Aceh Timur, FR – Di tengah perkembangan zaman, tradisi Peusijuek tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh Timur. Ritual adat ini melambangkan doa keselamatan, keberkahan, serta permohonan agar seseorang atau sebuah kegiatan diberi kelancaran oleh Allah SWT.
Peusijuek dilakukan dalam berbagai momen, seperti menyambut tamu, pernikahan, naik haji, menempati rumah baru, hingga saat memulai aktivitas baru seperti membuka usaha atau memanen sawah. Dengan menggunakan air tepung tawar, daun-daun tertentu, dan bacaan doa, prosesi peusijuek menghadirkan nuansa sakral yang kuat dalam adat Aceh.
Menurut Cut Rahmawati, warga Peureulak yang sering terlibat dalam berbagai acara adat, Peusijuek bukan sekadar ritual simbolik.
“Ini adalah cara orang Aceh mendoakan kebaikan. Peusijuek membuat suasana menjadi lebih teduh dan penuh harapan baik. Kami melakukannya sejak dulu dan sampai sekarang tetap hidup,” ungkapnya.
Cut Rahmawati menambahkan bahwa tradisi ini juga mempererat hubungan antarwarga.
“Setiap ada acara, kami saling membantu mempersiapkan perlengkapan peusijuek. Di situ terasa benar kekompakan masyarakat,” katanya.

Peralatan peusijuek seperti iyee seunijuek, ayam putih, beras kunyit, dan daun teurimong menjadi bagian khas yang selalu digunakan. Prosesi dipimpin oleh orang yang dituakan atau ahli adat, sebagai simbol hikmah dan doa yang tulus.
Kini, Peusijuek tidak hanya dilakukan dalam lingkup keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Aceh Timur yang terus diperkenalkan kepada generasi muda. Banyak sekolah, komunitas, hingga kelompok seni memasukkan peusijuek dalam acara penyambutan atau pembukaan kegiatan budaya.
Dengan kekayaan makna yang terkandung di dalamnya, Peusijuek tetap menjadi salah satu tradisi Aceh Timur yang paling dihormati, dijaga, dan diwariskan dari masa ke masa. [Adv]








