
Forumrakyat.co.id — Di dataran tinggi Gayo, seni tradisi Didong tetap menjadi denyut budaya yang paling kuat melekat dalam kehidupan masyarakat. Perpaduan antara syair, ritme tepukan tangan, hentakan bantal kecil (egen), serta lantunan suara berharmoni menjadikan Didong bukan sekadar hiburan, tetapi media penyampai pesan moral, pendidikan, dan kebijaksanaan.
Didong biasa ditampilkan pada acara-acara penting seperti pernikahan adat Gayo, kenduri kampung, penyambutan tamu, hingga festival budaya. Syairnya sarat filosofi, bercerita tentang kehidupan, agama, cinta tanah air, hingga petuah orang tua. Dua kelompok Didong biasanya saling berbalas syair dalam suasana meriah, tetapi tetap menjunjung tinggi adab dan rasa hormat.
Amru, 58 tahun, seniman Didong dari Takengon, mengatakan bahwa Didong adalah “jantung kebudayaan Gayo”.
“Didong bukan sekadar suara atau tepukan. Di dalamnya ada ajaran, ada pesan damai, ada rasa cinta. Kami membawanya dengan hati karena Didong itu warisan yang harus dijaga,” ujarnya.
Siti Arlin, menyebut bahwa Didong selalu menjadi hiburan yang ditunggu masyarakat.
“Kalau ada Didong, kampung terasa hidup. Semua berkumpul, tua-muda duduk bersama. Syairnya bisa membuat orang tertawa, bisa juga membuat menangis,” katanya.

Pertunjukan Didong biasanya berlangsung hingga larut malam. Pemain duduk melingkar, menepuk egen dengan ritme cepat, sementara vokalis melantunkan syair bernuansa puitis. Harmoni dari suara dan tepukan itu menciptakan energi yang memikat siapa pun yang menonton. [Adv]









