Forumrakyat.co.id – Di balik gemerlap adat pernikahan Aceh Timur, tersimpan seni yang memukau: merangkai sirih. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol kemuliaan, penghormatan, dan kreativitas masyarakat Aceh Timur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sebuah rumah adat di Kecamatan Idi Rayeuk, tampak seorang ibu membungkuk, tangannya lihai merangkai daun sirih, pinang, gambir, dan kapur menjadi sebuah hiasan yang memukau. Hantaran ini, dikenal dengan sebutan ranup meususon atau ranup hias, selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari pernikahan adat Aceh.
“Merangkai sirih itu bukan hanya soal menata daun. Setiap helai sirih dan hiasan yang kita buat mengandung doa, penghormatan, dan harapan baik untuk pengantin,” ujar Nurlaila, salah seorang perajin sirih.

Bentuk-bentuk modern dari ranup meususon kini semakin kreatif. Dari tas sirih, merak, hingga tengkulok sirih, setiap rangkaian dihias dengan bunga dan daun pandan untuk menambah keindahan visual. Tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi media pemberdayaan ekonomi. Banyak keluarga kini menerima pesanan rangkaian sirih untuk acara pernikahan, menjadikan keterampilan ini sumber penghasilan yang membanggakan.
Selain sebagai simbol kemuliaan, merangkai sirih juga berfungsi sebagai jembatan komunikasi antar keluarga.
“Memberikan sirih berarti kita menghormati tamu dan mempererat hubungan. Ini bentuk komunikasi yang halus tapi bermakna,” tambah Nurlaila.
Di Aceh Timur, pelestarian tradisi ini mendapatkan perhatian serius. Beberapa desa mengadakan pelatihan merangkai sirih bagi generasi muda, agar seni ini tidak hilang ditelan zaman modern. Dari sekadar daun sirih hingga karya seni yang memikat, tradisi ini terus hidup, membuktikan bahwa warisan budaya bisa selaras dengan kreativitas dan ekonomi lokal.

Bagi wisatawan atau pengunjung yang datang ke Aceh Timur, menyaksikan proses merangkai sirih bukan hanya pengalaman budaya, tapi juga perjalanan visual yang memanjakan mata. Setiap rangkaian sirih yang tertata rapi adalah simbol kemakmuran, keindahan, dan persatuan, yang membentuk wajah asli budaya Aceh Timur.
Kalau kamu mau, saya bisa buatkan versi lebih dramatis dan eksotis wisata , yang bisa dibaca seperti feature majalah perjalanan atau wisata budaya lebih banyak deskripsi visual dan suasana lokal. Itu bakal lebih menarik bagi pembaca umum dan turis. [Adv]








