Teheran, FR – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan rudal balistik ke kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, sebagai respons atas operasi militer terbaru Washington bersama Israel.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut empat rudal balistik ditembakkan ke arah kapal induk tersebut dalam operasi yang mereka sebut sebagai bagian dari “True Promise 4”. Klaim itu disampaikan melalui kantor humas IRGC dan dikutip sejumlah media regional, termasuk The Times of Israel.
Namun, United States Department of Defense (Pentagon) membantah bahwa kapal induk mereka terkena serangan langsung. Dalam konferensi pers di Washington, pejabat pertahanan AS menegaskan tidak ada kerusakan pada USS Abraham Lincoln, tetapi mengonfirmasi adanya korban jiwa di pihak militer Amerika dalam operasi terpisah yang berlangsung di wilayah Iran.
“Tidak ada bukti bahwa kapal induk kami terkena rudal. Namun kami kehilangan tiga personel dalam operasi yang sedang berlangsung,” ujar seorang pejabat Pentagon, seperti dilaporkan sejumlah media internasional.
Latar Belakang Eskalasi
Ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan konflik lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan sistem pertahanan udara diaktifkan menyusul dugaan serangan udara di beberapa lokasi strategis.
Pihak Iran menyebut langkah tersebut sebagai balasan atas “agresi militer” yang mereka klaim terjadi pada akhir pekan lalu. Sementara itu, Washington belum merinci detail operasi yang menewaskan personelnya, selain menyebutnya sebagai bagian dari misi keamanan regional.
Perang Klaim dan Perang Narasi
Hingga kini belum ada verifikasi independen yang memastikan apakah benar terjadi peluncuran rudal yang menargetkan kapal induk AS tersebut. Situasi di kawasan Teluk dilaporkan masih tegang dengan peningkatan kewaspadaan militer di kedua pihak.
Analis keamanan menilai, perang pernyataan antara Teheran dan Washington berpotensi memperluas konflik jika tidak segera diredam melalui jalur diplomatik.
Perkembangan situasi ini masih terus dipantau, sementara komunitas internasional menyerukan penahanan diri guna mencegah eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.






