Forumrakyat.co.id – Aceh dikenal sebagai daerah yang kaya dengan tradisi spiritual yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih hidup hingga kini adalah doa tolak bala, sebuah ritual adat-religius yang digelar masyarakat untuk memohon perlindungan dari musibah, penyakit, dan berbagai gangguan yang diyakini dapat mengancam kehidupan gampong.
Doa tolak bala biasanya digelar secara kolektif, dipimpin oleh teungku atau tokoh adat setempat. Ritual ini dilakukan di meunasah, halaman rumah warga, atau di titik tertentu yang dianggap sakral oleh masyarakat. Tradisi ini umumnya disertai lantunan doa, zikir, membaca ayat-ayat pilihan, serta penyembelihan ayam atau kambing sebagai bentuk sedekah.
Menurut Teungku Abdullah (62), imam gampong di Aceh Besar, doa tolak bala adalah perpaduan antara nilai Islam dan adat lokal. “Sejak zaman nenek moyang, masyarakat Aceh memohon perlindungan kepada Allah melalui doa bersama. Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga wujud kepedulian sosial antarwarga,” ujarnya.

Sementara itu, Nur Rahman (41), warga Krueng Raya, menilai doa tolak bala memperkuat persatuan di tengah masyarakat. “Saat doa digelar, semua warga berkumpul. Ada yang membawa makanan, ada yang membantu memasak. Ini membuat hubungan antarwarga semakin erat,” ungkapnya.
Tradisi ini biasanya ditutup dengan makan bersama sebagai simbol syukur dan kebersamaan. Meski zaman terus berubah, doa tolak bala tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan spiritual masyarakat Aceh. Banyak gampong kini menggelar tradisi ini setahun sekali, atau saat menghadapi situasi tertentu seperti wabah, konflik, atau bencana alam.
Dengan mempertahankan tradisi doa tolak bala, masyarakat Aceh telah menunjukkan bahwa kekuatan budaya dapat menjadi penopang harmoni sekaligus pengingat bahwa setiap musibah dapat dihadapi dengan persatuan dan doa bersama. [Adv]







