Forumrakyat.co.id – Sejarah Aceh tidak hanya dipenuhi kisah peperangan dan perlawanan terhadap penjajah, tetapi juga mencatat hubungan diplomatik yang kuat dengan dunia Islam, khususnya Kekhalifahan Turki Utsmani. Salah satu peninggalan yang lahir dari hubungan tersebut adalah Meriam Lada Sicupak, meriam legendaris yang hingga kini dikenal sebagai simbol persahabatan antara Kesultanan Aceh dan Turki.
Menurut HM Zainuddin dalam buku Singa Aceh: Biografi Seri Sultan Iskandar Muda (1957), hubungan Aceh dan Turki telah terjalin sejak masa pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah Al-Qahar (1557–1568). Pada masa itu, Aceh menjalin persahabatan dengan Sultan Salim Khan dari Turki Utsmani. Sebagai bentuk dukungan, Turki mengirim puluhan ahli artileri untuk melatih pasukan Aceh dalam penggunaan meriam dan taktik militer.
Hubungan tersebut terus berlanjut pada masa sultan-sultan Aceh berikutnya. Turki bahkan memberikan perlindungan politik kepada Aceh dan mengizinkan kapal perang Kesultanan Aceh menggunakan bendera Turki Utsmani. Kerja sama ini menjadi penting karena Aceh saat itu menghadapi ancaman Portugis yang menguasai Malaka dan berusaha mengendalikan jalur perdagangan di Selat Malaka.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607–1636), hubungan dengan Turki sempat merenggang karena fokus kerajaan diarahkan untuk memperkuat kondisi dalam negeri. Namun setelah Aceh mencapai puncak kejayaannya, Sultan Iskandar Muda kembali membuka hubungan diplomatik dengan Turki.
Untuk tujuan tersebut, Sultan menyiapkan tiga kapal yang membawa lada sebagai hadiah bagi Sultan Turki. Ia juga mengutus Panglima Nyak Dum sebagai pemimpin rombongan diplomatik. Bersama surat resmi yang ditulis dalam bahasa Arab, rombongan berangkat menuju Konstantinopel, ibu kota Turki Utsmani.
Perjalanan itu ternyata tidak mudah. Armada Aceh diterpa badai dan keluar dari jalur pelayaran. Rombongan harus menempuh perjalanan panjang melalui berbagai wilayah di Asia dan Afrika sebelum akhirnya tiba di Turki. Waktu tempuh yang semula diperkirakan singkat berubah menjadi hampir dua tahun.
Akibat lamanya perjalanan, bekal makanan dan kebutuhan pelayaran menipis. Sebagian besar lada yang dibawa sebagai hadiah terpaksa dijual untuk membiayai perjalanan. Saat tiba di Konstantinopel, hanya tersisa beberapa karung lada.
Menghadapi situasi tersebut, Panglima Nyak Dum mengambil secupak lada dari salah satu karung yang tersisa dan membungkusnya dengan kain kuning sebagai simbol persembahan Sultan Aceh kepada Sultan Turki.
Setelah diterima di istana, Panglima Nyak Dum menyerahkan surat Sultan Iskandar Muda dan secupak lada tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar hadiah terpaksa dijual karena perjalanan yang jauh dan penuh hambatan. Penjelasan itu diterima dengan baik oleh Sultan Turki.
Dalam pertemuan tersebut, Panglima Nyak Dum turut menyampaikan kondisi Aceh yang menghadapi gangguan Portugis di Selat Malaka. Turki kemudian menegaskan komitmennya untuk terus menjaga hubungan baik dengan Aceh dan memberikan dukungan terhadap kerajaan Islam di ujung barat Nusantara itu.

Sebagai tanda persahabatan, Sultan Turki menghadiahkan sebuah meriam besar beserta perlengkapan militer lainnya kepada Kesultanan Aceh. Meriam itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak, merujuk pada secupak lada yang menjadi simbol diplomasi Aceh di Turki.
Selain mengirim meriam, Turki juga menugaskan sejumlah ahli militer dan pelayaran untuk ikut kembali bersama rombongan Aceh. Kehadiran mereka turut memperkuat kemampuan pertahanan Kesultanan Aceh pada masa berikutnya.
Dalam sejarah militer Aceh, meriam menjadi salah satu senjata utama yang digunakan untuk mempertahankan wilayah kerajaan. Tradisi penggunaan meriam berkembang pesat dan terbukti efektif dalam menghadapi berbagai serangan musuh, termasuk saat Perang Aceh melawan Belanda pada abad ke-19.
Ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama ke Aceh pada tahun 1873, meriam-meriam yang ditempatkan di sepanjang pesisir Banda Aceh memberikan perlawanan sengit terhadap armada perang Belanda. Tembakan dari daratan Aceh bahkan ikut berperan dalam menggagalkan serangan awal Belanda yang berujung pada tewasnya Panglima Belanda, Mayor Jenderal J.H.R. Kohler.
Meski pada akhirnya Belanda berhasil menguasai istana Kesultanan Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman, berbagai catatan menyebutkan bahwa mereka menemukan puluhan hingga hampir seratus meriam di sekitar pusat pemerintahan Aceh. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Aceh pernah memiliki kekuatan artileri yang cukup besar untuk ukuran kerajaan di kawasan Asia Tenggara.
Hingga kini, Meriam Lada Sicupak tetap dikenang sebagai salah satu simbol penting dalam sejarah Aceh. Ia bukan sekadar senjata perang, melainkan bukti bahwa Kesultanan Aceh pernah menjalin hubungan internasional yang kuat dengan Turki Utsmani. Dari secupak lada yang sederhana, lahirlah sebuah kisah diplomasi yang memperlihatkan kecerdasan politik, keteguhan para utusan Aceh, serta posisi strategis Aceh dalam jaringan dunia Islam pada masanya. Adv









