Dr Dicky Wirianto Bawa Perspektif Tasawuf Aceh ke Forum Akademik USIM

oleh
oleh

BANDA ACEH, FR Ketua STAI Nusantara Banda Aceh, Dr. Dicky Wirianto, M.A., mempresentasikan kajian mengenai integrasi tasawuf dan moderasi beragama dalam Symposium on the Issues of the Quran and Sunnah (SIQAS 2/2026) yang digelar Faculty of Quranic and Sunnah Studies (FPQS), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Simposium tersebut berlangsung secara daring melalui Microsoft Teams, Rabu (23/9/2026), dan diikuti akademisi, peneliti serta peserta dari berbagai negara.

Dalam forum akademik tersebut, Dicky mengangkat tema “Reframing Sufism as a Framework for Religious Moderation: The MPTT-I Experience in Aceh, Indonesia.”

Kajian itu membahas posisi tasawuf sebagai salah satu pendekatan dalam membangun moderasi beragama dengan mengambil pengalaman Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) di Aceh sebagai objek kajian.

Dalam paparannya, tasawuf tidak hanya ditempatkan sebagai dimensi spiritual individu, tetapi juga dikaitkan dengan pembentukan akhlak, keseimbangan dalam beragama, toleransi, pengendalian diri, serta kehidupan sosial yang harmonis.

Soroti Relasi Keilmuan Aceh-Malaysia

Partisipasi Dicky dalam forum akademik USIM turut mempertemukan konteks keilmuan dengan hubungan historis Aceh dan Malaysia.

Kedua wilayah memiliki hubungan panjang dalam bidang agama, budaya, bahasa, tradisi keilmuan dan hubungan antarmasyarakat. Jaringan ulama, perdagangan, pendidikan Islam serta pertukaran masyarakat telah menjadi bagian dari sejarah interaksi kedua kawasan.

Kedekatan sebagai masyarakat serumpun tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi dan penelitian.

Dalam presentasinya, Dicky juga menekankan pentingnya metodologi dalam penelitian mengenai tasawuf, Al-Qur’an, Sunnah dan fenomena keberagamaan.

Menurutnya, metodologi menjadi bagian penting untuk memastikan data, argumentasi, interpretasi dan temuan penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Karena itu, pengembangan studi Islam perlu mempertemukan sumber-sumber naqli dengan pendekatan aqli, disertai metodologi penelitian yang sesuai dengan objek serta pertanyaan penelitian.

Dalam konteks tersebut, kajian mengenai MPTT-I juga dikaitkan dengan kerangka epistemologis USIM yang menekankan integrasi naqli dan aqli serta hubungan antara tauhid, Al-Qur’an dan Sunnah, ilmu pengetahuan dan akhlak.

Dorong Riset Kolaboratif Indonesia-Malaysia

Keikutsertaan dalam SIQAS 2/2026 diharapkan tidak berhenti pada presentasi dan pertukaran gagasan. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk membuka peluang kolaborasi penelitian antara lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dan Malaysia.

Dicky berharap hubungan akademik yang terbangun melalui forum internasional dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih konkret.

“Ke depan, kita berharap dapat membangun lebih banyak riset kolaboratif antarlembaga, khususnya antara institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan Malaysia. Kedekatan historis dan budaya sebagai masyarakat serumpun merupakan modal penting untuk membangun kerja sama keilmuan yang lebih kuat,” kata Dicky.

Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan penelitian yang kuat secara metodologis dan relevan secara akademik, sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan kajian Al-Qur’an, Sunnah, tasawuf, moderasi beragama dan kehidupan masyarakat.

Partisipasi dalam SIQAS 2/2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik Aceh-Malaysia sekaligus membawa perspektif keislaman dari Aceh ke ruang dialog akademik internasional. []

No More Posts Available.

No more pages to load.