Jakarta, FR – Tokoh pers dan aktivis hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia, Wilson Lalengke, menjadi salah satu pembicara dalam Telekonferensi Internasional yang diselenggarakan Delegasi Federasi Rusia untuk Negosiasi Wina tentang Keamanan Militer dan Pengendalian Senjata, Jumat (10/7/2026).
Forum yang digelar secara daring melalui Zoom itu diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai negara. Peserta terdiri atas perwakilan resmi Federasi Rusia di sejumlah negara, pakar keamanan, praktisi militer, jurnalis internasional, hingga aktivis HAM.
Diskusi tersebut dipimpin oleh Kepala Delegasi Federasi Rusia untuk Negosiasi Wina tentang Keamanan Militer dan Pengendalian Senjata, Iulia Zhdanova, dari Wina, Austria. Dalam kesempatan itu, Wilson Lalengke menyampaikan pandangannya melalui pidato berjudul The Cost of Conflict and the Imperative of Peace (Biaya Konflik dan Keharusan untuk Damai).
Dalam pemaparannya, Wilson menyoroti dampak kemanusiaan yang ditimbulkan akibat konflik bersenjata, terutama terhadap masyarakat sipil. Ia menilai perang tidak hanya menghadirkan persoalan strategi militer dan geopolitik, tetapi juga menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan bagi warga sipil.
Wilson menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara yang telah membuka ruang dialog internasional mengenai isu keamanan global. Menurutnya, di balik data statistik, strategi militer, maupun perkembangan persenjataan, terdapat kehidupan manusia yang menjadi korban konflik.
Ia juga menyoroti persoalan pemasangan ranjau di jalur publik serta terganggunya distribusi kebutuhan pokok, seperti makanan, obat-obatan, dan layanan kesehatan. Menurut Wilson, kondisi tersebut memperburuk krisis kemanusiaan dan perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak.
Dalam pidatonya, Wilson mengutip pemikiran filsuf Jerman, Immanuel Kant, mengenai Categorical Imperative, yakni prinsip moral yang menegaskan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan bukan sekadar alat untuk mencapai kepentingan tertentu.
Berdasarkan prinsip tersebut, Wilson menilai setiap pihak perlu menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prioritas utama dalam penyelesaian konflik. Ia mengingatkan bahwa baik warga sipil maupun personel militer sama-sama menghadapi risiko kehilangan nyawa dan masa depan akibat perang.
Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) itu juga menegaskan bahwa kehadirannya dalam forum internasional tersebut merupakan bentuk partisipasi Indonesia dalam menyuarakan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur damai.
Ia menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan dialog dan diplomasi guna mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. Menurutnya, semakin lama peperangan berlangsung, semakin besar pula dampak kemanusiaan yang harus ditanggung masyarakat.
Menutup pidatonya, Wilson mengajak komunitas internasional untuk terus mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan. Ia berharap forum-forum internasional dapat menjadi sarana membangun solusi diplomatik yang mengedepankan penghormatan terhadap kehidupan manusia serta penyelesaian konflik secara damai.
(TIM/Red)







