Forumrakyat.co.id – Gelombang laut mau pasang. Desiran ombak kian menggerus pantai. Sesekali para anak kecil berlari untuk meyenangkan hati bersama temannya. Pemandangan di sekitar pantai dipenuhi pepohonan sebagai teteduhan. Tak jarang jelang pagi, kapal-kapal nelayan bersandar untuk menjual produsennya.
Nah, saat itu pula terkadang para pengunjung datang. Ikan segar dihamparkan dengan harga yang tak menguras kantong. Ya, demikianlah gambaran kampung nelayan di Ujong Pie Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie.
Karena kemeriahan perdagangan ikan itu pula membuat pengunjung memanfaatkan situasi tersebut untuk berwisata. Selain menikmati sejuknya suasana angin laut, Anda juga bisa membeli buah tangan berupa ikan-ikan segar. Menariknya lagi, hampir seluruh kapal atau perahu nelayan di sana didekorasi dengan warna-warni kian memikat hati.
Mereka (para nelayan) melukis perahu dengan segala keahliannya. Para nelayan pun menyandarkan perahunya tepat beberapa meter dari bibir pantai. Di musim layangan tiba, bahkan kawasan bibir pantai Ujong Pie Laweung dimanfaatkan untuk menerbangkan permainan yang terbuat dari kertas tersebut.
Namun ada kisah miris yang diterima dari kampung nelayan Ujong Pie Laweung. Kira-kira tiga tahun yang lalu kawasan tersebut salah satu tempat para pengungsi Rohingnya mencari keadilan bagi negaranya. Perahu besar yang dipenuhi kaum Rohingnya membuat haru warga masyarakat di sana.
Pun demikian terlepas dari cerita mendaratnya kaum Rohingnya di pantai Ujong Pie Laweung, pastinya dengan adanya wisatawan untuk membeli ikan menambah penghasilan masyarakat kampung nelayan tersebut. Inilah salah satu khas yang dicari pengunjung saat berwisata di Ujong Pie Laweung.

Memang, lanjutnya, hadirnya Halimah di hari biasa (bukan musim libur) , karena ingin bersantai di siang hari hingga jelang sore hari. Halimah sendiri datang dari Sigli bersama suami dan anaknya sekadar untuk menikmati ikan segar itu.
Selain objek jembatan dermaga kapal nelayan, pengunjung juga dapat bermain dan berolahraga. Bagi pengunjung yang membawa anak-anak juga dapat mandi di tepi pantai sambil menunggu waktu senja.
Dengan gelombang air laut yang bersahabat, wisatawan juga bisa mandi bersama keluarga dan sanak keluarga. Namun, jika mandi-mandi, tetaplah berlaku sopan, sebab warga setempat masih sangat kental dengan ajaran agama. Terlebih lagi Aceh merupakan daerah yang menerapkan Syariat Islam.
Kampung Ujong Pie berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Untuk mencapai kampung nelayan ini, pengunjung harus melalui sebuah jalan sempit di samping sebuah sekolah. Meski berada di pinggir pantai, kampung ini lebih menarik, terutama pada sore hari.
Di kampung nelayan Ujong Pie hanya ada satu dermaga yang baru selesai dibangun oleh pemerintah setempat. Dermaga itu menurut warga setempat, sudah lama sekali dibangun.
Dengan adanya dermaga ini, banyak warga sekitar atau pengunjung dari luar memanfaatkannya sebagai lokasi memancing. Sembari memancing, kita bisa menikmati potensi laut yang indah.
“Kalau saya ke sini yang saya cari selain ikan, dan wisata pantai yang indah, dan ada juga makanan mie yang menggugah selera. Penanganannya biasa saja tapi rasanya bikin teringat terus,” sebut Arman, warga Lhokseumawe.
Jika di tempat lain, mi Aceh disajikan dengan kepiting, udang dan daging, di Ujung Pie disajikan dengan campuran ikan tongkol segar. Para pengunjung, langsung bisa membeli ikan segar yang baru ditangkap nelayan sebagai bahan untuk menikmati ikan segar.
Mi ikan tongkol Ujung Pie sungguh nikmat, maka tak heran banyak orang yang khusus datang ke sana hanya ingin menyantap makanan khas Aceh itu. Sedangkan nelayan di sana hanya berharap kepada pemerintah untuk terus melestarikan Ujong Pie Laweung sebagai destinasi wisata.
Dan yang tak kalah menariknya, nelayan Ujong Pie Laweung meminta pemerintah tetap menjaga pendistribusian bahan bakar minyak agar mereka mudah melaut untuk mencari nafkah bagi keluarganya. (***)







