Forumrakyat.co.id |Aceh Barat, –Masuknya investasi dari Uni Emirat Arab memberi angin segar bagi pembangunan Aceh. Modal mengalir, peluang terbuka, dan optimisme ekonomi kembali menguat. Namun di balik euforia itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah investasi hanya soal uang, atau juga soal arah peradaban?
Ustadz Syamsul Kamal mengingatkan, Aceh tidak boleh sekadar menjadi tempat masuknya modal tanpa membangun kekuatan dari dalam. Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa kejayaan Aceh di masa lalu terutama pada era Sultan Iskandar Muda tidak hanya ditopang oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh integrasi nilai, ulama, dan spiritualitas masyarakat.
“Ekonomi boleh tumbuh, tetapi ruh harus tetap memimpin arah,” ujarnya.
Ia menilai, pembangunan Aceh hari ini cenderung berfokus pada aspek fisik dan eksternal, sementara pembangunan manusia dan spiritualitas belum mendapatkan porsi yang seimbang. Akibatnya, kemajuan yang terlihat belum tentu diiringi dengan ketenangan sosial dan keadilan yang dirasakan masyarakat.
Dalam perspektif Islam, lanjutnya, keberkahan tidak hanya lahir dari aktivitas ekonomi, tetapi dari kualitas iman dan takwa. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-A‘raf: 96) yang menegaskan bahwa keberkahan datang ketika masyarakat beriman dan bertakwa.
“Kalau ruh lemah, investasi hanya akan menjadi angka. Tapi kalau ruh kuat, investasi bisa menjadi keberkahan,” tegasnya.
Secara sosiologis, ia juga mengingatkan bahwa pembangunan yang terlalu materialistis berisiko melahirkan kegelisahan sosial. Pertumbuhan ekonomi bisa meningkat, tetapi makna hidup dan rasa keadilan justru melemah.
Aceh, menurutnya, memiliki keistimewaan melalui kekhususan dalam agama, adat, dan tata kelola pemerintahan. Ini menjadi peluang besar untuk membangun model pembangunan yang tidak hanya berbasis ekonomi, tetapi juga nilai dan spiritualitas.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan: investasi tetap didorong, tetapi pembangunan ruh manusia tidak boleh diabaikan.
“Modal boleh datang dari luar, tapi pusatnya harus dibangun dari dalam,” pungkasnya.
Dengan peluang besar yang dimiliki saat ini, Aceh dinilai tidak kekurangan sumber daya maupun perhatian global. Tantangan utamanya adalah memastikan bahwa pembangunan tidak kehilangan arah karena pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh investasi, tetapi oleh nilai yang menghidupkannya.
( Zaini Dahlan / forum rakyat )







