Forumrakyat.co.id|Aceh Besar – Krisis irigasi di Gampong Lamtadok, Kecamatan Darul Kamal, Aceh Besar, kini mencapai titik nadir.
Saluran utama pengairan sawah warga mengalami kerusakan parah. Pintu air yang sudah uzur tak lagi mampu mengalirkan air ke areal pertanian.
Akibatnya, ratusan petani terpaksa menyaksikan lahan mereka mengering perlahan, terancam gagal panen, dan pendapatan yang semakin melorot.
Kondisi ini tidak hanya memukul roda ekonomi desa, tapi juga menguak potret buram lemahnya perhatian pemerintah daerah terhadap sektor pertanian—sektor yang selama ini dielu-elukan sebagai tulang punggung ketahanan pangan Aceh.
Warga Lamtadok tak lagi bisa diam. Keluhan keras dilontarkan. Mereka mendesak pemerintah segera turun tangan, bukan sekadar menjanjikan program di atas kertas.
Tuntutan mereka jelas: pembangunan embung, waduk, dan pemasangan pompa air di titik-titik rawan kekeringan. Selama bertahun-tahun mereka bertahan, tapi kini kesabaran nyaris habis.
“Kami bukan minta proyek, kami minta air,” ujar salah satu petani dengan nada getir.
Sorotan tajam juga datang dari kalangan akademisi.
Nibras Islami Ramlan, Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala sekaligus Ketua Divisi Kajian dan Strategi, Departemen KASTRADASI BEM FP USK, menilai bahwa krisis irigasi ini merupakan bukti nyata minimnya komitmen pembangunan infrastruktur pertanian secara berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar masalah pintu air rusak, ini cermin dari gagalnya pemerintah daerah memahami bahwa ketahanan pangan dimulai dari sawah,” tegas Nibras.
Ia menyinggung kembali pernyataan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), yang pernah menekankan bahwa pertanian harus menjadi prioritas utama.
Namun realitas di lapangan berkata lain—petani berjuang sendirian, tanpa solusi konkret dari pemangku kebijakan.
“Kalau pemerintah serius, pintu air itu sudah lama diperbaiki, pompa air sudah dipasang, embung sudah dibangun. Tapi yang kita lihat hanyalah pembiaran,” ujar Nibras.
Ia menambahkan, jika tidak segera ditangani, ancaman gagal panen akan merembet menjadi krisis ekonomi tingkat desa.
Ketahanan pangan Aceh bisa runtuh hanya karena satu hal: abainya pemerintah terhadap irigasi.
“Ketahanan pangan bukan jargon politik. Ia butuh aksi nyata. Butuh keberpihakan pada petani yang selama ini menopang dapur masyarakat,” tutupnya.
Kini, mata masyarakat Lamtadok menatap tajam ke arah pemerintah. Mereka menunggu, apakah akan kembali diabaikan, atau akhirnya ada langkah konkret sebelum semuanya terlambat.
Sebab bagi petani, air bukan sekadar kebutuhan—ia adalah hidup.







