Tanoh Abee, Ketika Ribuan Manuskrip Menjaga Ingatan Aceh
Forumrakyat.co.id – Di antara kaki Seulawah dan lembah-lembah Aceh Besar, nama Teungku Chik Tanoh Abee masih hidup jauh setelah ia meninggalkan dunia.
Ulama yang dikenal sebagai Syekh Abdul Wahab itu wafat pada 1893 atau 1894, setelah menjalani kehidupan yang lekat dengan ilmu, pendidikan, dan pergolakan Aceh menghadapi kolonialisme Belanda. Ia merupakan salah satu generasi penting keluarga ulama yang mengembangkan Zawiyah atau Dayah Tanoh Abee. Pada masa kepemimpinannya, pusat pendidikan Islam itu mencapai salah satu masa kejayaan, termasuk dalam pengumpulan, penyalinan, dan perawatan kitab-kitab keislaman.
Abdul Wahab bukan sekadar seorang pengajar agama. Ia pernah belajar di Mekkah dan membawa pulang kitab-kitab serta pengetahuan yang diperolehnya selama berada di Tanah Suci. Sejumlah naskah juga disalinnya sendiri. Di Tanoh Abee, kegiatan menyalin kitab kemudian berkembang menjadi tradisi intelektual yang melibatkan para santri.
Di tengah perang Aceh melawan Belanda, Tanoh Abee bahkan menjadi salah satu ruang penting bagi para ulama dan pejuang. Abdul Wahab dikenal memiliki hubungan dekat dengan Teungku Chik Di Tiro. Ia juga dikenal sebagai ulama yang memiliki pengaruh keagamaan dan sosial yang kuat di Aceh.
Namun, warisan terbesar Teungku Chik Tanoh Abee mungkin bukan hanya bangunan dayah atau kisah perjuangannya.
Warisan itu tersimpan dalam lembaran-lembaran tua.
Di rak-rak kayu.
Dalam tulisan tangan yang sebagian mulai pudar.
Dalam kitab yang telah berpindah dari tangan seorang ulama kepada muridnya, lalu kepada generasi berikutnya.
Ribuan manuskrip itulah yang membuat Tanoh Abee lebih dari sekadar sebuah dayah tua.
Ia adalah salah satu rumah bagi ingatan intelektual Aceh.
Dari Ulama ke Ulama
Udara di Seulimeum bergerak pelan di antara pepohonan.
Di kawasan Tanoh Abee, Aceh Besar, suasana seperti membawa orang mundur ke masa ketika ilmu belum tersimpan dalam komputer, katalog digital, atau pangkalan data daring.
Ilmu disimpan dalam lembar demi lembar kertas.
Ditulis dengan tangan.
Disalin dengan ketekunan.
Dibaca berulang kali.
Kemudian diwariskan.
Tradisi itu telah berlangsung selama berabad-abad.
Sejarah awal Tanoh Abee sendiri memiliki lebih dari satu versi. Salah satu riwayat keluarga menghubungkan pendirian dayah dengan keluarga Al-Fairusy yang datang dari Baghdad ke Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Tokoh yang disebut dalam riwayat tersebut adalah Teungku Nayan Al-Fairusy, yang setelah berguru kepada Syekh Baba Daud Rumi kemudian mendirikan pusat pendidikan di Tanoh Abee. Riwayat lain, yang dicatat oleh sejarawan Ali Hasjmy, memberikan versi berbeda mengenai tokoh dan masa pendiriannya.
Perbedaan cerita itu justru memperlihatkan bahwa sejarah Tanoh Abee dibangun melalui ingatan yang panjang.
Yang relatif jelas adalah kesinambungan tradisinya.
Kepemimpinan berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Bersamaan dengan itu, pengetahuan, kitab, sanad keilmuan, dan tanggung jawab merawat perpustakaan juga diwariskan.
Dalam tradisi tersebut, Syekh Abdul Wahab menjadi salah satu tokoh paling menonjol.
Pada masanya, pengumpulan dan penyalinan manuskrip berlangsung dalam skala besar. Ia membawa pulang manuskrip tulisan tangan dan buku cetak dari Mekkah. Ia juga menyalin sejumlah kitab sendiri, termasuk ketika masih berada di Tanah Suci. Catatan dalam manuskrip bahkan memperlihatkan bagaimana ia mencatat keadaan Masjidil Haram dan Ka’bah pada zamannya.
Tanoh Abee pun berkembang bukan hanya sebagai tempat belajar.
Ia menjadi tempat berkumpulnya pengetahuan.
Perpustakaan yang Tumbuh Bersama Zaman
Bayangkan sebuah kitab yang ditulis ketika dunia belum mengenal mesin cetak modern.
Kitab itu dibaca seorang ulama.
Kemudian sampai kepada muridnya.
Murid itu menyalinnya.
Salinan tersebut dibaca lagi.
Puluhan tahun berlalu.
Generasi berganti.
Tetapi kitab tetap tinggal.
Begitulah kira-kira perjalanan sebagian manuskrip yang bertahan di Tanoh Abee.
Koleksi perpustakaan ini dikenal memiliki ribuan naskah dan ratusan judul karya. Dalam sejumlah catatan lama, jumlah koleksi pada masa kejayaannya bahkan disebut mencapai lebih dari 10.000 judul, meskipun angka tersebut perlu dipahami sebagai catatan historis dan tidak serta-merta menggambarkan jumlah naskah yang masih tersisa sekarang.
Setiap manuskrip memiliki cerita sendiri.
Ada yang ditulis di kertas lokal.
Ada yang menggunakan kertas Eropa.
Ada yang merupakan salinan dari karya ulama terdahulu.
Ada pula yang memuat catatan tangan pemilik atau pembacanya.
Kertas-kertas itu pada akhirnya menjadi semacam rekaman perjalanan pengetahuan.
Dari satu halaman, peneliti dapat membaca bukan hanya isi kitab, tetapi juga jejak orang yang pernah memilikinya, tempat kitab itu ditulis, bahkan hubungan intelektual yang menghubungkan Aceh dengan pusat-pusat keilmuan Islam di luar Nusantara.
Karena itu, perpustakaan Tanoh Abee tidak tepat dilihat semata sebagai tempat menyimpan kitab lama.
Ia adalah arsip kehidupan intelektual.
Dari Fikih sampai Ilmu Falak
Isi manuskrip Tanoh Abee memperlihatkan luasnya cakrawala pendidikan Islam masa lalu.
Fikih menjadi salah satu bidang penting.
Kitab-kitab membahas ibadah, muamalah, perkawinan, hubungan sosial, hingga persoalan hukum. Tradisi Mazhab Syafi’i yang kuat di Aceh juga tercermin dalam koleksi keislaman tersebut.
Namun, dunia ilmu yang tersimpan di Tanoh Abee jauh lebih luas.
Ada tasawuf.
Ada tauhid.
Ada tafsir.
Ada hadis.
Ada tata bahasa Arab.
Ada sastra.
Ada pengobatan.
Ada ilmu falak.
Ada pula penanggalan.
Kumpulan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan di dayah pada masa lalu tidak sesempit bayangan bahwa santri hanya mempelajari hukum ibadah.
Ilmu agama berkelindan dengan pengetahuan mengenai kehidupan.
Bahasa diperlukan untuk memahami kitab.
Ilmu falak diperlukan untuk menghitung waktu.
Pengetahuan tentang tanaman dan ramuan berkaitan dengan pengobatan.
Sastra menjadi medium untuk menyampaikan nasihat dan nilai.
Dengan demikian, sebuah perpustakaan seperti Tanoh Abee menyimpan gambaran mengenai bagaimana masyarakat masa lalu memahami dunia.
Ketika Ulama Membaca Langit
Salah satu bagian yang menarik adalah manuskrip yang berkaitan dengan ilmu falak.
Bagi masyarakat masa lalu, langit memiliki fungsi yang sangat praktis.
Pergerakan matahari dan bulan berkaitan dengan waktu salat.
Penanggalan menentukan datangnya Ramadan dan hari raya.
Perhitungan astronomi membantu manusia memahami pergantian waktu.
Karena itu, membaca langit bukan sekadar kegiatan ilmiah.
Ia juga bagian dari kehidupan keagamaan.
Di tangan para ulama, pengamatan terhadap benda-benda langit diterjemahkan menjadi perhitungan dan catatan.
Apa yang dahulu dilakukan dengan pengamatan dan perhitungan manual kini mungkin dapat dihitung dalam hitungan detik dengan perangkat digital.
Tetapi manuskrip membuat kita melihat proses intelektual di balik pengetahuan itu.
Ada ketekunan.
Ada pengamatan.
Ada kesalahan yang mungkin diperbaiki.
Ada pengetahuan yang diwariskan.
Dan ada generasi yang memastikan pengetahuan itu tidak berhenti pada satu orang.
Ilmu yang Dekat dengan Kehidupan
Di antara lembaran-lembaran kitab keagamaan, terdapat pula jejak pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Pengobatan tradisional, misalnya, memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai tumbuhan dan ramuan menjadi bagian dari khazanah intelektual masyarakat.
Akar.
Daun.
Rempah.
Ramuan.
Semua dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan melalui tulisan.
Bagi manusia masa lalu, batas antara ilmu agama dan pengetahuan praktis tidak selalu setegas batas yang kita kenal sekarang.
Seorang ulama dapat membahas fikih sekaligus memahami ilmu falak.
Mengajarkan bahasa Arab sekaligus mengetahui pengobatan.
Membahas tasawuf sekaligus menulis sejarah.
Keluasan koleksi Tanoh Abee menunjukkan bahwa dunia intelektual Aceh pernah berkembang dalam ruang yang saling terhubung seperti itu.
Suara Sastra di Antara Kitab
Manuskrip juga menyimpan suara sastra.
Bahasa Melayu dan Aceh hadir dalam sejumlah karya.
Ada syair.
Ada hikayat.
Ada nasihat.
Ada teks yang merekam nilai keagamaan dan kehidupan sosial.
Dalam masyarakat Aceh, sastra tidak selalu hadir sebagai hiburan.
Ia dapat menjadi sarana pendidikan.
Ia dapat menyampaikan pesan moral.
Bahkan dalam suasana perang, teks keagamaan dan sastra dapat menjadi sumber semangat.
Pada masa perlawanan terhadap Belanda, misalnya, Hikayat Prang Sabi dikenal luas sebagai salah satu karya yang membentuk semangat perjuangan. Di lingkungan Tanoh Abee sendiri, Syekh Abdul Wahab disebut menyusun Nazham Prang Sabi yang antara lain memuat kisah para syuhada Badar dan doa-doa.
Karena itu, membaca manuskrip Aceh berarti juga membaca cara orang Aceh memahami keberanian, pengorbanan, agama, kekuasaan, dan kehidupan.
Ketika Perang Menyentuh Rak Buku
Menjaga manuskrip selama ratusan tahun bukan pekerjaan sederhana.
Apalagi Aceh mengalami perang panjang.
Pada masa setelah Syekh Abdul Wahab, koleksi Tanoh Abee turut menghadapi ancaman perang dan pengungsian.
Salah satu kisah yang tercatat memperlihatkan bagaimana koleksi perpustakaan harus diselamatkan. Sejumlah manuskrip penting dibawa dalam perjalanan pengungsian menggunakan kuda beban. Sebagian lainnya disembunyikan di gua di kawasan Bukit Terbeh dekat Jantho. Namun, ketika manuskrip tersebut hendak diambil kembali, sebagian telah rusak bahkan hancur akibat kelembapan.
Kisah itu memperlihatkan bahwa musuh manuskrip bukan hanya perang.
Ada juga air.
Kelembapan.
Jamur.
Serangga.
Tinta yang memudar.
Kertas yang rapuh.
Dan waktu.
Sebuah naskah yang berhasil bertahan selama ratusan tahun pada dasarnya adalah hasil dari kerja konservasi yang dilakukan lintas generasi.
Di Tanoh Abee, pekerjaan itu berlangsung dalam keluarga dan komunitas.
Mereka mungkin tidak selalu memiliki laboratorium konservasi modern.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tak kalah penting: kesadaran bahwa kitab-kitab tersebut harus tetap dijaga.
Dari Rak Kayu ke Dunia Digital
Kini tantangannya berubah.
Jika dahulu manuskrip harus diselamatkan dari perang dan pengungsian, sekarang tantangannya adalah bagaimana membuat naskah tetap dapat dibaca tanpa terus-menerus membahayakan fisiknya.
Di sinilah digitalisasi menjadi penting.
Manuskrip yang telah berusia ratusan tahun tidak dapat diperlakukan seperti buku baru. Setiap pembukaan halaman, pemindahan, atau penyentuhan berulang memiliki risiko terhadap kondisi fisiknya.
Digitalisasi menawarkan jalan lain.
Isi manuskrip dapat direkam.
Halaman dapat dipelajari.
Peneliti dapat bekerja dengan salinan digital.
Sementara naskah asli dapat lebih banyak beristirahat di tempat penyimpanannya.
Upaya penelitian dan pelestarian itu kini mulai mempertemukan Tanoh Abee dengan dunia akademik yang lebih luas. Pada Juli 2026, misalnya, peneliti dari BRIN, SOAS University of London, Universität Hamburg, dan Museum Pedir melakukan kunjungan ilmiah ke Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee untuk memperkuat penelitian sekaligus mendorong pelestarian, inventarisasi, dan digitalisasi manuskrip.
Dunia berubah.
Cara orang membaca berubah.
Tetapi nilai manuskrip tetap sama: menyimpan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh ingatan manusia.
Peneliti Datang, Manuskrip Tetap di Rumahnya
Selama bertahun-tahun, peneliti dari berbagai lembaga datang ke Tanoh Abee.
Mereka membaca.
Mencatat.
Memotret.
Mengkatalogkan.
Membandingkan satu naskah dengan naskah lainnya.
Dari sana, manuskrip yang selama berabad-abad hidup dalam lingkungan dayah mulai memasuki percakapan akademik internasional.
Namun ada satu hal yang penting.
Manuskrip-manuskrip itu tidak harus meninggalkan rumahnya agar dunia dapat mengenalnya.
Tanoh Abee tetap menjadi tempatnya.
Keluarga dan komunitas tetap menjadi bagian dari penjaganya.
Para peneliti datang membawa metode dan teknologi.
Generasi penerus membawa ingatan.
Keduanya bertemu pada satu tujuan: memastikan lembaran tua itu tidak hilang sebelum sempat dibaca.
Warisan Teungku Chik Tanoh Abee
Syekh Abdul Wahab telah lama wafat.
Namun, jejaknya masih dapat ditemukan di tempat yang pernah dipimpinnya.
Pada tradisi pendidikan.
Pada jaringan keilmuan. Adv







