Banda Aceh, FR – Suasana Ahad siang di sebuah masjid di Banda Aceh berlangsung khusyuk. Usai menunaikan shalat, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Muallem, keluar dari serambi masjid. Di halaman, tampak seorang pedagang es krim sederhana dengan motor berplat BK (Sumatera Utara) menjajakan dagangannya.
Tanpa basa-basi, Muallem mendekat. Bukannya menyinggung soal plat nomor, ia malah memesan es krim dengan senyum ramah. Tak ada tanya soal pajak, tak ada teguran tentang kendaraan. Yang ada hanya obrolan ringan soal rasa es krim di tengah teriknya siang Banda Aceh.
Momen sederhana itu diabadikan warga dan segera viral di media sosial. Banyak yang mengaku awalnya menduga Muallem akan menegur pedagang karena kendaraan berplat BK. Namun dugaan itu terbantahkan. “Beliau cuma tanya soal es krim, bukan soal plat. Padahal pajaknya jelas mengalir ke Medan,” tulis seorang warganet disertai emoji tawa.
Gaya santai Muallem ini kontras dengan langkah Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang sempat menggulirkan wacana razia kendaraan berplat BL di Medan. Pernyataan Bobby menuai kritik karena dinilai berlebihan dan menimbulkan kesan arogan.
Sikap Muallem yang memilih menyejukkan publik lewat momen kecil ini seolah menjadi sindiran manis. Di Aceh sendiri, kendaraan berplat BK sudah sejak lama hilir mudik, bahkan banyak yang mencari nafkah tanpa pernah diganggu. Potret penjual es krim itu hanya salah satu bukti bahwa toleransi warga Aceh sudah berlangsung nyata.
Sebelumnya, Ketua Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, juga telah mengingatkan Bobby Nasution agar tidak berlagak preman dalam mengurus persoalan plat kendaraan. “Plat BK di Aceh sangat banyak. Tapi orang Aceh tidak pernah ribut. Jangan arogan,” tegas Sulaiman dalam sebuah rilis pers, Ahad (28/9/2025).
Komentar ini senada dengan reaksi publik di media sosial. Banyak warganet menilai Muallem telah menunjukkan kelas kepemimpinan yang menenangkan, jauh dari sikap reaktif. “Semoga Bobby melihat foto ini. Begini cara pemimpin menghadapi perbedaan, dengan kesejukan, bukan dengan razia,” tulis salah satu akun.
Es krim yang perlahan meleleh di tangan Muallem, bagi sebagian orang, kini bukan sekadar jajanan ringan. Ia berubah menjadi simbol kepemimpinan yang merangkul, bukan menegasi. Di balik kesederhanaan itu, tersirat pesan bahwa rakyat lebih membutuhkan kesejukan, rasa aman, dan kepastian hidup—ketimbang drama politik soal plat kendaraan. (MU)






