Jejak Labai Dapa: Ulama, Saudagar, dan Penguasa Lada dari Pesisir Aceh

oleh
oleh

Labai Dapa, Saudagar Lada Aceh yang Pernah Menggetarkan Jalur Dagang Dunia

Forumrakyat.co.id  – Jauh sebelum sawit dan komoditas perkebunan modern mengubah wajah ekonomi Aceh, butiran lada telah membawa nama Susoh, Singkil, dan Trumon ke jalur perdagangan dunia. Di tengah arus kapal asing dan persaingan dagang itu, muncul seorang ulama, saudagar, sekaligus penguasa lokal: Labai Dappa.

Angin Samudra Hindia berembus melewati pesisir barat Aceh. Dari pedalaman, lada dibawa menuju pantai. Di bandar-bandar kecil seperti Susoh dan Kuala Batu, komoditas berwarna hitam itu kemudian berpindah tangan, masuk ke kapal-kapal dagang dan berlayar jauh melampaui batas Nusantara.

Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, kawasan yang kini dikenal sebagai Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan merupakan salah satu simpul penting perdagangan lada. Kapal-kapal dari berbagai penjuru datang mencari komoditas yang kala itu memiliki nilai tinggi di pasar dunia.

Aris Faisal Djamin, penulis The Pepper Coast: Tinjauan Sejarah, Arkeologi, dan Ekonomi Rempah di Bandar Susoh dan Kuala Batu, menyebut pesisir barat selatan Aceh sebagai the Pepper Coast. Dalam kajiannya, Susoh bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi salah satu pusat perdagangan yang terhubung dengan jaringan internasional.

“Selain Trumon, Bandar Susoh juga merupakan pusat perdagangan lada bagi dunia internasional dan juga pusat galangan kapal-kapal niaga,” tulis Aris Faisal Djamin dalam kajiannya mengenai Bandar Susoh dan perdagangan rempah.

Di tengah geliat perdagangan itulah nama Labai Dappa muncul.

Ia bukan sekadar saudagar yang menghitung karung-karung lada di tepian pelabuhan. Ia adalah pemimpin yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat, mengendalikan perdagangan, sekaligus memainkan peran politik di tengah tarik-menarik kepentingan Aceh dan kekuatan asing.

Dari Mukim XXV ke Pantai Barat

Labai Dappa dikenal dengan sejumlah nama, antara lain Lebai Dapa, Lebai Dapha, Leube Dapa, atau Lebai Dhapa. Dalam sejumlah sumber, nama aslinya disebut Teuku Djakfar atau Teuku Jakfar.

Gelar “Labai” atau “Lebai” berkaitan dengan kedudukannya sebagai orang yang memiliki pengetahuan agama. Namun, perjalanan hidupnya kemudian membawanya jauh melampaui dunia keagamaan.

Ia berasal dari lingkungan Mukim XXV di Aceh Besar. Perpindahannya ke kawasan pantai barat berkaitan dengan pembukaan wilayah baru sekaligus pengembangan pertanian lada.

Di Susoh, pengaruhnya tumbuh. Dari bandar pesisir itu, jaringan kekuasaannya bergerak ke selatan hingga Singkil. Sumber sejarah mengenai perkembangan kawasan ini menyebut Lebai Dapa berhasil mengembangkan pertanian lada di Singkil dan memperoleh kedudukan yang kuat di sana. Ia bahkan menikah dengan putri penguasa setempat dan kemudian dipercaya memimpin wilayah tersebut.

Kekuasaan itu bukan sekadar pengakuan sosial. Sebuah cap bertahun 1814 mencantumkan nama “Wakil Raja Aceh Lebai Dapa Negeri Singkel”. Cap tersebut menjadi petunjuk penting mengenai hubungan politik Labai Dappa dengan Kesultanan Aceh.

Di satu sisi, ia memiliki kekuasaan di daerah. Di sisi lain, kedudukannya masih berada dalam orbit politik Kesultanan Aceh.

Posisi semacam itu membuat Labai Dappa berada di persimpangan tiga kepentingan: masyarakat lokal, Kesultanan Aceh, dan para pedagang asing yang datang mencari lada.

Ketika Lada Menjadi Sumber Kekuasaan

Pada masa itu, lada bukan sekadar tanaman perkebunan.

Lada adalah kekuatan ekonomi.

Butiran kecil berwarna hitam itu menjadi alasan kapal-kapal menyeberangi samudra. Pedagang dari Eropa, Amerika, India, dan berbagai pelabuhan Nusantara datang ke pesisir barat Sumatra untuk mendapatkannya.

Susoh menjadi salah satu pintu masuknya.

Di pedalaman, lada ditanam dan dipanen. Hasilnya kemudian bergerak mengikuti jaringan perdagangan menuju bandar. Dari bandar, lada diteruskan ke kapal-kapal yang membawa komoditas tersebut ke pasar yang lebih jauh.

Labai Dappa berada di salah satu titik paling strategis dalam mata rantai itu.

Ia memiliki pengaruh atas wilayah produksi sekaligus akses terhadap bandar. Kekuasaan semacam itu membuat seorang pemimpin lokal tidak hanya menentukan urusan masyarakat, tetapi juga mempunyai posisi tawar terhadap para pedagang asing.

Kajian mengenai perdagangan Kuala Batee dan Trumon bahkan menggambarkan besarnya skala ekonomi lada di bawah pengaruh Labai Dappa. Pada awal abad ke-19, Trumon berkembang menjadi kawasan yang makmur dan menghasilkan lada dalam jumlah sangat besar. Sumber sejarah mencatat produksinya dapat mencapai hingga 40.000 pikul per tahun.

Angka itu memberi gambaran betapa pentingnya lada bagi ekonomi kawasan.

Dan semakin besar perdagangan, semakin besar pula kekuasaan yang berada di belakangnya.

Dari Singkil ke Trumon

Perjalanan Labai Dappa tidak berhenti di Singkil.

 

Saudaranya, Basa Bujang atau Bapa Bujang, lebih dahulu mengembangkan wilayah Trumon. Ketika usaha tersebut belum berkembang seperti yang diharapkan, Labai Dappa kemudian diajak pindah ke wilayah itu.

Ia datang dengan pengalaman dari Singkil: menguasai perdagangan, membangun jaringan, dan memahami bagaimana lada dapat menjadi sumber kemakmuran.

Trumon kemudian tumbuh pesat.

Penduduk bertambah. Perdagangan berkembang. Lada menjadi sumber kekayaan. Pengaruh Labai Dappa pun semakin besar.

Dalam perkembangan berikutnya, kekuatan Trumon bahkan bergerak menuju otonomi yang lebih luas dari Kesultanan Aceh. Sumber sejarah mencatat bahwa kemakmuran dan kekuatan Labai Dappa membuatnya mampu mengendalikan wilayah secara kuat, sementara hubungan politik dengan Aceh mengalami ketegangan.

Di sinilah wajah Labai Dappa menjadi menarik.

Ia bukan tokoh yang dapat dibaca hanya sebagai “raja” atau “saudagar”. Ia adalah produk dari sebuah zaman ketika batas antara penguasa, pedagang, pemimpin agama, dan pengendali pelabuhan belum setegas sekarang.

Menguasai perdagangan berarti memiliki kekuasaan.

Menguasai bandar berarti menguasai pintu menuju dunia luar.

Susoh dan Kapal-Kapal Asing

Pada awal abad ke-19, jaringan perdagangan Susoh semakin terbuka.

Kapal-kapal asing datang membawa barang sekaligus membawa kepentingan politik. Para pedagang Amerika menjadi salah satu kelompok penting yang menjalin hubungan dagang dengan pantai barat Aceh.

Catatan sejarah tentang perdagangan Aceh menunjukkan bahwa pada abad ke-19 kapal-kapal dari pelabuhan Amerika seperti Salem, Boston, New York, Marblehead, Baltimore, dan Philadelphia aktif membawa lada dari kawasan tersebut. Bahkan pada 1818, ekspor lada Aceh ke luar negeri disebut mencapai lebih dari 10 juta pon, dengan sekitar separuhnya diangkut kapal-kapal dari kota-kota pelabuhan Amerika.

Bagi para pedagang asing, Labai Dappa menjadi tokoh yang tidak bisa diabaikan.

Ia memiliki akses terhadap komoditas. Ia mempunyai pengaruh terhadap masyarakat. Ia menguasai jalur perdagangan. Dan yang tidak kalah penting, ia memiliki kemampuan untuk bernegosiasi.

Catatan perjalanan dan laporan orang asing pada masa itu memperlihatkan bahwa penguasa lokal di pantai barat selatan Aceh memiliki ruang yang cukup besar untuk menjalin hubungan langsung dengan pedagang asing. Kondisi tersebut membuat kawasan ini tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan pusat Kesultanan Aceh.

Diplomasi di Balik Karung-Karung Lada

Perdagangan tidak pernah hanya soal harga.

Di balik lada terdapat diplomasi.

Inggris yang berkedudukan di Bengkulu memiliki kepentingan terhadap perdagangan di pantai barat Sumatra. Para pedagang Amerika juga berusaha memperoleh lada langsung dari sumbernya.

Labai Dappa berada di tengah persaingan tersebut.

Hubungannya dengan pedagang dan kekuatan asing menunjukkan bahwa pemimpin lokal di pantai barat Aceh memiliki kemampuan membaca perubahan peta perdagangan internasional. Hubungan dagang dapat menjadi alat memperkuat posisi politik, tetapi pada saat yang sama juga dapat memunculkan kecurigaan dari pusat kekuasaan.

Bagi Kesultanan Aceh, perdagangan lada berarti pemasukan.

Bagi Labai Dappa, perdagangan berarti kekuatan wilayah.

Bagi pedagang asing, lada berarti keuntungan.

Tiga kepentingan itu bertemu di bandar-bandar kecil di pesisir Aceh.

Dan dari pertemuan itulah dinamika politik kawasan berkembang.

[KUTIPAN LANGSUNG ARIS FAISAL DJAMIN — sebaiknya ditempatkan di sini setelah Anda memberikan kutipan asli dari buku The Pepper Coast, khusus mengenai Labai Dappa.]

Kutipan tersebut akan menjadi penting karena mempertemukan dua sisi Labai Dappa: sebagai manusia lokal yang hidup dalam struktur masyarakat Aceh dan sebagai figur yang terhubung dengan perdagangan internasional.

Jejak yang Tertinggal pada Sebuah Cap

Sejarah sering kali meninggalkan jejak melalui benda-benda kecil.

Bukan selalu melalui istana atau monumen besar.

Dalam kasus Labai Dappa, salah satu jejak penting itu berupa cap.

Cap bertahun 1814 yang menyebut “Wakil Raja Aceh Lebai Dapa Negeri Singkel” menjadi bukti material mengenai kedudukan politiknya. Cap tersebut kini menjadi salah satu sumber penting untuk membaca hubungan antara penguasa lokal dan Kesultanan Aceh pada awal abad ke-19.

Ada pula jejak lain yang lebih dekat dengan dunia perdagangan: token atau alat tukar yang berkaitan dengan Susoh.

Token bertuliskan aksara Jawi “Susu 1804” dikenal dalam sejarah numismatik sebagai bagian dari aktivitas perdagangan di kawasan tersebut dan dikaitkan dengan Labai Dapa. Jejak benda semacam ini memperlihatkan bahwa ekonomi Susoh pada masa itu memiliki perangkat perdagangan yang tidak sederhana.

Dengan demikian, sejarah Labai Dappa tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan atau catatan perjalanan orang asing.

Ia juga hadir dalam benda.

 

Pada cap.

Pada token.

Pada pelabuhan.

Dan pada jalur perdagangan yang pernah menghubungkan pesisir Aceh dengan dunia.

Dari Bandar Kecil ke Jaringan Dunia

Hari ini, Susoh tidak lagi menjadi bandar lada seperti dua abad silam.

Kapal-kapal besar yang dahulu datang mencari lada telah berganti. Komoditas yang menjadi penopang ekonomi juga berubah. Namun, lanskap sejarahnya belum sepenuhnya hilang.

Di balik pesisir, sungai, kawasan permukiman, dan nama-nama tempat, terdapat jejak sebuah masa ketika daerah-daerah kecil di pantai barat selatan Aceh terhubung langsung dengan ekonomi global.

Aris Faisal Djamin dan para penulis The Pepper Coast menempatkan Susoh dan Kuala Batu dalam konteks sejarah yang lebih luas: bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai bagian dari jaringan perdagangan rempah yang menghubungkan Aceh dengan dunia. Buku tersebut diterbitkan pada 2025 dan merupakan karya bersama sejumlah peneliti mengenai sejarah, arkeologi, serta ekonomi rempah di kawasan Susoh dan Kuala Batu.

Dalam konteks itu, Labai Dappa menjadi salah satu tokoh kunci.

Ia memahami bahwa lada dapat mengubah nasib sebuah wilayah.

Ia membangun kekuasaan melalui perdagangan.

Ia menggunakan jaringan dagang untuk memperkuat kedudukan politik.

Dan ia berhadapan dengan kekuatan-kekuatan asing yang melihat pantai barat Aceh sebagai bagian dari jalur ekonomi yang sangat berharga.

Labai Dappa karena itu bukan hanya cerita tentang seorang raja lada.

Ia adalah cerita tentang bagaimana kekuasaan lokal bekerja sebelum kolonialisme mengubah peta politik Sumatra.

Ia adalah cerita tentang Susoh ketika sebuah bandar pesisir mampu berhubungan dengan Salem, Boston, Bengkulu, Penang, dan berbagai pelabuhan lain di dunia.

Dan ia adalah cerita tentang lada—komoditas kecil yang pernah membuat sebuah kawasan di ujung barat Sumatra menjadi bagian dari percakapan besar perdagangan dunia.

Dua abad kemudian, jejak itu masih dapat ditelusuri.

Di Susoh.

Di Singkil.

Di Trumon.

Pada sebuah cap bertahun 1814.

Pada nama Labai Dappa.

Dan pada sejarah panjang The Pepper Coast, pantai lada yang pernah menghubungkan Aceh dengan dunia. Adv

No More Posts Available.

No more pages to load.