Forumrakyat.co.id |Aceh Barat : Di sudut Desa Alue Batee, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat, tersimpan kisah pilu yang luput dari perhatian. Sebuah keluarga kecil menjalani hari-hari dalam keterbatasan yang begitu memprihatinkan. Bahtiar Usman, seorang kepala keluarga, harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup dengan mengandalkan pekerjaan serabutan yang penghasilannya tak menentu.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Bahtiar tetap berusaha tegar. Ia hidup bersama istri dan anak-anaknya, termasuk seorang anak yang kini telah beranjak dewasa dan bahkan sudah bertunangan. Dalam waktu dekat, keluarga ini akan menyambut anggota baru. Namun ironisnya, hingga hari ini mereka belum memiliki rumah yang layak untuk ditempati.Tim Forum Rakyat yang berkunjung beberapa hari lalu menjadi saksi langsung kondisi tersebut. Kedatangan tim disambut hangat oleh Bahtiar dan keluarganya. Senyum ramah mereka seakan menutupi realita pahit yang harus dijalani setiap hari.
Saat memasuki rumah, suasana haru langsung terasa. Bangunan sederhana itu jauh dari kata layak. Di dalamnya, hanya terdapat satu tempat tidur beralaskan tikar seadanya. Tempat itu menjadi pusat aktivitas keluarga—mulai dari beristirahat hingga makan bersama.
“Di sinilah kami tidur, di sinilah kami makan,” ujar Bahtiar lirih.
Kondisi semakin memprihatinkan ketika tim melihat fasilitas sanitasi. Tidak ada kamar mandi maupun WC. Untuk kebutuhan air, keluarga ini hanya mengandalkan sumur tua di belakang rumah. Airnya berwarna hitam pekat dan tidak layak konsumsi.
“Kalau mandi dan ambil air, ya di situ saja,” kata Bahtiar sambil menunjuk ke arah sumur tersebut.
Gubuk yang mereka tempati tampak rapuh dimakan usia. Dinding dan atapnya sederhana, tidak mampu memberikan rasa aman maupun nyaman, terutama saat cuaca buruk melanda.
Saat ditanya mengenai upaya mendapatkan bantuan, Bahtiar mengaku pernah mengajukan permohonan ke Dinas Perumahan dan Permukiman sekitar setahun lalu. Ia bahkan menunjukkan arsip proposal lengkap dengan nomor tanda terima berkas. Namun hingga kini, belum ada kabar lanjutan mengenai bantuan tersebut.
“Sudah pernah kami urus, tapi belum ada hasil sampai sekarang,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Di balik segala keterbatasan, Bahtiar tidak meminta lebih. Ia hanya ingin satu hal sederhana—rumah yang layak untuk keluarganya.
“Kami berharap bisa dibantu rumah yang layak, supaya bisa hidup lebih baik seperti orang lain,” tuturnya.
Kisah keluarga Bahtiar menjadi potret nyata bahwa masih ada masyarakat yang hidup dalam kondisi memprihatinkan, jauh dari standar kelayakan hidup. Perhatian dan kepedulian dari pemerintah serta berbagai pihak sangat diharapkan, agar keluarga ini dapat merasakan kehidupan yang lebih manusiawi.
Di tengah gubuk reot yang hampir roboh, harapan itu masih ada—meski perlahan mulai memudar.
(Zaini Dahlan / Forum Rakyat)






