Forumrakyat.co.id|Banda Aceh – Departemen Sosial dan Politik Mahasiswa (Sospolma) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) melontarkan kritik tajam terhadap stagnasi kinerja BEM USK yang dinilai abai terhadap isu-isu mendasar di lingkungan kampus.
Dalam pernyataan resmi yang diterima Tempo, Kepala Departemen Sospolma BEM FISIP USK Ammar Malik Nabil menyebut bahwa BEM USK gagal menjalankan fungsi advokatif yang seharusnya menjadi prioritas utama.
“BEM USK tidak boleh larut dalam rutinitas program kerja formalistik dan pragmatisme kontestasi semata. Banyak isu mendasar yang luput dari perhatian,” tegasnya, Senin, 29 Juli 2025.
Salah satu isu yang disorot adalah kebijakan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tetap dibebankan kepada mahasiswa meskipun mereka sudah menyelesaikan sidang akhir.
“Aturan UKT pasca-yudisium ini jelas merugikan mahasiswa. Ironisnya, isu yang menyentuh hajat hidup mahasiswa ini tidak direspons secara serius oleh BEM USK,” ujarnya.
Ammar menambahkan, penyelesaian persoalan ini justru lebih banyak digerakkan oleh kelompok mahasiswa di luar BEM USK.
“Ke mana BEM USK untuk persoalan ini?” sindir Ammar.
Sospolma juga menilai lemahnya pendampingan BEM USK terhadap mahasiswa lintas fakultas yang melakukan gerakan advokasi terkait isu akademik dan sosial.
“Banyak kawan-kawan yang bergerak sendiri, tanpa dukungan moral maupun politik dari BEM USK,” kata Ammar.
Yang paling krusial, kata dia, adalah sikap BEM USK yang dinilai tumpul dalam menangani isu pelecehan seksual di kampus.
Ia menegaskan BEM harus berani menyerap dan mengadvokasi kasus kekerasan seksual hingga ke akar.
“Korban butuh ruang aman, bukan sikap netral yang justru menormalisasi kekerasan,” ujarnya.
Sospolma BEM FISIP USK mendesak agar BEM USK mereposisi dirinya sebagai lembaga perjuangan mahasiswa, bukan sekadar simbol kelembagaan.
“Jika tidak mampu membaca keresahan mahasiswa, tidak mampu mengadvokasi secara nyata, dan tidak menjaga kesejahteraan mahasiswa, maka keberadaan BEM USK patut dipertanyakan,” kata Ammar.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa USK membutuhkan representasi organisasi yang bekerja nyata, bukan hanya hadir dalam acara seremonial.








