Tuanku Raja Keumala, Mufti Terakhir Kesultanan Aceh yang Menjaga Cahaya Ilmu di Tengah Perang

oleh
oleh

Forumrakyat.co.id  –  Di tengah dentuman meriam dan kepulan asap Perang Aceh yang berkecamuk sejak 1873, kehidupan di lingkungan Kesultanan Aceh Darussalam tidak sepenuhnya berhenti. Di balik perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda, tradisi keilmuan tetap dipertahankan sebagai fondasi peradaban. Dari suasana itulah lahir seorang tokoh yang kelak dikenang sebagai Mufti terakhir Kesultanan Aceh, ulama yang juga dikenal sebagai sastrawan dan pendidik, yakni Tuanku Raja Keumala.

Ia lahir pada 1 Ramadan 1297 Hijriah atau sekitar tahun 1880 Masehi di Keumala Dalam, wilayah yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Aceh setelah ibu kota dipindahkan dari Banda Aceh akibat tekanan militer Belanda. Perpindahan pusat pemerintahan tersebut merupakan bagian dari strategi mempertahankan eksistensi kerajaan di tengah perang yang berkepanjangan.

Tuanku Raja Keumala lahir dari keluarga yang memiliki kedudukan penting dalam pemerintahan Kesultanan Aceh. Ayahnya adalah Tuanku Hasyim Banta Muda, Mangkubumi yang menjalankan pemerintahan sebagai pemangku jabatan sultan ketika Sultan Muhammad Daud Syah masih berusia muda. Sementara ibunya, Cut Nyak Aja Puan Lamgugop, berasal dari keluarga uleebalang terkemuka, putri Teuku Nyak Abbas.

Lingkungan keluarga yang sarat dengan nilai kepemimpinan dan keagamaan membentuk karakter Tuanku Raja Keumala sejak kecil. Meski tumbuh di tengah situasi perang, pendidikan agama tetap menjadi prioritas. Tradisi intelektual yang telah berkembang di Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda membuat proses belajar tidak terhenti meskipun kondisi politik sedang tidak menentu.

Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa Aceh sejak abad ke-16 dikenal sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara. Ulama dari Timur Tengah, India, hingga Nusantara datang dan mengajar di wilayah ini. Tradisi tersebut terus bertahan hingga masa Perang Aceh, ketika para ulama menjadi bagian penting dalam menjaga semangat masyarakat sekaligus membimbing kehidupan keagamaan.

Dalam suasana seperti itulah Tuanku Raja Keumala memperoleh pendidikan langsung dari sejumlah ulama terkemuka Aceh. Ketekunannya mempelajari fikih, tafsir, hadis, bahasa Arab, serta berbagai cabang ilmu keislaman membuat namanya mulai dikenal sebagai ulama muda yang memiliki kedalaman ilmu.

Keilmuan yang dimilikinya kemudian mengantarkan Tuanku Raja Keumala dipercaya menduduki jabatan Mufti Kesultanan Aceh. Dalam struktur pemerintahan kerajaan, mufti bukan hanya pemberi fatwa. Jabatan tersebut merupakan otoritas tertinggi dalam urusan keagamaan yang memberikan pertimbangan kepada sultan mengenai hukum Islam, pendidikan, hingga persoalan sosial kemasyarakatan.

Para sejarawan seperti Anthony Reid dalam The Contest for North Sumatra, Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda, serta T. Ibrahim Alfian melalui berbagai kajiannya mengenai Perang Aceh menjelaskan bahwa ulama memiliki posisi yang sangat strategis dalam kehidupan politik dan sosial Kesultanan Aceh. Peran mereka tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai penasehat kerajaan dan penggerak masyarakat.

Setelah fase utama perang mulai mereda pada awal abad ke-20, Tuanku Raja Keumala memilih melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Makkah, Arab Saudi. Selama kurang lebih empat tahun, ia memperdalam berbagai disiplin ilmu agama kepada para ulama di Masjidil Haram, sebagaimana dilakukan banyak ulama Nusantara pada masa itu.

Makkah ketika itu merupakan pusat pendidikan Islam dunia. Banyak tokoh besar Nusantara, termasuk dari Aceh, menimba ilmu di sana sebelum kembali mengembangkan pendidikan di daerah asalnya. Pengalaman tersebut memperluas wawasan keilmuan Tuanku Raja Keumala sekaligus memperkuat jejaring intelektualnya dengan para ulama dari berbagai negara.

Sepulang dari Tanah Suci, Tuanku Raja Keumala lebih banyak mengabdikan diri pada dunia pendidikan dan dakwah. Ia aktif mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat serta membina generasi muda agar tetap mempertahankan tradisi keilmuan Islam yang telah menjadi identitas Aceh selama berabad-abad.

Selain sebagai ulama, Tuanku Raja Keumala juga dikenal sebagai sastrawan. Pada masa itu, tradisi menulis merupakan bagian penting dari dunia intelektual Aceh. Para ulama tidak hanya menyampaikan ilmu melalui majelis pengajian, tetapi juga melalui syair, hikayat, dan manuskrip keagamaan yang menjadi media pendidikan masyarakat.

Tradisi sastra Islam di Aceh telah melahirkan banyak karya penting sejak masa Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry hingga Abdurrauf as-Singkili. Kehadiran Tuanku Raja Keumala menunjukkan bahwa tradisi tersebut tetap hidup meskipun Aceh sedang menghadapi masa-masa sulit akibat kolonialisme.

Bagi Tuanku Raja Keumala, pena memiliki kekuatan yang tidak kalah penting dibandingkan senjata. Jika perang mempertahankan wilayah, maka ilmu dan sastra menjaga peradaban agar tidak hilang ditelan zaman.

Seiring berakhirnya era Kesultanan Aceh sebagai kekuatan politik yang berdaulat, jabatan Mufti Kerajaan Aceh yang pernah diembannya pun menjadi bagian dari penutup sejarah panjang institusi pemerintahan kesultanan. Karena itulah, Tuanku Raja Keumala dikenal luas sebagai Mufti terakhir Kesultanan Aceh.

Meski jabatan tersebut berakhir bersama perubahan zaman, pengaruhnya dalam dunia pendidikan dan dakwah tetap dikenang. Warisan yang ditinggalkannya tidak hanya berupa keteladanan sebagai ulama, tetapi juga semangat menjadikan ilmu sebagai jalan membangun masyarakat.

Hingga kini, nama Tuanku Raja Keumala masih mendapat tempat dalam kajian sejarah Aceh. Sosoknya menjadi representasi generasi ulama yang hidup pada masa transisi, ketika Kesultanan Aceh menghadapi tantangan besar dari kolonialisme, namun tetap berupaya mempertahankan identitas keislaman melalui pendidikan, dakwah, dan tradisi literasi.

Di tengah arus modernisasi, kisah hidup Tuanku Raja Keumala mengingatkan bahwa kejayaan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemenangan di medan perang, tetapi juga dari kemampuannya menjaga ilmu pengetahuan, melahirkan karya, serta membangun karakter masyarakat. Warisan itulah yang menjadikan nama Tuanku Raja Keumala tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Aceh—seorang mufti, pendidik, pejuang, sekaligus sastrawan yang mengabdikan hidupnya untuk agama, ilmu, dan bangsanya. Adv

No More Posts Available.

No more pages to load.