara haul yang berlangsung sederhana dan sakral, catatan itu menjadi pengingat: bahwa dalam setiap kepergian, selalu ada kenangan yang tak selesai.
Eep bukan sekadar mengenang sahabatnya, tapi juga menuliskan semacam wasiat tak tertulis: bahwa idealisme, akal sehat, dan integritas harus tetap hidup—meski tokoh-tokohnya telah berpulang.
Tope telah pergi terlalu muda, tapi cahaya yang ditinggalkannya menyala di hati mereka yang pernah mengenalnya.
Dari ruang kelas hingga ruang diskusi, dari sunyi perpustakaan hingga ramai jalanan demonstrasi, jejaknya abadi.








