Forumrakyat.co.id |Meulaboh – Seorang warga Desa Suak Seumaseh, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan diduga akibat keterlambatan serta kendala teknis pada tabung oksigen dalam mobil ambulans. Kejadian ini terjadi pada minggu malam 19 Oktober 2025, dan diceritakan oleh pihak keluarga kepada Tim Forum Rakyat.
Menurut keterangan Abrar, anak dari almarhum, ayahnya mendadak mengalami sesak napas berat. Keluarga segera menghubungi Puskesmas Samatiga, namun pihak puskesmas menyampaikan bahwa malam itu tidak ada sopir yang bertugas membawa ambulans.
Karena situasi semakin darurat, keluarga kemudian mencoba menghubungi Puskesmas Drien Rampak yang berada di wilayah Kecamatan Arongan Lambalek. Tak lama berselang, satu unit ambulans datang ke rumah pasien. Namun, ambulans tersebut hanya dikemudikan oleh seorang sopir tanpa pendamping tenaga medis.
“Sopir langsung menyuruh kami menaikkan ayah ke ambulans. Tapi karena beliau sudah sangat sesak, kami minta agar tabung oksigen dipasang dulu. Awalnya sopir enggan menurunkan tabung, tapi setelah kami desak akhirnya dia menurunkan dan memasang oksigen,” ujar Abrar dengan nada sedih.
Setelah tabung oksigen terpasang, pasien segera dibawa menuju fasilitas kesehatan. Keluarga sempat meminta agar langsung dibawa ke RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, namun sang sopir bersikeras harus ke puskesmas terlebih dahulu untuk mengambil surat rujukan.
Dalam perjalanan, sekitar beberapa kilometer dari rumah pasien, tepatnya di kawasan Desa Suak Geudubang, aliran oksigen diduga berhenti. “Kami tanya ke sopir, dia bilang oksigennya macet. Ambulans terus jalan, tapi sampai di Desa Peuribu, ayah sudah tidak bernyawa,” ujar Abrar dengan mata berkaca-kaca.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Forum Rakyat pada Senin (27/10/2025) mendatangi Puskesmas Drien Rampak untuk meminta klarifikasi. Kepala Puskesmas, Sri Wahyuni, membenarkan bahwa pihaknya memang mengirim ambulans pada malam kejadian itu.
“Benar, sopir kami menjemput pasien pada malam tersebut. Namun, pihak keluarga tidak menyampaikan kondisi pasien secara detail. Kalau kami tahu itu darurat, tentu akan kami kirim tim medis. Selama ini kalau bukan keadaan gawat darurat, sopir memang bisa menjemput pasien tanpa pendamping tenaga medis,” jelas Sri Wahyuni di ruang kerjanya.
Salah satu staf IGD Puskesmas Drien Rampak yang turut hadir menambahkan bahwa pihaknya kerap menerima pasien dari luar wilayah kerja, bahkan dari daerah tetangga.
“Di sini kami sering melayani pasien dari luar kecamatan Arongan, bahkan dari Teunom dan Woyla juga pernah kami tangani. Kami berusaha semaksimal mungkin membantu meski dengan keterbatasan tenaga,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai alasan tidak ada tenaga medis yang ikut mendampingi ambulans malam itu, Kepala Puskesmas menjelaskan bahwa kondisi tenaga kesehatan sangat terbatas.
“Kebetulan malam itu kami juga sedang menangani pasien rawat inap lain. Hanya ada empat perawat yang bertugas, sehingga tidak memungkinkan mengirim tim tambahan. Selama ini, sopir memang sering menjemput pasien sendiri tanpa kendala,” ungkap Sri Wahyuni.
Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan masyarakat dan memunculkan pertanyaan mengenai standar operasional penanganan pasien gawat darurat di wilayah pedesaan, terutama terkait ketersediaan tenaga medis dan kelayakan peralatan ambulans.
Kasus ini diharapkan menjadi perhatian serius pihak terkait agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
(Zaini Dahlan / Forum Rakyat)








