Forumrakyat.co.id |Pidie Jaya : Macan Asia Aceh Barat bersama tim relawan berhasil menembus medan berat hingga ke Kabupaten Pidie Jaya untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak banjir bandang. Aksi ini dilakukan dengan menerobos jalur sulit yang masih dipenuhi longsor, mulai dari Nagan Raya, Takengon, Bener Meriah, hingga akhirnya tiba di Pidie Jaya.
Alhamdulillah, bantuan berupa paket sembako serta santunan untuk anak yatim dan para janda berhasil didistribusikan dengan lancar. Kehadiran relawan di wilayah terdampak menjadi secercah harapan di tengah keterbatasan akses dan kondisi pascabencana yang masih menyisakan luka mendalam.
Tim Macan Asia mulai bergerak pada Sabtu, 17 Januari 2026, bertolak dari Markas Macan Asia Aceh Barat di Jalan Lintas Meulaboh–Banda Aceh dengan tiga armada double cabin. Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua Macan Asia Aceh Barat Ramli MS, didampingi Bendahara Evi Juwinda, dewan pakar, serta jajaran pengurus lainnya.
Distribusi bantuan pertama dilakukan di Gampong Kuta Tengoh, Kecamatan Beutong, kemudian dilanjutkan ke wilayah Takengon dan Bener Meriah. Hingga malam hari, tim masih menurunkan bantuan di Simpang Tiga Redelong, Bener Meriah, sekitar pukul 22.00 WIB. Setelah bermalam di Bata Iliek, rombongan kembali melanjutkan misi kemanusiaan usai Salat Subuh menuju Gampong Blang Awe, Pidie Jaya.
Di lokasi tersebut, bantuan difokuskan pada Dayah Sirajil Huda Al-Aziziyah, salah satu pondok pesantren yang terdampak parah akibat banjir bandang. Bencana tersebut menghancurkan ruang belajar dan tempat mengaji santri hingga sebagian besar tidak lagi dapat digunakan.
Pimpinan Dayah Sirajil Huda Al-Aziziyah, Abati Dr. Ikhwani Daidsyah, S.HI., MA, kepada tim Forum Rakyat menyampaikan bahwa kerusakan tersebut sangat mengganggu proses belajar mengajar para santri.
“Kondisi tempat belajar santri rusak parah dan sebagian besar tidak bisa digunakan lagi. Kami sangat mengharapkan bantuan dari pihak terkait untuk membangun kembali. Jika hanya mengandalkan kemampuan kami, tentu membutuhkan waktu lama karena keterbatasan dana. Dayah ini dibangun dari sumbangan para donatur dan wali santri,” ungkapnya penuh harap.
Sementara itu, Ketua Macan Asia Aceh Barat Ramli MS menegaskan bahwa meskipun banjir telah berlalu, dampak yang ditinggalkan masih membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.
“Banjirnya memang sudah surut, tetapi dampak pascabanjir inilah yang perlu perhatian serius. Jangan sampai masyarakat dibiarkan berjuang sendiri,” ujarnya.
Ramli juga membandingkan penanganan bencana saat ini dengan pengalaman masa lalu. Ia menyebutkan bahwa pada peristiwa tsunami Aceh, masyarakat membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk mendapatkan hunian sementara. Namun kini, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, hunian sementara dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari dua bulan dan siap dihuni.
Aksi kemanusiaan ini menjadi potret nyata bahwa di tengah keterbatasan dan medan ekstrem, nurani sosial masih hidup dan bergerak. Kehadiran relawan bukan hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga harapan bagi anak-anak yatim, para janda, serta santri yang kehilangan ruang belajar mereka.
Rusaknya fasilitas pendidikan dayah bukan sekadar kerusakan fisik bangunan, melainkan ancaman serius terhadap masa depan generasi Aceh. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi melahirkan krisis pembelajaran berkepanjangan, terutama bagi santri dari keluarga kurang mampu.
Kehadiran Macan Asia Aceh Barat di wilayah terdampak sekaligus menjadi alarm bagi semua pihak bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada fase darurat semata, melainkan harus berlanjut hingga pemulihan menyeluruh agar masyarakat dapat bangkit dan menata kembali kehidupannya.
(Zaini Dahlan / Forum Rakyat)






