“Berpindah dari ruang redaksi ke dunia korporasi bukan berarti meninggalkan jurnalistik. Pengalaman itu justru menjadi bekal memahami media dari sisi yang berbeda.” [Heri Ruslan. Media Relations Coordinator, Medco E&P Indonesia]
- Dua dekade ditempa di ruang redaksi Republika, pernah menguji kompetensi wartawan, lalu berpindah ke sisi korporasi sebagai Media Relations Coordinator Medco E&P Indonesia.
ADA orang yang sepanjang kariernya hanya melihat media dari satu sisi. Heri Ruslan tidak demikian.
Lebih dari dua dekade perjalanan profesionalnya membawanya melewati beberapa ruang penting dalam ekosistem media [ruang redaksi, meja editor, jajaran pimpinan redaksi, forum pendidikan jurnalistik, lembaga uji kompetensi wartawan, hingga komunikasi korporasi industri hulu minyak dan gas bumi].
Di satu sisi, ia pernah berada di balik keputusan redaksi [memilih informasi, menentukan sudut pemberitaan, mengedit naskah, dan mengarahkan bagaimana sebuah fakta disajikan kepada publik]. Di sisi lain, ia kemudian masuk ke dunia korporasi dan menjadi Media Relations Coordinator Medco E&P Indonesia.
Perubahan posisi itu menarik karena Heri tidak masuk ke dunia media relations dari ruang humas. Ia datang dari newsroom.
Profil profesional yang tersedia secara terbuka mencatat Heri Ruslan menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada 1998–2003.
Ia kemudian menyelesaikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana pada 2015–2018.
Profil yang sama mencatat perjalanan profesionalnya di Republika Online sejak November 2001 dan sebagai Wakil Redaktur Pelaksana Harian Republika sejak Januari 2014.
Sejak Maret 2023, ia tercatat sebagai Media Relations Coordinator Medco E&P Indonesia.
Tetapi ada fase lain yang membuat perjalanan itu semakin menarik.
Pada Desember 2021, ketika masih berada di jajaran pimpinan redaksi Republika, Heri tercatat sebagai salah satu penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) pada Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Artinya, seorang yang selama bertahun-tahun menilai kualitas berita dari dalam redaksi kemudian pernah berada di posisi untuk menilai kompetensi wartawan secara formal.
Di situlah perjalanan Heri menjadi lebih dari sekadar daftar jabatan.
Ia adalah perjalanan dari orang yang membuat berita, orang yang mengedit berita, orang yang menilai kompetensi wartawan, lalu orang yang berada di sisi perusahaan ketika berhadapan dengan media.
Memulai dari Ilmu Komunikasi
HERI menempuh pendidikan sarjana Ilmu Komunikasi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 1998–2003.
Pilihan pendidikan tersebut sejak awal berada pada bidang yang kemudian menjadi jalur panjang kariernya [komunikasi, media, dan jurnalistik]. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan perjalanan profesionalnya di lingkungan media.
Profil profesionalnya mencatat Republika Online sebagai salah satu fase awal penting dalam kariernya, dengan pengalaman yang tercatat mulai November 2001.
Pada masa itu, media daring Indonesia belum seperti sekarang. Portal berita masih berkembang dan pola kerja jurnalistik digital belum sepenuhnya mapan.
Menjadi bagian dari newsroom pada fase pertumbuhan media online berarti ikut mengalami perubahan cara media bekerja: dari ritme penerbitan yang relatif terjadwal menuju kebutuhan informasi yang semakin cepat.
Heri kemudian berkembang dari pekerjaan jurnalistik menuju fungsi editorial.
Struktur redaksi Republika pada periode 2014 mencatat namanya sebagai Asisten Redaktur Pelaksana.
Dokumen akademik yang merekam struktur organisasi Republika tahun tersebut mencantumkan Heri Ruslan bersama sejumlah nama lain dalam jajaran Asisten Redaktur Pelaksana.
Dokumen struktur Republika.co.id dari periode yang berdekatan juga mencatat Heri Ruslan sebagai Asisten Redaktur Pelaksana Republika Online.
Kariernya bergerak naik.
Dari Redaktur ke Pengambil Keputusan Editorial
PADA 2014, nama Heri Ruslan bukan lagi sekadar berada di jajaran pekerja redaksi. Ia sudah berada dalam struktur yang bertugas membantu mengendalikan proses editorial.
Jejak publik Republika menunjukkan namanya muncul sebagai “Red: Heri Ruslan” dalam sejumlah artikel. Salah satunya adalah tulisan tentang dinamika Pemuda Muhammadiyah yang diterbitkan pada November 2014.
Keterangan “Red” dalam artikel tersebut memperlihatkan fungsi editorial yang dijalankannya.
Ia bukan sekadar menghasilkan tulisan untuk diterbitkan, tetapi ikut menentukan apakah sebuah naskah layak ditayangkan dan bagaimana naskah itu ditempatkan.
Beberapa tahun kemudian, struktur Harian Republika secara konsisten mencatat Heri sebagai Wakil Redaktur Pelaksana.
Pada 2018, misalnya, sebuah laporan Republika mengenai diskusi publik mencantumkan Heri Ruslan sebagai Wakil Redaktur Pelaksana Harian Republika.
Struktur redaksi Republika pada Mei 2021 juga mencantumkan Heri Ruslan sebagai Wakil Redaktur Pelaksana, bersama Firkah Fansuri, Kumara Dewansyah, dan Joko Sadewo.
Posisi tersebut menempatkannya pada salah satu lapisan penting newsroom.
Seorang reporter bertugas mencari dan mengumpulkan fakta.
Editor mengolah fakta menjadi berita.
Redaktur menentukan kelayakan dan arah pemberitaan.
Sedangkan jajaran redaktur pelaksana ikut memastikan keseluruhan produk jurnalistik berjalan sesuai kebijakan redaksi.
Dengan pengalaman seperti itu, Heri mengalami langsung bagaimana sebuah informasi berubah menjadi berita.
Tidak Hanya Mengedit Berita, Tetapi Memikirkan Bagaimana Media Membentuk Publik
LATAR akademik Heri kemudian bergerak mengikuti pengalaman jurnalistiknya.
Pada 2015–2018, ia mengambil Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana.
Profil profesionalnya mencatat pendidikan tersebut, sementara repositori universitas mencatat tesis Heri berjudul “Praktik Ideologi Politik Media Massa dalam Pemberitaan Pilkada DKI Jakarta.”
Tema tersebut memperlihatkan ketertarikannya terhadap media bukan hanya sebagai tempat bekerja, tetapi sebagai institusi yang mempunyai kemampuan membentuk persepsi publik.
Pemberitaan tidak lahir di ruang hampa.
Ada pilihan judul. Ada pilihan narasumber. Ada pemilihan fakta. Ada penempatan berita. Ada sudut pandang.
Dan semuanya dapat memengaruhi cara publik membaca sebuah peristiwa.
Pengalaman akademik tersebut kemudian beririsan dengan pengalaman panjangnya di newsroom.
Pada Januari 2021, misalnya, sebuah artikel di Republika.co.id mencantumkan “Red: Heri Ruslan” pada tulisan mengenai persoalan komunikasi publik dan demokratisasi komunikasi.
Pada tahun yang sama, Heri juga tampil sebagai pembicara dalam kegiatan jurnalistik.
Dalam pelatihan jurnalistik dasar yang digelar Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bintan, ia disebut sebagai Wakil Redaktur Pelaksana III Republika dan menjelaskan unsur-unsur nilai berita kepada peserta.
Ini menunjukkan satu hal: pengalaman Heri tidak berhenti di meja redaksi.
Pengetahuan jurnalistiknya mulai dibagikan melalui forum pendidikan dan pelatihan.
Ketika Editor Mulai Menguji Wartawan
DESEMBER 2021 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan profesional Heri Ruslan.
Universitas Muhammadiyah Jakarta menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan selama dua hari. Kegiatan tersebut berlangsung di FISIP UMJ dan diikuti 14 wartawan untuk jenjang muda.
Direktur UKW FISIP UMJ ketika itu, Tria Patrianti, menjelaskan bahwa Lembaga Uji Kompetensi Wartawan UMJ telah ditetapkan dan diberikan kewenangan oleh Dewan Pers melalui SK Nomor 18 Tahun 2020, dengan nama LUKW Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Dalam kegiatan tersebut, nama Heri Ruslan tercatat secara eksplisit sebagai salah satu penguji, bersama Nurcholis M. Basyari, Makroen Sanjaya, dan penguji lainnya.
Fase ini penting. Sebab UKW bukan sekadar pelatihan jurnalistik.
Di dalamnya terdapat proses pengujian kemampuan wartawan berdasarkan standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam sistem sertifikasi wartawan.
Heri, yang bertahun-tahun berada di meja redaksi, pada titik tersebut mengambil posisi berbeda [menilai kompetensi orang-orang yang menjalankan profesi jurnalistik].
Pengalaman editorial menjadi salah satu modal yang relevan.
Ia mengetahui bagaimana berita disusun.
Ia mengetahui bagaimana seorang wartawan mencari informasi.
Ia mengetahui pentingnya verifikasi.
Ia mengetahui bahwa judul yang menarik tidak cukup jika substansinya lemah.
Dan ia mengetahui bahwa pekerjaan jurnalistik tidak berhenti pada kecepatan, tetapi membutuhkan akurasi, keberimbangan, serta tanggung jawab kepada publik.
Namun ada batas yang harus dicatat.
Heri pernah menjadi penguji UKW pada kegiatan LUKW FISIP UMJ pada Desember 2021.
Belum ditemukan dokumen publik yang cukup untuk memastikan nomor sertifikat penguji individual, nomor SK pengangkatan individual, masa berlaku sertifikat, atau status aktifnya sebagai penguji pada 2026.
Karena itu, secara jurnalistik, predikat yang paling aman adalah “pernah menjadi penguji UKW”, bukan menyatakan tanpa syarat bahwa ia masih menjadi penguji aktif.
Dari ruang redaksi ke Medco EP
TAHUN 2023 membawa perubahan besar. Setelah bertahun-tahun berada di lingkungan media, Heri memasuki dunia korporasi.
Profil profesionalnya mencatat bahwa sejak Maret 2023, ia menjabat sebagai Media Relations Coordinator di Medco E&P Indonesia.
Perubahan itu memindahkan posisinya dari sisi yang memproduksi dan mengedit berita ke sisi yang menjadi penghubung antara perusahaan dan media.
Tetapi pengalaman newsroom tidak hilang. Justru pengalaman itu menjadi modal.
Media relations membutuhkan kemampuan memahami kebutuhan wartawan. Perusahaan membutuhkan orang yang mengetahui bagaimana informasi akan dibaca oleh media.
Wartawan membutuhkan akses kepada narasumber, data dan penjelasan. Perusahaan membutuhkan komunikasi yang akurat untuk menjelaskan kegiatan kepada publik.
Di titik inilah pengalaman dua dekade di media menjadi relevan. Heri pernah duduk di sisi wartawan.
Sekarang ia duduk di sisi perusahaan. Ia memahami dua bahasa sekaligus [bahasa newsroom dan bahasa korporasi].
Berhadapan Dengan Dunia Hulu Migas
MEDCO EP bergerak dalam industri yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi.
Operasi hulu migas berkaitan dengan energi, investasi, keselamatan kerja, lingkungan, masyarakat sekitar wilayah operasi, pemerintah, regulator, dan kepentingan publik.
Karena itu, media relations di industri tersebut bukan sekadar mengatur konferensi pers.
Ada kebutuhan untuk menjelaskan operasi. Ada kebutuhan menjelaskan keselamatan.
Ada kebutuhan menjelaskan kontribusi perusahaan. Ada pula kebutuhan membangun komunikasi ketika muncul persoalan di lapangan.
Jejak publik menunjukkan Heri menjalankan fungsi komunikasi media tersebut dalam berbagai kegiatan Medco E&P bersama insan pers.
Pada kegiatan Medco E&P dan wartawan di wilayah Lais, Sumatera Selatan, pada 2024, Heri disebut sebagai Coordinator Media Relations Medco E&P.
Dalam berbagai kegiatan edukasi media, perusahaan juga membangun komunikasi dengan organisasi wartawan dan komunitas pers di wilayah operasi.
Pada Desember 2025, misalnya, Medco E&P dan SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi menggelar Media Edukasi di Barito Utara. Heri Ruslan tercatat hadir sebagai Coordinator Media Relations Medco E&P.
Dalam kegiatan tersebut, komunikasi perusahaan menekankan pentingnya hubungan dengan media dan pemberitaan yang faktual, berimbang, serta kontekstual.
Menariknya, narasumber jurnalistik dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Makroen Sanjaya, yang juga disebut sebagai penguji UKW FISIP UMJ.
Ada irisan sejarah di sana.
Heri pernah menjadi bagian dari dunia pengujian kompetensi wartawan.
Kini ia bekerja di perusahaan yang secara rutin berhubungan dengan komunitas pers.
Saat Wartawan Menjadi Mitra Strategis Perusahaan
PERUBAHAN posisi tersebut juga membawa tantangan.
Ketika masih berada di media, Heri memiliki kewajiban utama kepada kepentingan jurnalistik dan publik.
Ketika menjadi media relations, ia bekerja dalam mandat komunikasi perusahaan.
Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
Seorang wartawan harus mempertahankan independensi redaksi. Media relations bertugas menyampaikan kepentingan dan informasi perusahaan kepada media.
Karena itu, pengalaman berpindah dari satu sisi meja ke sisi lain justru membutuhkan kesadaran batas profesional yang kuat.
Heri kini berada pada posisi yang membutuhkan kemampuan menjelaskan perusahaan tanpa mengambil alih fungsi redaksi.
Media tetap memiliki hak untuk bertanya. Wartawan tetap memiliki hak untuk mengkritik.
Perusahaan memiliki hak untuk menjelaskan.
Dan media relations menjadi salah satu pintu yang mempertemukan ketiganya.
Dalam industri hulu migas, hubungan tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar operasi perusahaan berlangsung jauh dari pusat perhatian publik.
Media menjadi salah satu sarana masyarakat memahami apa yang terjadi di wilayah operasi.
2025 [Mengedit cerita perusahaan]
PERJALANAN editorial Heri juga menemukan bentuk baru di lingkungan korporasi.
Pada 2025, namanya tercantum sebagai salah satu editor buku “Langkah Bersama Menuju Kemandirian: 45 Cerita Baik Pengembangan Masyarakat MedcoEnergi.”
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan editorial yang selama bertahun-tahun digunakan untuk mengolah berita kemudian digunakan untuk mengolah cerita mengenai program pengembangan masyarakat perusahaan.
Ada perubahan konteks, tetapi ada keterampilan yang tetap sama.
Mengumpulkan cerita. Memilih fakta. Menentukan alur. Menyusun bahasa. Dan memastikan pesan dapat dipahami pembaca.
Bedanya, dulu pembacanya adalah publik media. Kini narasinya berada dalam konteks komunikasi perusahaan.
Timeline Karier Heri Ruslan 1998–2026
1998
MEMULAI pendidikan sarjana Ilmu Komunikasi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
2001
PROFIL profesional Heri mencatat mulai berkarier di Republika Online pada November 2001.
2000-an
BERKEMBANG dalam struktur editorial Republika. Dokumen struktur redaksi yang tersedia secara publik mencatat Heri dalam jajaran redaksi dan kemudian Asisten Redaktur Pelaksana Republika Online.
2014
TERCATAT sebagai Asisten Redaktur Pelaksana dalam struktur Republika/Republika Online.
Pada tahun yang sama, nama “Red: Heri Ruslan” juga muncul dalam sejumlah publikasi Republika.
2015–2018
MENEMPUH Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana. Tesisnya mengkaji praktik ideologi politik media massa dalam pemberitaan Pilkada DKI Jakarta.
2018
HERI tercatat sebagai Wakil Redaktur Pelaksana Harian Republika dalam pemberitaan Republika.
2021
MASIH tercatat sebagai Wakil Redaktur Pelaksana dalam struktur Harian Republika.
Pada Desember 2021, ia tercatat sebagai salah satu penguji UKW LUKW Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMJ. UKW tersebut diikuti 14 wartawan jenjang muda.
2022
NAMA Heri masih tercantum sebagai Wakil Redaktur Pelaksana dalam struktur Harian Republika.
Maret 2023
MEMASUKI fase baru sebagai Media Relations Coordinator Medco E&P Indonesia.
2024
TERLIBAT dalam kegiatan komunikasi dan hubungan media Medco E&P bersama komunitas wartawan di wilayah operasi perusahaan.
2025
AKTIF sebagai Media Relations Coordinator Medco E&P dalam kegiatan edukasi media bersama SKK Migas dan insan pers, termasuk kegiatan di Barito Utara.
Namanya juga tercantum sebagai salah satu editor buku tentang pengembangan masyarakat MedcoEnergi.
2026
PROFIL profesional yang tersedia secara publik masih mencantumkan Heri Ruslan sebagai Media Relations Coordinator Medco E&P Indonesia.
Namun, sampai penelusuran ini dilakukan, belum ditemukan dokumen publik yang cukup untuk memastikan bahwa status penguji UKW yang dibuktikan pada 2021 masih aktif pada 2026.
Dua sisi meja
KARIER Heri Ruslan pada akhirnya adalah cerita tentang dua sisi meja. Sisi pertama adalah meja redaksi.
Di sana ia belajar bahwa informasi harus diperiksa, berita harus memiliki nilai, dan keputusan editorial menentukan bagaimana publik melihat sebuah peristiwa.
Sisi kedua adalah meja korporasi.
Di sana ia berhadapan dengan kebutuhan perusahaan untuk menjelaskan operasi, membangun hubungan dengan media, dan menjaga komunikasi dengan publik.
Di antara keduanya terdapat satu pengalaman yang tidak kalah penting [UKW].
Pada 2021, Heri tidak hanya bekerja sebagai pengelola redaksi. Ia juga pernah dipercaya menjadi penguji kompetensi wartawan pada LUKW FISIP UMJ.
Pengalaman tersebut menjadi semacam simpul dalam perjalanan profesinya.
Ia pernah menghasilkan dan mengendalikan berita. Ia pernah mengajarkan bagaimana berita bekerja. Ia pernah menilai kompetensi wartawan.
Dan kini ia berada di posisi yang menjadi salah satu pintu komunikasi perusahaan dengan wartawan.
Itulah yang membuat perjalanan Heri Ruslan lebih menarik daripada sekadar daftar jabatan.
Ia mengalami perubahan media dari dekat.
Dari era ketika portal berita masih berkembang, ke era ketika kecepatan menjadi ukuran utama media digital.
Dari newsroom yang mengandalkan proses editorial menuju ekosistem informasi yang dipenuhi media sosial, platform digital, dan banjir informasi.
Ia kemudian berpindah ke sektor energi, sektor yang membutuhkan komunikasi publik dengan tingkat kehati-hatian tinggi.
Bukan Sekadar Berpindah Pekerjaan
PERJALANAN dari wartawan menuju media relations sering kali dibaca sederhana [pindah pekerjaan].
Padahal, bagi seseorang yang telah puluhan tahun berada di ekosistem media, perpindahan itu membawa perubahan tanggung jawab sekaligus perspektif.
Di ruang redaksi, pertanyaan utamanya adalah [Apa yang publik perlu tahu?]
Di ruang korporasi, pertanyaannya dapat berubah menjadi [Bagaimana perusahaan menjelaskan apa yang sedang dilakukan kepada publik?]
Kedua pertanyaan itu bertemu pada satu titik [kepercayaan].
Publik membutuhkan informasi yang dapat dipercaya.
Media membutuhkan narasumber yang terbuka dan dapat dihubungi.
Perusahaan membutuhkan komunikasi yang tidak menyesatkan.
Dan wartawan membutuhkan ruang untuk tetap bekerja secara independen.
Pengalaman Heri berada di kedua sisi membuatnya memahami medan tersebut dari dalam.
Ia bukan orang yang baru mengenal dunia pers ketika masuk ke media relations.
Ia justru membawa pengalaman panjang sebagai orang yang pernah bekerja di dalamnya.
Dari Berita Ke Jembatan Komunikasi
HERI RUSLAN tidak lagi berada di meja redaksi seperti ketika bertahun-tahun bekerja di Republika.
Kini namanya melekat pada fungsi Media Relations Coordinator Medco E&P Indonesia.
Tetapi jejak jurnalistiknya belum hilang.
Pengalaman sebagai editor, wakil redaktur pelaksana, pembicara jurnalistik, pendidikan komunikasi, dan pengalaman sebagai penguji UKW membentuk modal profesional yang berbeda ketika ia menjalankan fungsi komunikasi perusahaan.
Dari perjalanan itu, satu garis terlihat jelas.
Heri Ruslan tumbuh dari jurnalisme, ditempa oleh ruang redaksi, pernah ikut menguji kompetensi wartawan, dan kemudian memilih berkarier di sisi korporasi sebagai penghubung perusahaan dengan media.
Perubahan itu bukan sekadar berpindah meja.
Ia membawa serta pengalaman memahami bagaimana berita dibuat, bagaimana wartawan bekerja, bagaimana media membentuk persepsi, dan bagaimana perusahaan harus berkomunikasi kepada publik.
Karena itu, ketika Heri berbicara kepada media atas nama perusahaan, ia datang dengan pengalaman dari sisi yang lain.
Ia tahu bagaimana wartawan berpikir. Ia tahu bagaimana redaksi bekerja.
Dan ia tahu bahwa pada akhirnya, hubungan antara perusahaan dan media tidak hanya dibangun oleh siaran pers atau agenda media gathering.
Hubungan itu dibangun oleh akses, akurasi, keterbukaan, dan kepercayaan.
Di situlah perjalanan panjang Heri Ruslan menemukan titik temunya: dari ruang redaksi menuju ruang komunikasi korporasi, dari orang yang mengolah berita menjadi orang yang menghubungkan perusahaan dengan mereka yang membuat berita.
Dan perjalanan itu, hingga 2026, masih berlangsung.[]






