
Forumrakyat.co.id — Tradisi Ranup Lampuan telah lama menjadi identitas budaya Aceh dalam menyambut tamu. Hidangan sirih lengkap—terdiri dari daun sirih, pinang, gambir, kapur, dan tembakau—disajikan di atas wadah indah bernama puan. Tradisi ini bukan sekadar suguhan, melainkan simbol penghormatan, keakraban, dan keramahan masyarakat Aceh kepada siapa pun yang datang.
Di berbagai gampong, Ranup Lampuan masih dihadirkan dalam acara-acara penting: mulai dari penyambutan tamu kehormatan, pernikahan, upacara adat, hingga acara keluarga. Setiap komponen dalam ranup memiliki maknanya sendiri—daun sirih melambangkan kehangatan, pinang sebagai kekuatan, sementara kapur penanda keterbukaan hati.

Teungku Idris, tokoh adat dari Aceh Besar, menyebut bahwa tradisi ini mengandung pesan mendalam tentang etika orang Aceh.
“Ranup Lampuan itu bukan sembarang suguhan. Itu simbol bahwa tamu diterima dengan penuh keikhlasan. Bahkan dulu, siapa yang menolak ranup dianggap menolak hubungan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Rahmawati, 42 tahun, warga Pidie, menjelaskan bahwa penyajian ranup membutuhkan ketelitian.
“Sirihnya harus segar, pinangnya dibelah rapi. Puan-nya pun biasanya diwariskan turun-temurun. Ketika kami menyajikan ranup, itu tandanya kami membuka pintu hati,” katanya.
Dalam prosesi penyambutan, puan biasanya dibawa oleh perempuan berpakaian adat Aceh, melangkah perlahan sambil mengangkat puan setinggi dada. Gerakan ini menandakan rasa hormat dan kerendahan hati. Di beberapa daerah, alunan syair ranup turut mengiringi prosesi, menciptakan suasana sakral sekaligus hangat. [Adv]










