Forumrakyat.co.id – Di Aceh, kata-kata tidak sekadar menjadi alat untuk berbicara. Dalam perjalanan panjang sejarah masyarakat Aceh, kata-kata dapat menjadi nasihat, pedoman, identitas, bahkan kekuatan yang membentuk cara seseorang memandang kehidupan.
Warisan tersebut salah satunya hadir melalui hadih maja, kumpulan ungkapan, peribahasa, dan petuah yang diwariskan secara turun-temurun. Di balik kalimat-kalimatnya yang sederhana tersimpan pandangan masyarakat Aceh tentang agama, adat, kehormatan, kepemimpinan, tanggung jawab, keberanian, serta hubungan antarmanusia.
Namun, tradisi lisan Aceh memiliki lapisan yang lebih luas. Selain hadih maja, terdapat pula karya sastra seperti Hikayat Prang Sabi yang dalam sejarahnya memainkan peranan penting dalam membentuk pandangan keagamaan dan moral masyarakat Aceh pada masa perang melawan kolonialisme Belanda.
Jika hadih maja lebih banyak berfungsi sebagai cermin kebijaksanaan kehidupan sehari-hari, Hikayat Prang Sabi menunjukkan bagaimana sebuah teks dapat membangun keyakinan, memberikan makna terhadap perjuangan, serta membentuk kesadaran kolektif.
Dari sinilah terlihat satu karakter penting dalam kebudayaan Aceh: nilai tidak berhenti sebagai kata-kata. Nilai dapat diinternalisasi sedemikian dalam sehingga memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan dan menentukan sikap hidupnya.
Hadih Maja, Sekolah Moral Masyarakat Aceh
Jauh sebelum pendidikan modern berkembang, keluarga dan lingkungan sosial menjadi ruang utama pembentukan karakter masyarakat Aceh. Hadih maja menjadi salah satu media pendidikan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Christiaan Snouck Hurgronje dalam De Atjèhers, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Aceh di Mata Kolonialis, mencatat pentingnya tradisi tutur dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Snouck Hurgronje juga mencatat peranan perempuan, khususnya para ibu, dalam mewariskan ungkapan dan pengetahuan tradisional kepada anak-anak. Melalui percakapan sehari-hari, cerita, nasihat, dan petuah, nilai-nilai kehidupan ditanamkan sejak usia dini.
Dengan demikian, rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang pendidikan pertama. Orang tua mengajarkan anak bagaimana berbicara, menghormati orang lain, memahami adat, menjalankan agama, dan mengambil keputusan.
Hadih maja menjadi semacam kurikulum moral yang disampaikan tanpa ruang kelas dan tanpa buku pelajaran.
Salah satu ungkapan yang sangat dikenal berbunyi:
“Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.”
Ungkapan tersebut menggambarkan pembagian ranah adat, hukum, qanun, dan reusam dalam pemahaman tradisional masyarakat Aceh.
Ada pula ungkapan:
“Ata han jeut ta meunari, ta peugah tika hana get.”
Maknanya, seseorang yang tidak pandai menari justru menyalahkan tikar tempat ia menari. Pesannya adalah agar manusia tidak mudah mencari kesalahan di luar dirinya ketika kegagalan berasal dari kelemahannya sendiri.
Sementara:
“Awai buet, dudoe pike; teulah oh akhe, keupeu lom guna.”
mengandung pesan agar seseorang berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Penyesalan setelah keputusan diambil tidak banyak berguna.
Dari berbagai ungkapan tersebut terlihat bahwa hadih maja bukan sekadar peribahasa. Ia merupakan rekaman cara masyarakat Aceh memahami kehidupan.
Dari Petuah Kehidupan ke Nilai Kehormatan
Dalam kebudayaan Aceh, nilai agama, adat, kehormatan, keberanian dan tanggung jawab memiliki hubungan yang erat.
Karena itu, untuk memahami sejarah masyarakat Aceh, tidak cukup hanya melihat peristiwa politik dan peperangan. Kita juga perlu melihat sistem nilai yang hidup di dalam masyarakat.
Di sinilah Hikayat Prang Sabi menjadi penting.
Hikayat Prang Sabi bukan sekadar karya sastra perang. Dalam konteks sejarahnya, teks tersebut mengandung pesan keagamaan dan moral yang memberikan makna terhadap perjuangan menghadapi kekuatan kolonial.
Dalam artikelnya “Menggali Makna Jihad bagi Masyarakat Aceh: Studi Hikayat Prang Sabi”, yang dimuat dalam buku Memetakan Masa Lalu Aceh (2011), Amirul Hadi menganalisis bagaimana Hikayat Prang Sabi mengonstruksi sejumlah nilai yang hidup dalam masyarakat Aceh.
Di antaranya nilai jihad, kesucian dan kemuliaan membela agama Islam, harga diri, kehormatan, kematian yang bermakna (meaningful death), serta imajinasi mengenai kehidupan akhirat.
Dalam konteks perang Aceh melawan Belanda, nilai-nilai tersebut dapat menjadi justifikasi moral dan sumber kekuatan psikologis bagi rakyat-pejuang Aceh.
Ketika Teks Menjadi Pembentuk Mental
Kekuatan Hikayat Prang Sabi tidak hanya berada pada kata-kata yang terkandung di dalamnya. Kekuatan tersebut juga terletak pada cara teks itu disampaikan, diingat, dinyanyikan, dan diwariskan melalui tradisi tutur.
Pesan keagamaan dan kepahlawanan yang disampaikan secara berulang dapat membentuk cara pandang terhadap agama, kehormatan, pengorbanan, perjuangan, dan kematian.
Dalam konteks sejarah perang Aceh, hal tersebut menunjukkan bagaimana sastra dapat berfungsi sebagai pembentuk kesadaran kolektif.
Namun, pengaruh nilai tidak selalu berhenti pada tindakan kolektif.
Pada titik inilah fenomena yang dalam sejumlah kajian disebut “Aceh Pungo” menjadi menarik untuk dilihat dari perspektif sejarah dan sosial.

Spiritualitas “Aceh Pungo”
Pembahasan mengenai hubungan antara nilai, keyakinan dan tindakan individual tersebut juga dikaji oleh Bulman Satar dalam artikelnya berjudul “Spiritualitas ‘Aceh Pungo’”, yang dimuat di SerambiNews.com (Serambi Indonesia), 13 Januari 2015.
Dalam tulisannya, Bulman Satar mempertanyakan mengapa tindakan yang disebut sebagai Aceh Pungo dalam konteks sejarah justru dapat tampil dalam bentuk yang sangat individual dan independen.
Jika nilai perjuangan hanya dipahami sebagai nilai kolektif, maka tindakan yang muncul semestinya berbentuk aksi bersama yang melibatkan kelompok atau orang dalam jumlah besar.
Namun, menurut pembahasan Bulman Satar, sejumlah pelaku Aceh Pungo justru melakukan aksinya secara individual, dengan kesadaran dan persiapan sendiri.
Dari sini muncul pertanyaan yang lebih mendalam: apa yang sebenarnya dipertaruhkan oleh seseorang sehingga ia berani melakukan tindakan ekstrem?
Atau jika pertanyaan tersebut dibalik:
Apa yang dianggap hilang apabila seseorang memilih untuk tidak melakukan tindakan tersebut?
Pertanyaan ini membawa pembahasan dari wilayah nilai kolektif menuju wilayah nilai personal, keyakinan dan makna hidup individu.
Bulman Satar mengaitkan pembahasan tersebut dengan kajian Amirul Hadi mengenai Hikayat Prang Sabi. Nilai-nilai seperti jihad, kesucian membela agama, harga diri, kehormatan, kematian yang bermakna dan imajinasi tentang syurga dapat menjadi bagian dari konstruksi moral masyarakat Aceh pada masa perang.
Namun, ketika nilai-nilai tersebut mengalami internalisasi yang sangat kuat, nilai kolektif dapat berkembang menjadi keyakinan personal.
Seseorang tidak lagi membutuhkan dorongan langsung dari kelompok untuk mengambil keputusan. Ia merasa bertindak berdasarkan apa yang telah diyakininya sebagai nilai kehidupan.
“Lebih Baik Saya Mati daripada Hidup Begini”
Dalam artikel “Spiritualitas ‘Aceh Pungo’”, Bulman Satar juga mengangkat kisah seorang pejuang Aceh yang gagal melakukan aksinya karena terlebih dahulu ditangkap Belanda.
Pejuang tersebut mengakui tindakannya dan menyampaikan sebuah kalimat yang menggambarkan kedalaman keyakinan personal:
“Lebih baik saya mati daripada hidup begini.”
Kalimat tersebut menarik karena tidak hanya berbicara mengenai persoalan religius.
Ia juga menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam tentang harga diri, kehormatan, kebebasan dan makna kehidupan.
Di sinilah fenomena tersebut dapat dibaca sebagai proses ketika nilai yang semula hidup dalam ruang sosial dan budaya kemudian mengalami internalisasi menjadi keyakinan individual.
Namun, memahami proses tersebut tidak berarti membenarkan kekerasan. Fenomena tersebut justru perlu dipelajari secara kritis untuk memahami bagaimana ide, keyakinan, pengalaman sejarah, tekanan politik dan kondisi sosial dapat berinteraksi dalam membentuk keputusan ekstrem seseorang.
Dari Hadih Maja hingga Hikayat Prang Sabi
Jika ditarik dalam garis kebudayaan yang lebih panjang, hadih maja dan Hikayat Prang Sabi sama-sama memperlihatkan kekuatan tradisi lisan Aceh dalam membentuk manusia.
Hadih maja mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya menjalani kehidupan.
Ia mengajarkan agar manusia berpikir sebelum bertindak, menjaga kehormatan, menghormati orang lain, bertanggung jawab dan tidak mudah menyalahkan keadaan.
Sementara Hikayat Prang Sabi menunjukkan bagaimana teks keagamaan dan sastra dapat membangun makna perjuangan ketika masyarakat menghadapi tekanan kolonial.
Sedangkan kajian mengenai Aceh Pungo memperlihatkan sisi lain dari proses tersebut: bagaimana nilai yang berkembang dalam masyarakat dapat mengalami internalisasi hingga menjadi keyakinan personal.
Ketiganya berada dalam satu ruang kebudayaan yang sama, yakni ruang tempat kata-kata diwariskan, nilai dibentuk, dan pandangan hidup diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kata-kata masuk ke dalam ingatan.
Ingatan membentuk keyakinan.
Keyakinan membentuk cara pandang.
Dan cara pandang dapat memengaruhi tindakan.
Menjaga Warisan, Memahami Sejarah
Di tengah modernisasi dan perubahan pola komunikasi, tradisi seperti hadih maja menghadapi tantangan. Banyak generasi muda mengenal istilahnya, tetapi tidak selalu memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Padahal, kehilangan hadih maja bukan sekadar kehilangan sejumlah peribahasa.
Yang berpotensi hilang adalah cara suatu masyarakat membaca kehidupan.
Hadih maja menyimpan pengalaman sosial yang dikumpulkan selama berabad-abad. Ia berbicara tentang bagaimana menghadapi kegagalan, menjaga hubungan sosial, menghormati orang lain, memimpin, bermusyawarah dan mengambil keputusan.
Sementara kisah sejarah seperti Hikayat Prang Sabi mengingatkan bahwa sebuah teks dapat memiliki pengaruh besar ketika bertemu dengan masyarakat yang memiliki keyakinan dan pengalaman sejarah tertentu.
Karena itu, warisan sastra Aceh perlu terus dikaji dan dilestarikan secara kritis.
Bukan untuk menghidupkan kembali kekerasan masa lalu, melainkan untuk memahami bagaimana masyarakat Aceh membangun identitas, keberanian, kehormatan, religiusitas dan pandangan hidupnya.
Pada akhirnya, hadih maja, Hikayat Prang Sabi dan kajian mengenai Aceh Pungo memperlihatkan satu hal penting: kebudayaan tidak hanya hidup di museum atau buku sejarah. Kebudayaan hidup di dalam pikiran manusia.
Ketika sebuah nilai terus diucapkan, diwariskan, direnungkan dan dipraktikkan, nilai tersebut dapat menjadi bagian dari kepribadian seseorang.
Itulah sebabnya warisan leluhur Aceh tidak cukup hanya dilestarikan dalam bentuk teks.
Ia harus dipahami.
Sebab di balik satu kalimat hadih maja terdapat pengalaman hidup.
Di balik sebuah hikayat terdapat pandangan dunia.
Dan di balik nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi terdapat gambaran tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh sebuah masyarakat.
Hadih maja mengajarkan manusia untuk berpikir sebelum bertindak. Hikayat Prang Sabi menunjukkan kekuatan kata dalam membentuk kesadaran kolektif. Sementara kajian tentang Aceh Pungo memperlihatkan bagaimana nilai yang telah diinternalisasi secara mendalam dapat memengaruhi pilihan individual dalam situasi ekstrem.
Memahami ketiganya secara bersama-sama membantu kita melihat sejarah Aceh bukan hanya sebagai sejarah perang, tetapi sebagai sejarah gagasan, nilai, keyakinan dan cara manusia memberi makna terhadap kehidupannya. Adv








