Forumrakyat.co.id |Aceh Barat – Panglima Laot Lhok Kuala Bubon menggelar kenduri laot dan Rateb ribee (zikir seribu) yang berlangsung khidmat pada Rabu pagi di Lapangan Sepak Bola Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, 21 Januari 2026.
Kegiatan tersebut diawali dengan prosesi pelantikan Panglima Laot Lhok Kuala Bubon yang dalam hal ini diwakili oleh Wakil Bupati Aceh Barat. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Panglima Laot Lhok Kuala Bubon. Sementara itu, pelaksanaan Rateb ribee dijadwalkan kembali berlangsung pada malam hari di lokasi yang sama sebagai bentuk doa dan rasa syukur masyarakat nelayan.
Hadir dalam acara kenduri laot tersebut antara lain Wakil Bupati Aceh Barat, Kasdim, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan, unsur Muspika Kecamatan Samatiga, para tokoh adat, serta para Panglima Laot Lhok yang ada di Kabupaten Aceh Barat.
Kenduri laot merupakan tradisi turun-temurun masyarakat nelayan Aceh yang dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas hasil laut, sekaligus upaya melestarikan kearifan lokal dan adat istiadat yang telah diwariskan sejak zaman dahulu hingga kini.
Usai dilantik, Panglima Laot Lhok Kuala Bubon, Saifullah, kepada awak media menyampaikan sejumlah persoalan krusial yang selama ini dihadapi para nelayan. Ia menyoroti kondisi muara sungai yang semakin dangkal sehingga sangat mengganggu aktivitas sandar perahu dan kapal nelayan“Kami berharap ke depan ada perhatian khusus dari dinas terkait untuk menangani pendangkalan muara sungai ini, karena sangat vital bagi keselamatan dan kelangsungan aktivitas nelayan,” ujar Saifullah.
Saifullah juga memaparkan visi dan misinya sebagai Panglima Laot, yakni mempererat silaturahmi antar nelayan serta mempersatukan warga nelayan dalam menghadapi berbagai persoalan bersama. Menjawab pertanyaan awak media Forum Rakyat terkait kendala utama yang dihadapi nelayan, Saifullah menjelaskan bahwa wilayah Kuala Bubon mengalami dua musim ekstrem dalam setahun.
“Ketika musim timur, terjadi pendangkalan muara sungai. Sebaliknya, saat musim barat, kami menghadapi abrasi pantai akibat ombak besar,” jelasnya. Ia menambahkan, pada masa ombak besar terdapat dua persoalan utama, yakni penimbunan dan pengerukan muara pantai, sehingga diperlukan penanganan khusus dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Lebih lanjut, Saifullah menilai pemasangan batu gajah di pesisir pantai dan muara sungai butuh penambahan batu gajah di muara kuala bubon sekitar 250 meter kiri dan kanan karena batu gajah yang sudah ada belum memberikan dampak signifikan. Pasalnya, saat musim barat dengan gelombang besar, batu tersebut tidak terlihat dan kerap dilintasi perahu nelayan, yang berpotensi membahayakan kapal.
“Kondisi ini jika dibiarkan akan berdampak buruk bagi kapal nelayan. Selain itu, jumlah kapal nelayan juga terus bertambah, sehingga kami berharap adanya penambahan dermaga kapal,” pungkasnya.
panglima laot juga berharap agar kedepan adanya penambahan BBM karena selama ini hanya 60 persen yang terpenuhi seharusnya setiap kapal memerlukan 40 liter BBM.
Sementara itu, wakil bupati Aceh Barat, Said Fadil, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu sektor unggulan kabupaten Aceh Barat yang memiliki potensi besar untuk dapat terus dikembangkan.
Pemkab menegaskan dan berkomitmen mendukung kesejahteraan nelayan seperti melalui peningkatan infrastruktur, pelatihan hingga peningkatan keterampilan masyarakat nelayan.
ia juga mengimbau para nelayan agar membentuk kelompok-kelompok nelayan .
“Nelayan harus kompak, saling bahu-membahu agar sektor kelautan dan perikanan di Aceh Barat terus tumbuh,” kata Said Fadil. Ia menambahkan bahwa pihaknya baru-baru ini telah bertemu dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan berharap ke depan berbagai aspirasi nelayan dapat direalisasikan.
(Zaini Dahlan / Forum Rakyat)






